Studi Baru Kuak MH30 Jatuh di Bagian Barat Antara Indonesia dan Samudera Hindia

pada 06 Mei 2021, 15:22 WIB
Diperbarui 06 Mei 2021, 15:22 WIB
Gambar 3 dimensi dasar laut Samudera Hindia, titik pencarian MH370
Perbesar
Gambar 3 dimensi dasar laut Samudera Hindia, titik pencarian MH370 (Australian Transport Safety Bureau)

Jakarta - 8 Maret 2014 tragedi terjadi di udara. Pesawat Malaysia Airlines MH370 hilang dari radar. Hilang tanpa jejak.

Tujuh tahun sudah pesawat Malaysia Airlines MH370 tak ada yang tahu di mana dan mengapa kapal terbang yang membawa 239 orang itu menemui nasib tragisnya.

Belakangan mengemuka hasil penelitian terbaru terkait 'jalur palsu' yang digunakan oleh pilot MH370. Zaharie Ahmad Shah diduga sengaja membuat serangkaian jalur berbeda untuk menghindari deteksi, lalu menerbangkan pesawat yang dikemudikannya jatuh ke Samudera Hindia pada 8 Maret 2014.

Kesimpulan penelitian terbaru itu, seperti dikutip dari ABC Austraia, Kamis (6/5/2021), didapat dari penggunaan teknologi baru untuk melacak pergerakan pesawat.

Penelitian tersebut juga menguak bahwa Pilot Zaharie membuat beberapa kali perubahan arah dan juga perubahan kecepatan pesawat untuk menghindari jalur penerbangan komersial biasa. Lalu meninggalkan 'jalur palsu' sebelum pesawat jatuh di daerah bagian barat antara Indonesia dan Lautan India.

Insinyur penerbangan Richard Godfrey, salah satu anggota Kelompok Ilmuwan Independen yang dibentuk guna menemukan misteri hilangnya MH370 buka suara terkait pesawat nahas tersebut. Ia mengatakan bisa menggunakan data pencarian jejak pesawat secara global dengan menggunakan sinyal radio lemah yang ada di seluruh Bumi yang dikenal dengan isilah WSPR.

Pilot Aktif

Foto Teknisi Pesawat MH370 Mohd Khairul Amri Selamat yang ditunjukkan sang ayah (Bernama)

Menurut Richard Godfrey, perubahan jalur dan juga kecepatan yang dilakukan berulang kali menunjukkan bahwa adanya pilot yang aktif selama penerbangan.

"Perubahan yang ada melebihi tingkat perubahan yang biasanya terjadi bila pesawat dalam kendala otomatis," katanya.

"Tingkat perubahan jalur dalam perencanaannya menunjukkan bahwa yang melakukannya ingin memastikan bahwa rencana rumit itu terlaksana sampai akhir."

Menurut Godfrey, ada lebih dari 5 ribu stadion rado WSPR di seluruh dunia.

Di malam hilangnya MH370 ada sekitar '518 transmisi unik yang berseliweran di daerah sekitar Malaysia, Selat Malaka, dan Lautan India."

"Dengan data WSPR ini tersedia tiap dua menit, dan bisa digunakan untuk membandingkan dengan data satelit maka akan memungkinkan untuk melacak Mh370 dari dua sumber independen," kata Godfrey.

Pesawat Malaysia Airlines ini menghilang dalam penerbangan malam dari Kuala Lumpur ke Beijing dengan 239 orang di dalamnya.

Dua pencarian untuk MH370, satu dikoordinasi oleh Australia, dan yang kedua oleh Malaysia sudah melakukan pencarian di wilayah yang luas di Lautan India bagian selayan, namun sejauh ini tidak berhasil menemukan bangkai pesawat.

Penyelidik: Pilot Berencana

[INFOGRAFIS] Ada Apa Dengan Malaysia Airlines MH370?
Perbesar
Ada apa dengan Malaysia Airlines MH370 dan 239 orang di dalamnya?

Richard Godfrey yang dipandang sebagai salah seorang penyelidik paling paham mengenai hilangnya MH370 menggunakan sistem pelacakan pesawat sendiri ciptaannya yang dinamakan GDTAAA. Sistem tersebut menganalisa sinyal WSPR setiap dua menit, di masa pesawat MH370 berada di udara di bulan Maret 2014.

Menurut analisanya merujuk ke lokasi kejatuhan di posisi 34,5 derajat selatan, barat daya dari Australia Barat, dekat dengan garis imajiner yang dikenal dengan sebutan 'lengkung ketujuh'.

Penemuan ini pada dasarnya konsisten dengan analisa dengan data satelit sebelumnya dan lokasi ditemukannya beberapa potongan pesawat, yang menunjukkan bahwa pesawat itu jatuh ke Lautan India bagian selatan.

Namun yang baru diungkapkan oleh penelitian Godfrey adalah bahwa pilot sudah mengubah jalur penerbangan dan juga kecepatan pesawat beberapa kali. Tujuannya untuk mengelabui ke mana arah sebenarnya perjalanan pesawat tersebut.

"Pilot MH370 pada umumnya mencoba menghindari jalut resmi mulai jam 18:00, dan menggunakan jalur tidak resmi di Selat Malaka, di sekitar Sumatra dan melintas Lautan India," katanya.

"Jalur ini mengikuti pesisir pantai Sumatra dan terbang dekat dengan Bandara Banda Aceh."

"Pilot tampaknya memiliki pengetahuan mengenai jam beroperasinya radar di Sabang dan Lhokseumawe dan di malam di akhir pekan, di mana situasi internasional tidak genting sama sekali, radar tidak akan berfungsi sama sekali."

Godfrey mengungkap, bila kemudian pesawat tersebut terdeteksi, maka 'pilot juga menghindar untuk menunjukkan ke arah mana dia mengarah dengan menggunakan jalur penerbangan di mana terjadi beberapa kali perubahan arah.

"Perubahan ini termasuk jalur menuju Kepulauan Andaman, ke arah Afrika Selatan, ke Jawa, ke posisi 2°Selatan 92° Timur (Wilayah Informasi Penerbangan Jakarta, Colombo, dan Melbourne bertemu) dan juga ke arah Kepulauan Cocos." papar Godfrey.

"Dan setelah berada di luar jangkauan pesawat lain di pukul 20:30 UTC, pilot mengubah lagi kalur dan bergerak menuju ke selatan. Jalur penerbangan ini tampaknya sudah direncakan dengan baik." 

Saksikan Juga Video Ini:

Lanjutkan Membaca ↓