Kebakaran RS COVID-19 di Irak Diduga Disebabkan Ledakan Tabung Oksigen

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 26 Apr 2021, 10:30 WIB
Diperbarui 26 Apr 2021, 12:18 WIB
Dalam gambar yang dibuat dari video ini, responden pertama bekerja di lokasi kebakaran rumah sakit di Baghdad pada 24 April 2021. (Foto: AP)
Perbesar
Dalam gambar yang dibuat dari video ini, responden pertama bekerja di lokasi kebakaran rumah sakit di Baghdad pada 24 April 2021. (Foto: AP)

Liputan6.com, Jakarta -  Korban tewas akibat kebakaran besar di rumah sakit ibu kota Irak, Baghdad untuk pasien virus corona naik menjadi setidaknya 82 pada Minggu (25/4) ketika keluarga yang cemas mencari kerabat yang hilang dan pemerintah menangguhkan pejabat kesehatan utama karena dugaan kelalaian.

Api, yang digambarkan oleh seorang saksi sebagai "gunung berapi api", menyapu unit perawatan intensif Rumah Sakit Ibn al-Khatib, yang cenderung khusus untuk pasien COVID-19 dengan gejala parah. 

Melansir Channel News Asia, Senin (26/4/2021), para pejabat mengatakan kobaran api, yang juga melukai 110 orang, dipicu oleh tabung oksigen yang meledak. 

Perawat Maher Ahmed dipanggil ke tempat kejadian pada Sabtu malam untuk membantu mengevakuasi pasien.

“Saya tidak bisa membayangkan akan terjadi kebakaran besar seperti itu,” katanya. 

Api membanjiri ruang isolasi lantai dua rumah sakit dalam waktu tiga hingga empat menit setelah tabung oksigen meledak, katanya. 

Kebanyakan dari mereka yang tewas menderita luka bakar parah, katanya.

Ahmed mengatakan para pasien tidak bisa dipindahkan, padahal mereka hanya punya waktu beberapa menit untuk hidup tanpa oksigen.

2 dari 2 halaman

Penyebabnya Kelalaian

Ilustrasi Kebakaran. (Freepik/ArthurHidden)
Perbesar
Ilustrasi Kebakaran. (Freepik/ArthurHidden)

Kelalaian yang meluas di pihak pejabat kesehatan adalah penyebab kebakaran, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi mengatakan pada Minggu (25/4). 

Menyusul rapat kabinet khusus untuk membahas kebakaran, pemerintah menangguhkan pejabat penting, termasuk menteri kesehatan dan gubernur provinsi Baghdad. Pejabat lain, termasuk direktur rumah sakit, diberhentikan dari jabatannya.

Di antara korban tewas setidaknya 28 pasien menggunakan ventilator, tweet Ali al-Bayati, juru bicara Komisi Hak Asasi Manusia independen negara itu, sebuah badan semi-resmi.

Paramedis membawa jasad tersebut namun banyak di antara mereka yang terbakar tanpa bisa dikenali, ke Rumah Sakit al-Zafaraniya. Ahmed mengatakan rumah sakit tersebut akan menjadi tempat di mana tim forensik berusaha mengidentifikasi mereka dengan mencocokkan sampel DNA dengan kerabat.

Lanjutkan Membaca ↓