PM Italia Sebut Presiden Erdogan sebagai Diktator, Turki Beri Kecaman Keras

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 09 Apr 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 09 Apr 2021, 08:40 WIB
Mantan kepala Bank Sentral Eropa Mario Draghi memberikan konferensi pers setelah pertemuan dengan presiden Italia Sergio Mattarella, di istana Quirinal di Roma, Italia. (AFP)
Perbesar
Mantan kepala Bank Sentral Eropa Mario Draghi memberikan konferensi pers setelah pertemuan dengan presiden Italia Sergio Mattarella, di istana Quirinal di Roma, Italia. (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Italia Mario Draghi pada Kamis 8 April menggambarkan Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan sebagai seorang diktator, dalam pernyataannya yang berisiko semakin memperburuk hubungan UE-Turki.

Dia berbicara pada konferensi pers setelah ditanya tentang perselisihan diplomatik mengenai pengaturan tempat duduk selama pertemuan antara Erdogan dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Selasa lalu, seperti mengutip Arab News, Jumat (9/4/2021). 

"Saya sangat tidak setuju dengan perilaku Erdogan. Saya yakin itu tidak pantas. Saya benar-benar menyesal atas penghinaan yang harus diderita [Presiden Komisi Eropa Ursula] Von der Leyen,"

""Di sini pertimbangan yang harus kita buat adalah bahwa dengan ini - sebut saja mereka apa adanya - diktator, yang bagaimanapun kita perlu bekerja sama, adalah bahwa kita harus jujur ​​dalam mengungkapkan pandangan, perilaku, dan visi masyarakat yang berbeda, tetapi kami juga harus siap bekerja sama untuk memastikan kepentingan negara kami. Kami perlu menemukan keseimbangan yang tepat," kata Draghi, merujuk pada masalah tempat duduk pada pertemuan pejabat tinggi Uni Eropa di Turki.

Pemimpin Turki itu mendapat banyak kritik setelah sebuah gambar menjadi viral tentang von der Leyen yang dibiarkan berdiri tanpa kursi selama pertemuan mereka di Ankara, yang juga termasuk Presiden Dewan Eropa Charles Michel.

Gambar resmi kemudian menunjukkan dia duduk di sofa di seberang Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.

2 dari 3 halaman

Respons Turki

Keakraban Erdogan, Putin, Rouhani Saat Bahas Perdamaian Suriah
Perbesar
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara dalam menggelar pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani terkait perdamaian Suriah di Ankara, Turki, Rabu (4/4). (AFP PHOTO/ADEM ALTAN)

Sebagai respons atas pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri Turki telah memanggil duta besar Italia untuk mengutuk pernyataan perdana menteri Italia itu tentang presiden negara itu.

Melansir Anadolu Agency, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga mengecam pernyataan perdana menteri Italia itu.

"Kami mengutuk keras pernyataan yang tidak dapat diterima PM Italia pada presiden terpilih kami, membalas komentar kurang ajar," katanya di Twitter.

Berbicara kepada wartawan pada Kamis (8/4) pagi, Cavusoglu meremehkan kebingungan atas pengaturan tempat duduk yang dipermasalahkan, mengatakan bahwa Turki telah memenuhi semua persyaratan protokol dari pihak UE.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓