Kuliah di New York, Mahasiswa Asal Indonesia Ceritakan Kasus Kekerasan di AS

Oleh Tommy Kurnia pada 30 Apr 2021, 09:02 WIB
Diperbarui 30 Apr 2021, 09:02 WIB
Surya Sahetapy
Perbesar
Surya Sahetapy. dok,instagram @suryasahetapy

Liputan6.com, Rochester - Aktivis disabilitas Surya Sahetapy sedang menuntut ilmu di Rochester, New York. Ia telah berada di Amerika Serikat selama tiga tahun terakhir dan mulai terbiasa dengan dinamika kehidupan sosial di sana, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa. 

Surya menjalani Ramadhan 2021 di tengah meningkatnya kasus kekerasan bernuansa rasis terhadap warga keturunan Asia di New York City. Ia turut mengikuti kabar mengenai kasus kriminal di AS, tetapi untungnya wilayah Rochester cukup jauh dari NYC.

"Selama saya tinggal di Rochester, itu saya lebih dekat ke Kanada, jadi untuk kasus seperti yang diceritakan itu tidak ada di sini, kalau kasus kriminal memang masih sering, hampir setiap bulan itu pasti ada kasus penembakan," ujar Surya dalam jumpa pers virtual bersama atamerica, Kamis (29/4/2021). 

Jarak antara Rochester dan NYC bisa mencapai enam jam. Dalam beberapa pekan terakhir, kasus kekerasan terhadap warga keturunan Asia di NYC meningkat pesat. Korbannya banyak dari kelompok wanita dan lansia. 

Anggota DPR dari New York, Grace Meng, menyebut warga Asia mulai takut jika anak-anak atau orang tua mereka keluar rumah.

Dalam memilih tempat tinggal, Surya mendapatkan rekomendasi dari teman-temannya di New York agar ia bisa menghindari wilayah berisiko. Kota Rochester juga bukanlah kota metropolitan, namun lokasinya lebih sepi. 

"Di Rochester ini sepi, bukan kota, tapi sangat sepi karena Rochester ini emang khusus untuk kota pelajar," jelas Surya. 

2 dari 3 halaman

Lebih Inklusif

Total Kasus COVID-19 di AS Tembus 16 Juta
Perbesar
Para pejalan kaki melintas di Times Square New York, Amerika Serikat (AS) (12/12/2020). Total kasus COVID-19 di AS menembus angka 16 juta pada Sabtu (12/12), menurut Center for Systems Science and Engineering (CSSE) di Universitas Johns Hopkins. (Xinhua/Michael Nagle)

Satu hal yang membuat Surya merasa aman di AS adalah kebijakan yang inklusif terhadap penyandang disabilitas. Ini juga tercermin dari pelayanan 911 yang punya ahli bahasa isyarat. 

Surya berkata layanan kepolisian memiliki ahli bahasa isyarat, sehingga memudahkan mencari pertolongan, sehingga ia merasa lebih aman. Ia pun berharap agar Indonesia dapat melakukan hal serupa.

"Saya harap Indonesia bisa mengadopsi teknologi di AS, sehingga teman-teman bisa nyaman tinggal di Indonesia tanpa hambatan sama sekali," jelasnya.

Hal lain yang diapresiasi Ray adalah KJRI New York dan Kedutaan Besar di AS juga mengikuti kebijakan di AS sehingga memiliki layanan ramah disabilitas. 

"Di KJRI atau Duta Besar ini kan mengikuti aturan Amerika, jadi kita merasakan akses seperti kalau menelepon mendapat layanan KJRI atau meminta visa dan lain-lain saya bisa telepon dan ada layanan bahasa isyarat," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓