Dubes Olivier Chambard Yakin Indonesia-Prancis Punya Persepsi yang Sama Soal Perubahan Iklim

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 03 Mei 2021, 16:04 WIB
Diperbarui 03 Mei 2021, 16:04 WIB
Ilustrasi bendera Prancis (AFP/Ludovic Marin)
Perbesar
Ilustrasi bendera Prancis (AFP/Ludovic Marin)

Liputan6.com, Jakarta - Duta Besat Prancis untuk Republik Indonesia, Olivier Chambard menyampaikan dukungan dan seruannya tentang kerja sama Prancis-Indonesia dalam menanggapi perubahan iklim

Dubes Olivier Chambard mengatakan bahwa Indonesia dan Prancis memiliki kerja sama yang baik, dan diharapkan akan semakin erat. 

"Kami bekerja sama dengan Indonesia di semua bagian internasional. Indonesia bagian dari Perjanjian Paris (tentang perubahan iklim) dan dalam hal ini, kami banyak bertukar kerja sama," kata Dubes Prancis Olivier Chambard dalam acara tanya jawab Europe Day 2021 yang digelar oleh FPCI pada Senin (3/5/2021).

Meski krisis pandemi COVID-19 masih berlangsung, Dubes Olivier meyakini, bahwa Prancis-Indonesia memiliki "pandangan yang sama, kecemasan yang sama tentang apa yang bisa terjadi jika tidak bereaksi dengan cepat" dalam isu perubahan iklim.

"Indonesia adalah salah satu negara yang terdampak dari perubahan iklim. Hal itu dapat kita lihat dengan mudah setiap hari di banyak bagian di Indonesia, jadi ini adalah pertanyaan yang penting bagi Indonesia, juga Prancis, dan negara-negara eropa," ujarnya.

"Saya pikir banyak tujuan bagi kita adalah menemukan cara melakukan yang terbaik, dan membantu negara-negara untuk menanggapi, " lanjut Dubes Olivier.

Namun, ia pun juga menyampaikan bahwa mencegah perubahan iklim pun bukan hal yang mudah, dan harus dilakukan dengan adaptasi.

"Untuk melawan perubahan iklim kita harus beradaptasi, mengubah sebagian ekonomi, bagian dari sistem industri, jadi tentunya tidak mudah. Tetapi kami (Prancis-Indonesia) memiliki pendekatan yang sama dan bekerja sama dengan sangat baik," tuturnya.

2 dari 4 halaman

Ketua FPCI Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim Sudah Terjadi di Indonesia

FOTO: Ada Larangan Mudik, Jalan Tol Dibatasi Mulai 24 April 2020
Perbesar
Sejumlah kendaraan melintasi ruas Tol Jagorawi, Jakarta, Rabu (22/4/2020). Mulai 24 April 2020, pemerintah akan memberikan sanksi bagi warga yang nekat keluar masuk wilayah Jabodetabek dan wilayah zona merah virus corona COVID-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menjelaskan bagaimana masyarakat bisa memahami urgensi dari perubahan iklim.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI (Wamenlu) tersebut, menyebutkan bencana yang terjadi di NTT baru-baru ini sebagai salah satu gejala dari perubahan iklim.

"Melihat apa yang terjadi di Indonesia Timur dengan adanya badai topan siklon seroja, ini pertama kalinya siklon yang biasanya ada di laut kemudian pindah ke daratan, dan mengakibatkan kerusakan yang luar biasa, korban jiwa, kerusakan materi, dan lain sebagainya," kata Dino Patti Djalal, dalam sesi live "Liputan Terkini Dari Berbagai Penjuru" yang digelar Liputan6.com pada 14 April 2021.

Dino Patti Djalal pun menyayangkan publik masih belum memahami bahwa bencana tersebut adalah dampak langsung dari perubahan iklim.

"Padahal ini sudah dinyatakan langsung oleh BMKG bahwa (bencana) itu adalah salah satu symptom dari perubahan iklim," jelasnya.

"Dan kita juga melihat sejak awal tahun ini sampai sekarang sudah ada sekitar hampir 300 bencana alam, dalam bentuk tanah longsor, hujan yang berlebihan, banjir dan lain sebagainya - hanya dalam waktu 3-4 bulan."

3 dari 4 halaman

Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19

Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓