Kedubes Prancis Imbau Warganya Tinggalkan Pakistan

Oleh Tommy Kurnia pada 15 Apr 2021, 17:55 WIB
Diperbarui 15 Apr 2021, 17:55 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron
Perbesar
Presiden Prancis Emmanuel Macron melambaikan tangan saat mengunjungi lokasi ledakan di Beirut, Lebanon, Kamis (6/8/2020). Presiden Macron menjadi pemimpin dunia pertama yang mengunjungi Lebanon, usai ledakan besar menghancurkan Beirut pada Selasa (4/8) lalu. (AP Photo/Thibault Camus, Pool)

Liputan6.com, Islamabad - Kedutaan Besar Prancis di Pakistan mengimbau rakyatnya untuk meninggalkan Pakistan secepatnya karena risiko bahaya. Ini terkait demonstrasi mengecam Presiden Emmanuel Macron yang mendukung kartun Nabi Muhammad SAW.

"Atas dasar bahaya serius terhadap kepentingan Prancis di Pakistan, direkomendasikan kepada warga Prancis untuk sementara meninggalkan negara ini," ujar pihak Kedubes Prancis seperti dilaporkan yahoo actualites, Kamis (15/4/2021).

Sudah berhari-hari para pendukung partai Islam Tehreek-e-Labbaik berdemo. Mereka menuntut agar duta besar Prancsis di Pakistan diusir. Selain itu, mereka juga protes karena pemimpin partainya ditangkap.

Menurut laporan France24, unjuk rasa tersebut membawa kesulitan bagi petugas medis yang ingin menolong pasien COVID-19. Akibat demo yang memenuhi jalanan, pasokan oksigen menjadi terganggu.

Pemimpin partai yang ditangkap bernama Saad Rizvi. Ia ditahan setelah mengajak adanya demo di ibu kota untuk mengusir dubes Prancis.

Pihak partai mengklaim pemerintah setuju akan hal itu, tetapi dibantah pemerintah.

2 dari 3 halaman

Jangan Blokir Jalan

Presiden Prancis Emmanuel Macron (AP/Phillipe Wojazer)
Perbesar
Presiden Prancis Emmanuel Macron (AP/Phillipe Wojazer)

Saad Rizvi adalah anak dari Khadim Hussain Rizvi, mantan pemimpin Partai Tehreek-e-Labbaik. Khadim juga memimpin demonstrasi anti-Prancis di Pakistan pada 2020.

Khadim meninggal pada 19 November 2020. Perdana Menteri Imran Khan turut berduka atas kepergian Maulana Khadim Hussain Rizvi.

Demonstrasi yang dipimpin Khadim Hussain Rizvi juga ikut memblokir jalan-jalan menuju ibu kota Islamabad.

Hal itu diulang oleh Saad Rizvi. Pejabat kesehatan pun meminta agar tidak ada pemblokiran jalan sebab bisa memicu krisis kesehatan.

"Tolong jangan memblokir jalanan untuk ambulans dan pengunjung rumah sakit. Beberapa ambulans membawa silinder oksigen yang sangatlah esensial bagi pasien COVID-19," ujar Yasmin Rashid, pejabat kesehatan di Punjab, seperti dilaporkan France24.

Berdasarkan data Johns Hopkins University, ada 739 ribu kasus COVID-19 di Pakistan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓