60 Persen Lebih Warga Rusia Enggan Disuntik Vaksin COVID-19 Sputnik V, Kenapa?

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 02 Mar 2021, 17:50 WIB
Diperbarui 02 Mar 2021, 17:50 WIB
Rusia Mulai Suntikkan Vaksin Corona Sputnik V di Moskow
Perbesar
Seorang perawat menunjukkan vaksin Sputnik V untuk melawan virus corona di sebuah klinik di Moskow, Sabtu (5/12/2020). Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pihak berwenang memulai vaksinasi massal untuk orang-orang berisiko tinggi tertular Covid-19. (Kirill KUDRYAVTSEV/AFP)

Liputan6.com, Jakarta- Hampir dua pertiga orang Rusia tidak bersedia menerima suntikan vaksin COVID-19 buatan negara mereka, Sputnik V. Jumlah yang sama di Rusia juga menunjukkan warga meyakini Virus Corona diciptakan secara artifisial sebagai senjata biologi.

Dikutip dari US News, Selasa (2/3/2021), data itu terungkap dalam polling yang dilakukan Levada Center secara independen pada Januari 2021.

Menurut polling, 62 persen warga Rusia tidak berminat disuntik vaksin COVID-19 yang diproduksi di dalam negeri, dan tingkat keengganan tertinggi teridentifikasi di kalangan warga berusia 18-24 tahun.

Sebagian besar responden polling tersebut, mengacu pada efek samping -- termasuk demam dan kelelahan -- sebagai alasan utama mereka tidak ingin divaksinasi.

Penghitungan yang mengambil sampel dari 1.601 orang di 50 wilayah Rusia ini juga menemukan bahwa 64 persen warga mengira COVID-19 diciptakan sebagai senjata biologis. Diketahui asal-usul Virus Corona COVID-19 kerap dipolitisasi, tapi sebagian besar pakar virologi dan pakar penyakit menular mengatakan kemungkinan besar virus tersebut berevolusi secara alami.

Misi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di China pada Januari 2021 menjelaskan bahwa pihaknya tidak menyelidiki lebih lanjut apakah Virus Corona keluar dari laboratorium, yang dinilai sangat tidak mungkin.

Misi tersebut mengatakan hipotesis utamanya adalah bahwa virus itu berasal dari kelelawar, meskipun ada beberapa kemungkinan skenario bagaimana virus itu menular ke manusia, mungkin pertama dengan menginfeksi spesies hewan lain.

Misi tersebut menyatakan bahwa hipotesis utama mereka menunjukkan COVID-19 berasal dari kelelawar, meskipun ada beberapa kemungkinan skenario soal bagaimana virus itu menular ke manusia, yang diduga diawali dengan menginfeksi spesies hewan lainnya.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Saksikan Video Berikut Ini:


Hanya 23 Warga Rusia Percaya COVID-19 Muncul Secara Alami

Vaksin COVID-19 Sputnik V Jalani Uji Klinis fase 3
Perbesar
Foto yang diabadikan pada 15 September 2020 ini menunjukkan vaksin COVID-19 bernama "Sputnik V" milik Rusia dalam uji klinis tahap tiga di Moskow, Rusia. (Xinhua/Alexander Zemlianichenko Jr)

Keyakinan bahwa Virus Corona COVID-19 diciptakan sebagai senjata biologis diketahui dominan di kalangan warga Rusia yang berusia 40-54 tahun, dengan 71 persen dari mereka berpandangan demikian.

Sementara itu, hanya 23 persen dari mereka yang mengira virus tersebut muncul secara alami.

Rusia, yang telah mencatat hampir 4,3 juta kasus Virus Corona sejak awal pandemi, telah menyetujui tiga vaksin dalam upaya untuk melawan pandemi COVID-19.

Negara dengan berpenduduk sekitar 145 juta orang itu telah meluncurkan kampanye vaksinasi massal dengan vaksin Sputnik V pada Desember 2020.

Pada 10 Februari, Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko menuturkan bahwa lebih dari dua juta warga Rusia telah divaksinasi COVID-19 dengan setidaknya dosis pertama vaksin Sputnik V.


Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin COVID-19

Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya