Temuan Jenazah di Sungai Gangga Picu Pertanyaan Jumlah Kematian COVID-19 di India

Oleh Liputan6.com pada 12 Mei 2021, 17:42 WIB
Diperbarui 12 Mei 2021, 17:42 WIB
Puluhan juta umat Hindu berkumpul di Festival Kumbh Mela yang digelar di tepi Sungai Gangga, India, selama 48 hari (AP Photo)
Perbesar
Puluhan juta umat Hindu berkumpul di Festival Kumbh Mela yang digelar di tepi Sungai Gangga, India, selama 48 hari (AP Photo)

Liputan6.com, New Delhi - Pihak berwenang di India, Selasa (11/5) mengatakan belum menentukan penyebab kematian puluhan orang yang jenazahnya ditemukan di Sungai Gangga.

Pejabat di negara bagian Bihar mengatakan, 71 jenazah ditemukan Senin (10/5).

Sementara pejabat di negara bagian tetangganya, Uttar Pradesh, India mengatakan telah menemukan sekitar 100 jenazah, sebagian ditemukan Selasa, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (12/5/2021).

Gambar jenazah yang mengambang di sungai memicu kemarahan dan spekulasi bahwa mereka meninggal karena COVID-19, yang melonjak di seluruh negara yang terletak di Asia Selatan itu dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada di tempat-tempat lain di dunia.

Beberapa pakar medis prihatin virus corona bisa menyebar melalui air sungai yang terkontaminasi.

"Meskipun tidak ada penelitian global mengenai apakah virus bisa menyebar melalui jenazah di air, saya sangat yakin air sekarang tercemar," kata Dr. Mohsin Wali.

"Tidak baik lagi untuk diminum dan kalau jenazah ini membusuk, akan lebih berbahaya."

Pihak berwenang India melakukan otopsi namun belum bisa memastikan penyebab kematian karena jenazah-jenazah itu telah membusuk.

 

2 dari 3 halaman

PM Modi Tak Hadiri Pertemuan G7

Donald Trump Undang PM India ke Gedung Putih
Perbesar
PM Narendra Modi (MONEY SHARMA / AFP)

India, menurut Universitas Johns Hopkins, Selasa mencatat hampir 330.000 kasus baru dan 3.867 kematian terkait virus corona.

India memiliki jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi kedua di seluruh dunia dengan hampir 23 juta kasus dan angka kematian tertinggi ketiga dengan hampir 250.000, meskipun para ahli mengatakan angka sebenarnya hampir dipastikan jauh lebih tinggi.

Kementerian Luar Negeri India, Selasa, mengatakan lonjakan itu telah mendorong Perdana Menteri Narendra Modi membatalkan perjalanan ke Inggris untuk menghadiri KTT G7 bulan depan.

Modi sebelumnya dikecam karena mengizinkan pertemuan besar-besaran pada festival keagamaan dan mengadakan kampanye pemilu besar-besaran selama dua bulan terakhir meskipun infeksi meningkat tajam.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓