Atlet Angkat Besi Selandia Baru Ini Akan Jadi Transgender Pertama di Olimpiade

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 06 Mei 2021, 17:02 WIB
Diperbarui 06 Mei 2021, 17:02 WIB
Atlet angkat besi asal Selandia Baru, Lauren Hubbard. (Photo credit: Adrian Dennis/AFP/File)
Perbesar
Atlet angkat besi asal Selandia Baru, Lauren Hubbard. (Photo credit: Adrian Dennis/AFP/File)

Liputan6.com, Wellington - Atlet angkat besi asal Selandia Baru, Laurel Hubbard akan menjadi atlet transgender pertama yang berkompetisi di Olimpiade, yang akan digelar di Tokyo, Jepang.

Hubbard (43), yang lahir sebagai laki-laki dan kemudian mengubah gendernya menjadi perempuan di usia 30-an.

Pada Olimpiade Tokyo atlet Selandia Baru itu berencana mengikuti kategori perempuan +87kg. Saat ini, Hubbard berada di peringkat ke-16 dunia.

Hubbard sudah tercatat dalam buku sejarah setelah menjadi atlet transgender Commonwealth Games pertama di Gold Coast pada 2018 lalu, namun sayangnya ia harus mundur setelah menderita cedera siku yang hampir mengakhiri kariernya.

Sementara tim Selandia Baru belum disebutkan namanya, para pejabat mengatakan bahwa Hubbard kemungkinan memenuhi kriteria kualifikasi baru yang telah disederhanakan oleh Federasi Angkat Besi Internasional karena pandemi COVID-19.

"NZOC dapat mengonfirmasi bahwa sistem kualifikasi federasi internasional (IF) yang direvisi sangat mungkin melihat sejumlah atlet angkat besi Selandia Baru, termasuk atlet transgender Commonwealth Games Laurel Hubbard, mengalokasikan tempat kuota IF untuk Tokyo 2020," kata Komite Olimpiade Selandia Baru (NZOC), seperti dilansir AFP, Kamis (6/5/2021).

NZOC sangat mendukung hak Hubbard untuk bertanding, dan mengatakan semua atlet yang dipilih untuk Tokyo akan menerima dukungannya.

"Tim Selandia Baru memiliki budaya manaaki (kepedulian) yang kuat, inklusi, dan rasa hormat untuk semua," ujar NZOC.

2 dari 4 halaman

Perjuangan dalam Mendapat Kesempatan Berkompetisi

Warna-warni Cahaya Olimpiade 2021 Membalut Tokyo
Perbesar
Menara Tokyo, bangunan tertinggi kedua di Jepang dengan ketinggian 332,9 meter, tampak diterangi warna-warni cahaya Olimpiade untuk menandai 100 hari jelang pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, pada 14 April 2021. (Charly TRIBALLEAU / AFP)

Di tengah perjuangannya untuk berkompetisi, Hubbard menghadapi sejumlah tantangan dalam dunia olahraga.

Federasi Angkat Besi Australia gagal mencoba melarang Hubbard mengikuti ajang olahraga di Gold Coast pada 2018.

Hubbard pada saat itu dilarang berpartisipasi karena memiliki keunggulan fisik dibandingkan atlet perempuan, terlepas dari kadar testosteronnya.

"Dalam pandangan kami yang terhormat, kriteria saat ini dan penerapannya berpotensi merendahkan atlet angkat besi perempuan dan mencegah mereka mengejar olahraga di tingkat elit di masa depan," kata pihak penyelenggara kompetisi tersebut.

Hubbard jarang memberikan wawancara tetapi mengatakan kepada Radio New Zealand pada 2017, bahwa dia hanya ingin berkompetisi dalam olahraga yang dia sukai dan mengesampingkan kritik.

"Jika saya mencoba dan mengambil beban itu, itu hanya membuatnya lebih sulit. Saya adalah diri saya yang sebenarnya," kata Hubbard.

"Saya tidak ingin mengubah dunia. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dan melakukan apa yang saya suka," tuturnya.

3 dari 4 halaman

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker

Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker
Perbesar
Infografis Jangan Anggap Remeh Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓