Sosok Marco Djuliarso, Insinyur Asal Indonesia yang Terlibat dalam Proyek Roket NASA

Oleh Liputan6.com pada 08 Mar 2021, 14:58 WIB
Diperbarui 08 Mar 2021, 14:58 WIB
FOTO: NASA Luncurkan Misi ke Planet Mars
Perbesar
Roket Atlas V United Launch Alliance yang mengangkut Mars Perseverance milik NASA diluncurkan dari Kompleks Peluncuran Antariksa 41 di Pangkalan AU Tanjung Canaveral, Florida, AS, 30 Juli 2020. Peluncuran ini untuk mencari tanda-tanda kehidupan masa lampau di Planet Merah. (Xinhua/NASA/Joel Kowsky)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah kebanggan bagi Indonesia karena salah satu insinyur Tanah Air ikut serta dalam proyek pembangunan roket untuk Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA.

Mengutip dari sebuah video yang ditayangkan VOA Indonesia, Senin (8/3/2021), insinyur bernama Marco Djuliarso itu menjelaskan bahwa roket tersebut akan membawa astronaut ke Bulan pada 2024.

Tidak hanya ke bulan, Marco mengatakan "tapi kita ada target (jangka jauh) ke Mars."

Marco juga menyatakan bahwa menurutnya proyek ini bisa dikatakan yang paling keren dan dia merasa beruntung bisa turut ambil bagian.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 4 halaman

Tidak Pernah Terbayangkan

NASA
Perbesar
Sosok Marko Djuliarso insinyur asal Indonesia yang kini berkarir di Boeing. (Screenshot: VOA Indonesia)

Ayah satu anak ini memiliki gelar pendidikan dari Universitas Tennessee, Universitas Teknologi Nanyang Singapura, dan Universitas Southern California.

Sebelumnya dia tidak pernah bercita-cita untuk berkarir ke bidang roket, terlebih lagi ke aerospace.

"Bapak saya nganjurin ambil aja industrial engineering atau teknik industri," Marco menceritakan pada VOA Indonesia.

"Sebagai anak yang baik, saya ikuti aja," tambahnya.

Perjalanan karir Marco tidak selalu mulus, kesulitan ekonomi yang terjadi pada tahun 2009 membuatnya banyak melamar pekerjaan di AS.

"Selama enam bulan, kira-kira saya setiap minggu mungkin saya melamar hingga 100 kerjaan," ungkapnya.

Hingga akhirnya Marco mendapat tawaran dari Boeing saat ia telah bekerja di perusahaan produksi jendela di Dallas, AS.

Dia juga mengatakan "saya juga sudah lupa pernah wawancara sama Boeing, sama pernah melamar ke Boeing. Jadi setelah pikir-pikir sedikit, saya dan Vieda, istri saya, memutuskan untuk ambil kerjaan di Boeing dan pindah ke daerah Seattle, Washington."

Selama di Boeing dia pernah terlibat dalam proyek pesawat komersial 787 dan 777 di Seattle dan Italia.

Kemudian akhirnya dia menggarap roket untuk NASA di New Orleans.

 

Reporter: Veronica Gita

3 dari 4 halaman

Infografis Kualitas Udara di Jakarta Tidak Sehat

Infografis Kualitas Udara di Jakarta Tidak Sehat
Perbesar
Infografis Kualitas Udara di Jakarta Tidak Sehat. (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓