Survei: Nyaris 60 Persen Warga Tolak Olimpiade Tokyo 2021

Oleh Tommy Kurnia pada 18 Mei 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 18 Mei 2021, 10:36 WIB
Warna-warni Cahaya Olimpiade 2021 Membalut Tokyo
Perbesar
Menara Tokyo, bangunan tertinggi kedua di Jepang dengan ketinggian 332,9 meter, tampak diterangi warna-warni cahaya Olimpiade untuk menandai 100 hari jelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, pada 14 April 2021. (Charly TRIBALLEAU / AFP)

Liputan6.com, Tokyo - Survei terbaru menunjukkan 59,7 persen warga Jepang ingin Olimpiade Tokyo 2021 batal. Pandangan ini mencuat di tengah lonjakan kasus COVID-19 di Jepang. 

Dilansir Kyodo, Senin (17/5/2021), ada 25,2 persen yang ingin Olimpiade Tokyo 2021 tetap digelar, namun tanpa penonton. Sementara, 12,6 persen mendukung acara gelar dengan penonton terbatas.

Mayoritas responden, yakni 87,7 persen, khawatir kedatangan atlet dan staf dari luar negeri dapat menyebarkan virus.

Survei dilaksanakan melalui telepon pada akhir pekan lalu. Hasil itu mencerminkan meningkatnya rasa skeptis untuk menggelar Olimpiade yang ditunda sejak tahun lalu akibat COVID-19.

Pada survei April lalu, 39,2 persen meminta Olimpiade Tokyo seharusnya dibatalkan, sementara 32,8 persen meminta acaranya dijadwalkan ulang. Hanya 24,5 persen yang mendukung acara tetap digelar.

Rencananya, Olimpiade Tokyo akan digelar pada 23 Juli 2021. Paralimpiade akan digelar sebulan kemudian pada 24 Agustus 2021.

Saat ini, ada sembilan prefektur di Tokyo yang menerapkan situasi darurat COVID-19 hingga 31 Mei 2021.

Berdasarkan data terkini Johns Hopkins University, ada 688 ribu kasus COVID-19 di Jepang. Pasien meninggal mencapai 11 ribu orang.

2 dari 4 halaman

Status Darurat COVID-19 di Hokkaido hingga Hiroshima

Warna-warni Cahaya Olimpiade 2021 Membalut Tokyo
Perbesar
Gambar hitungan mundur menunjukkan angka 100 hari jelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 ditampilkan di Tokyo Skytree yang menyala di Tokyo, Jepang, pada 14 April 2021. (Kazuhiro NOGI / AFP)

Jepang akan mengumumkan status darurat COVID-19 di tiga prefektur yang dilanda pandemi Virus Corona.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Ekonomi Jepang, Yasutoshi Nishimura, pada Jumat (14/5). 

Hokkaido, Okayama dan Hiroshima pada Minggu (16/5) akan bergabung dengan Tokyo, Osaka, dan empat prefektur lainnya dalam status darurat hingga 31 Mei 2021, kata Nishimura, yang juga bertanggung jawab atas penanggulangan COVID-19 di Jepang.

Pemerintah Jepang awalnya mengusulkan deklarasi "semi-darurat" yang lebih bertarget untuk lima prefektur tambahan.

"Ada berbagai pandangan yang diungkapkan dalam pertemuan (dengan para ahli)," kata Nishimura kepada wartawan usai menghadiri sebuah pertemuan pemerintahan.

"Berdasarkan pandangan itu, kami mencabut proposal awal kami dan membuat proposal baru dan mendapat persetujuan untuk itu," terangnya, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat (14/5/2021).

Sementara itu, tiga prefektur akan ditambahkan ke deklarasi status darurat yang lebih rendah seperti yang direncanakan.

Status darurat yang meningkat diumumkan ketika Jepang berjuang menghadapi kasus-kasus COVID-19 yang lebih menular - 10 pekan sebelum Olimpiade Tokyo dimulai.

Dengan langkah-langkah terbaru, 19 dari 47 prefektur Jepang yang mencakup sekitar 70 persen populasinya akan berada di bawah batasan yang mencakup penutupan restoran pada pukul 8 malam dan larangan alkohol di bar dan restoran.

 

3 dari 4 halaman

Infografis COVID-19:

Infografis Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran
Perbesar
Infografis Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓