Bunga Sakura di Jepang Mekar Lebih Awal, Terakhir Terjadi Sejak 1.200 Tahun Lalu

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 06 Apr 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 06 Apr 2021, 10:00 WIB
Tokyo Konfirmasi Lebih dari 400 Kasus Baru COVID-19
Perbesar
Seorang wanita yang mengenakan masker pelindung untuk membantu mengekang penyebaran virus corona mengambil foto bunga sakura di Tokyo (17/3/2021). Ibukota Jepang mengonfirmasi lebih dari 400 kasus virus korona baru pada hari Rabu. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Tokyo - Jepang baru saja mencatat kemekaran bunga sakura paling awal dalam 1.200 tahun.

Diketahui bahwa bunga sakura, yang mekar hanya beberapa hari, telah menjadi musim kemekaran yang sangat digemari di Jepang selama lebih dari seribu tahun.

Yasuyuki Aono, seorang peneliti di Universitas Prefektur Osaka, telah mengumpulkan catatan dari Kyoto pada tahun 812 M dari dokumen sejarah dan buku harian.

Di pusat kota Kyoto, bunga sakura mencapai puncak kemekarannya pada 26 Maret - paling awal dalam lebih dari 1.200 tahun, kata Aono, seperti dilansir CNN, Senin (5/4/2021).

Sementara di Ibu Kota Jepang, Tokyo, bunga sakura mekar secara sempurna pada 22 Maret, tanggal paling awal kedua yang tercatat.

"Saat suhu global menghangat, musim semi terjadi lebih awal dan pembungaan terjadi lebih cepat," kata Dr. Lewis Ziska dari Ilmu Kesehatan Lingkungan Universitas Columbia.

Tanggal puncak mekarnya bunga sakura diketahui bergeser setiap tahun, tergantung pada banyak faktor termasuk cuaca dan curah hujan, tetapi telah menunjukkan tren umum bergerak lebih awal.

Di Kyoto, tanggal mekarnya bunga sakura terjadi sekitar pertengahan bulan April selama berabad-abad, menurut data Aono, tetapi kini mulai bergerak ke awal April selama tahun 1800-an.

Tanggal tersebut hanya berpindah ke akhir Maret beberapa kali dalam sejarah yang tercatat.

"Sakura mekar sangat sensitif terhadap suhu," jelas Aono.

"Kemekaran dan mekar penuh bisa lebih awal atau lambat tergantung suhu saja," terangnya.

"Suhunya rendah pada tahun 1820-an, tetapi telah meningkat sekitar 3,5 derajat Celcius (6,3 derajat Fahrenheit) hingga hari ini," beber Aono.

2 dari 5 halaman

Bunga Sakura di Kyoto Mekar Lebih Awal

Tokyo Konfirmasi Lebih dari 410 Kasus Baru COVID-19
Perbesar
Seorang pekerja yang memakai masker pelindung untuk membantu menahan penyebaran virus corona menyesuaikan cabang pohon di Tokyo, Rabu (31/3/2021). Ibukota Jepang mengonfirmasi lebih dari 410 kasus virus corona baru pada hari Rabu. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Bunga sakura di Kyoto, Jepang, mekar sekitar 10 hari lebih awal dari pada 100 tahun lalu, menurut penelitian di International Journal of Biometeorology.

Mekarnya bunga sakura pada sebelumnya bertepatan dengan kenaikan suhu, menunjukkan perubahan iklim mempengaruhi lamanya musim tanam.

"Musim tahun ini secara khusus memengaruhi tanggal mekar," menurut penelitian tersebut.

Namun, Amos Tai, asisten profesor ilmu bumi di Universitas China Hong Kong menyebutkan bahwa perkembangan awal kemekaran awal akibat cuaca dingin dapat mengganggu kestabilan sistem alam dan ekonomi negara.

Disebutkan ada dua sumber panas yang meningkat, yang merupakan faktor utama yang membuat bunga mekar lebih awal: urbanisasi dan perubahan iklim.

Dengan meningkatnya urbanisasi, sebuah kota cenderung menjadi lebih hangat daripada daerah pedesaan di sekitarnya, yang disebut efek pulau panas.

Tetapi penyebab yang lebih besar adalah perubahan iklim, yang telah menyebabkan kenaikan suhu di seluruh wilayah dan dunia.

Tanggal-tanggal kemekaran awal itu juga disebut bisa berdampak abadi pada seluruh ekosistem, dan mengancam kelangsungan hidup banyak spesies.

3 dari 5 halaman

Pengaruh Lingkungan dan Perubahan Iklim

Warga Jepang Dihimbau Tidak Berkumpul Saat Menikmati Bunga Sakura
Perbesar
Seorang pria mengenakan masker melewati pohon sakura di taman Ueno, Tokyo, Jepang (12/3/2020). Di tengah kekhawatiran akan penyebaran virus corona COVID-19, Gubernur Tokyo Yuriko Koike menghimbau warga menghindari kerumunan saat pesta tradisional "hanami". (AFP/Philip Fong)

Tanaman dan serangga sangat bergantung satu sama lain, dan keduanya menggunakan situasi lingkungan untuk "mengatur waktu berbagai tahapan siklus hidup mereka," kata Amos Tai.

Sebagai contoh, tanaman merasakan suhu di sekitar mereka dan jika cukup hangat untuk periode yang konsisten, mereka mulai berbunga dan daunnya mulai bermunculan.

Demikian pula, serangga dan hewan lain bergantung pada suhu untuk siklus hidup mereka, yang berarti panas yang lebih tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan lebih cepat.

"Hubungan antara tumbuhan dan serangga dan organisme lain telah berkembang selama bertahun-tahun - ribuan hingga jutaan tahun," kata Amos Tai.

"Namun pada abad terakhir, perubahan iklim benar-benar merusak segalanya dan mengganggu semua hubungan ini," pungkasnya.

"Ekosistem tidak terbiasa dengan fluktuasi besar seperti ini, hal itu menyebabkan mereka kerap tidak stabil" kata Amos Tai, seraya menambahkan: "Produktivitas mungkin berkurang, dan ekosistem bahkan mungkin runtuh di masa depan".

4 dari 5 halaman

Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19

Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19. (Liputan6.com/Abdillah)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by