Miris, Pasien COVID-19 di India Cari Obat di Black Market

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 16 Apr 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 16 Apr 2021, 12:00 WIB
FOTO: Infeksi COVID-19 di India Tembus 1 Juta Kasus
Perbesar
Seorang pria dengan gejala COVID-19 melakukan perjalanan dengan ambulans menuju Rumah Sakit Pemerintah Gandhi di Hyderabad, India, Jumat (17/7/2020). India melewati 1 juta kasus virus corona COVID-19 atau tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil. (AP Photo/Mahesh Kumar A.)

Liputan6.com, New Delhi - Keadaan pandemi COVID-19 di India kian parah dan semakin miris. Pasien COVID-19 di India mulai mencari obat-obatan di pasar gelap atau black market.

Misalnya Akhilesh Mishra yang mulai mengalami gejala demam dan batuk sejak Kamis lalu, tetapi awalnya dia mengira itu hanya flu.

Menurut laporan BBC, Jumat (16/4/2021), Akhilesh mulai khawatir keesokan harinya, ketika ayahnya, Yogendra, mengalami gejala serupa. Kedua pria itu memutuskan untuk melakukan tes COVID-19 RT-PCR dan mencoba memesan slot online tetapi janji temu berikutnya yang tersedia adalah tiga hari kemudian.

Mereka akhirnya berhasil mendapatkan slot pada hari Minggu. Sementara itu, Yogendra sedang demam tinggi dan dokternya menasihatinya untuk mencari tempat tidur rumah sakit, yang ternyata merupakan tugas berat lainnya. Mereka ditolak oleh banyak rumah sakit swasta di kota Noida dan juga di ibu kota, Delhi.

Keluarga itu akhirnya berhasil mendapatkan tempat tidur untuknya di sebuah rumah sakit swasta di Delhi dan dia sekarang sudah mulai pulih.

Akhilesh mengira dia akan kehilangan ayahnya.

"Saya merasa tertekan," katanya. 

"Saya takut dia akan mati tanpa mendapatkan perawatan. Seharusnya tidak ada anak laki-laki yang mengalami apa yang saya alami. Setiap orang harus memiliki akses yang sama ke perawatan."

2 dari 3 halaman

Bukan Hal Baru

India Laporkan Jumlah Kasus COVID-19 Tertinggi dalam Empat Bulan
Perbesar
Buruh migran yang memakai masker sebagai antisipasi terhadap virus corona menunggu pengangkutan di terminal bus di Jammu, India(26/3/2021). Pihak berwenang di kota Mumbai mengatakan mereka akan menggelar tes virus korona acak wajib di tempat-tempat ramai. (AP Photo/Channi Anand)

Kisah keluarga tersebut bukanlah hal baru.

Kisah anggota keluarga yang berjuang untuk menemukan tempat tidur, atau obat-obatan penyelamat hidup atau tabung oksigen, dilaporkan di seluruh India.

Di beberapa kota, terdapat daftar tunggu yang panjang di krematorium.

Dalam beberapa hari terakhir di India, media sosial dibanjiri dengan permintaan bantuan yang sangat besar untuk menemukan obat remdesivir dan tocilizumab. 

Efektivitas kedua obat tersebut sedang diperdebatkan di seluruh dunia tetapi beberapa negara, termasuk India, telah memberikan otorisasi penggunaan darurat kepada keduanya.

Obat antiviral remdesivir sedang diresepkan oleh dokter di seluruh negeri, dan permintaannya tinggi. 

India telah melarang ekspor, tetapi produsen masih berjuang untuk memenuhi permintaan. India telah melaporkan lebih dari 150.000 kasus COVID-19 setiap hari selama tiga minggu terakhir.

Hetero Pharma, salah satu dari tujuh perusahaan yang memproduksi remdesivir di India, mengatakan perusahaan tersebut berusaha untuk meningkatkan produksi. 

Bahkan lebih parahnya lagi, BBC menemukan bahwa kekurangan pasokan menyebabkan pemasaran gelap obat di Delhi dan beberapa kota lainnya. Setidaknya tiga agen yang dihubungi oleh BBC di Delhi setuju untuk memasok setiap botol remdesivir seharga 24.000 rupee (Rp 4,6 juta) - lima kali lipat harga resmi. 

Seorang pasien biasanya membutuhkan enam atau tujuh botol 100mg untuk satu rangkaian obat.

“Saya harus mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan obat tersebut, kata Atul Garg, yang ibunya dirawat di rumah sakit swasta di Delhi. Menemukan obat tersebut membutuhkan ratusan panggilan telepon dan mencemaskan", kata Atul.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓