Presiden China Xi Jinping Serukan Pemerintahan Global yang Adil

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 21 Apr 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 21 Apr 2021, 12:42 WIB
Dalam lawatannya ke Indonesia pada 2-3 Oktober 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 atau 21st Century Maritime Silk Road
Perbesar
Dalam lawatannya ke Indonesia pada 2-3 Oktober 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 atau 21st Century Maritime Silk Road

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Tiongkok Xi Jinping mengatakan pada Selasa (20/4) bahwa sistem pemerintahan global harus dibuat lebih adil dan bahwa aturan yang ditetapkan oleh satu negara atau beberapa negara tidak dapat diterapkan pada negara lain.

Xi mengatakan dalam pidato utamanya di Forum Boao tahunan untuk Asia bahwa dengan membangun penghalang dan mendorong pemisahan akan merugikan orang lain dan tidak menguntungkan siapa pun. Itu juga merupakan respons China terkait konferensi Davos. 

Melansir Channel News Asia, Selasa (20/4/2021), China telah lama menyerukan reformasi dalam pemerintahan global di mana perspektif dan nilai berbagai negara tercermin, termasuk negaranya sendiri, alih-alih beberapa negara besar.

Beijing telah berulang kali bentrok dengan pemangku kepentingan terbesar dalam pemerintahan dunia, khususnya Amerika Serikat, karena berbagai masalah mulai dari hak asasi manusia hingga pengaruh ekonomi China atas negara lain.

"Dunia menginginkan keadilan, bukan hegemoni," kata Xi.

"Sebuah negara besar harus terlihat seperti negara besar dengan menunjukkan bahwa ia memikul lebih banyak tanggung jawab," katanya, tanpa menyebut nama negara mana pun.

2 dari 3 halaman

AS dan Jepang Bahas China

Joe Biden, calon presiden AS penantang Donald Trump pada pemilu November 2020 mendatang.
Perbesar
Joe Biden, calon presiden AS penantang Donald Trump pada pemilu November 2020 mendatang. (AP Photo/Matt Rourke)

Presiden AS Joe Biden telah mengadakan pertemuan tatap muka pertama di Gedung Putih sejak menjabat dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dengan China sebagai agenda utama.

Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin mengatakan mereka "berbagi keprihatinan serius" tentang situasi hak asasi manusia di Hong Kong dan wilayah Xinjiang China, di mana Washington mengatakan Beijing melakukan genosida terhadap Muslim Uighur. 

China pun membantah pelanggaran tersebut. 

Dalam pertunjukan nyata kerja sama ekonomi AS-Jepang dengan mengesampingkan China, Biden mengatakan Amerika Serikat dan Jepang akan bersama-sama berinvestasi di berbagai bidang seperti teknologi 5G, kecerdasan buatan, komputasi kuantum, genomik, dan rantai pasokan semikonduktor.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓