Masjid di Pakistan Tetap Buka Meski Ada Ancaman Gelombang Ketiga COVID-19

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 07 Mei 2021, 14:03 WIB
Diperbarui 07 Mei 2021, 14:03 WIB
Muslim Pakistan Melakukan Iktikaf di Masjid
Perbesar
Pria Muslim (kiri) membaca Alquran saat beritikaf di Masjid Agung Faisal di Islamabad, Pakistan, Kamis (14/5/2020). Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. (Aamir QURESHI/AFP)

Liputan6.com, Islamabad - Meski sudah terlihat ancaman gelombang ketiga COVID-19, sejumlah tempat ibadah, seperti masjid masih dibuka dan didatangi para jemaah Pakistan.

Cemas atas amukan mematikan Virus Corona COVID-19 di negara tetangga India, para pejabat Pakistan terus memperketat pembatasan dan melarang perjalanan selama liburan Idul Fitri mendatang, yang menandai akhir bulan suci Ramadhan.

Tetapi mereka menutup mata terhadap pertemuan keagamaan, khawatir tindakan keras dapat memicu konfrontasi yang meluas di republik Islam yang sangat konservatif itu.

"Ada begitu banyak kekhawatiran tentang reaksi dari kelompok-kelompok agama," kata Saeedullah Shah, seorang dokter di gugus tugas Asosiasi Medis Islam Pakistan COVID-19.

"Ini pemerintah yang sangat lemah," katanya kepada AFP. "Semuanya setengah hati."

Pakistan telah mencatat lebih dari 840.000 kasus dan 18.500 kematian, tetapi dengan pengujian terbatas dan sektor kesehatan yang bobrok, banyak yang khawatir tingkat penyakit yang sebenarnya jauh lebih buruk.

2 dari 3 halaman

Kondisi RS di Pakistan

Momen Lansia di Pakistan Mulai Divaksinasi Covid-19
Perbesar
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin virus Corona Sinopharm kepada warga lanjut usia (lansia) di pusat vaksinasi di Islamabad, Pakistan, Rabu (10/3/2021). Pakistan telah mulai memvaksinasi orang yang berusia 60 tahun ke atas untuk melindungi mereka dari COVID-19. (Aamir QURESHI/AFP)

Bangsal COVID-19 di beberapa kota telah penuh atau hampir berkapasitas selama berminggu-minggu karena varian virus yang lebih menular telah mendorong kasus ke angka rekor.

Tetapi, ketika pemerintah memohon kepada masyarakat untuk mengikuti "prosedur operasi standar", sebagaimana pedoman virus yang dikenal secara nasional, masjid malah menjadi 'negara lain'.

Maulana Muhammad Iqbal Rizvi - yang mengawasi masjid bersejarah Markazi Jamia di kota garnisun Rawalpindi - mengatakan, umat beriman tidak perlu takut, dan menolak membandingkan dengan India.

"Doa kami berbeda," katanya, dan bersikeras pembatasan diberlakukan setidaknya di bawah pengawasannya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓