China Wajibkan Swab Anal COVID-19 Bagi Pelancong yang Akan Masuk Tiongkok

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 05 Mar 2021, 13:31 WIB
Diperbarui 05 Mar 2021, 13:31 WIB
FOTO: Corona Mereda, Kota Terlarang China Kembali Dibuka
Perbesar
Para pengunjung mengenakan masker saat berjalan di Kota Terlarang, Beijing, China, Jumat (1/5/2020). Kota Terlarang kembali dibuka setelah ditutup lebih dari tiga bulan karena pandemi virus corona COVID-19. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Beijing - China mewajibkan swab anal COVID-19 untuk semua wisatawan asing yang akan berkunjung ke negaranya.

Menurut surat kabar Inggris The Times, pusat pengujian akan didirikan di bandara Beijing dan Shanghai.

China mulai menguji COVID-19 menggunakan swab anal pada akhir Januari 2021, demikian dikutip dari laman thetimes.co.uk, Jumat (5/3/2021).

Komisi Kesehatan Nasional mengklaim tes tersebut memberikan tingkat akurasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyeka hidung atau tenggorokan standar.

Direktur departemen penyakit pernapasan Rumah Sakit Beijing An Li Tongzeng mengatakan kepada Washington Post pada Januari, pengujian itu diperkenalkan setelah penelitian menunjukkan jejak virus tetap berada di anus lebih lama daripada saluran pernapasan.

"Jika kami menambahkan pengujian usap anal, itu dapat meningkatkan tingkat pengawasan kami dalam mengidentifikasi pasien yang terinfeksi."

Saat itu dia mengatakan usapan lewat dubur hanya digunakan untuk mereka yang berada di karantina karena mengumpulkan swab anal itu "tidak senyaman usap tenggorokan".

Langkah untuk mengusap semua pendatang internasional dengan cara ini sempat dikecam AS dan Jepang yang meminta Tiongkok berhenti melakukan tes yang mereka sebut "tidak bermartabat".

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Kecaman Pihak Asing

Pabrik Vaksin COVID-19 Sinovac di Beijing
Perbesar
Seorang pekerja berada di dalam laboratorium di pabrik vaksin SinoVac di Beijing, Kamis (24/9/2020). Perusahaan farmasi China, Sinovac mengatakan vaksin virus corona yang dikembangkannya akan siap didistribusikan ke seluruh dunia, termasuk AS, pada awal 2021. (AP Photo/Ng Han Guan)

Pada Selasa (2/3) China setuju untuk berhenti menggunakan usap dubur pada diplomat Amerika setelah beberapa anggota pemerintahan Presiden AS Joe Biden mengeluh tentang metode tersebut.

Pada hari Rabu, Pemerintah Jepang juga berbicara tentang "penderitaan psikologis" yang dialami warganya dari tes tersebut.

"Beberapa orang Jepang melapor ke kedutaan kami di China bahwa mereka menerima tes usap dubur, yang menyebabkan rasa sakit psikologis yang hebat," kata Katsunobu Kato, sekretaris kabinet Jepang, dalam konferensi pers.

Tes yang memakan waktu sekitar 10 detik, melibatkan kapas yang direndam garam dimasukkan tiga sampai lima sentimeter ke dalam rektum dan diputar beberapa kali. Kapas kemudian dilepas dan ditempatkan dengan aman dalam wadah uji. Sampel kemudian diuji jejak virusnya.

China telah berhasil mempertahankan tingkat infeksi COVID-19 yang rendah, dengan hanya 200 kasus aktif saat ini di antara populasi 1,4 miliar.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓