Xi Jinping Minta Joe Biden Tak Ikut Campur Masalah Xinjiang

Oleh Tommy Kurnia pada 11 Feb 2021, 15:56 WIB
Diperbarui 11 Feb 2021, 15:56 WIB
Peduli Muslim Uighur, Warga Gelar Aksi Saat CFD
Perbesar
Topeng bendera Turkestan Timur yang dipakai peserta Aksi Save Uighur selama CFD, Jakarta, Minggu (22/12/2019). Aksi digelar sebagai bentuk peduli terhadap muslim Uighur di Xinjiang yang diduga hingga saat ini terus mengalami tindakan kekerasan oleh pemerintah China. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Beijing - Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pertama kalinya berbicara via telepon. Mereka turut membahas isu sensitif seperti masalah Hong Kong, Taiwan, dan pelanggaran HAM di Xinjiang

Media pemerintah China, Xinhua, menyampaikan nada tegas dari Presiden Xi agar AS tidak ikut campur terhadap masalah internal China, serta bijak dalam bertindak.

Pertanyan Taiwan dan isu-isu terkait Hong Kong, Xinjiang, dan sebagainya adalah urusan internal dan terkait kedaulatan dan integritas wilayah China, dan pihak AS perlu menghormati kepentingan inti Tiongkok dan bertindak dengan bijak, ujar Xi Jinping seperti dilaporkan Xinhua, Kamis (11/2/2021).

Laporan dari media China berbeda dari rilis resmi Gedung Putih yang tidak merinci jalan pembicaraan kedua pemimpin.

Presiden Xi juga mengulang ucapan Presiden Biden bahwa AS dapat dimaknai dengan kata "possibilities". Ia berharap possibilities itu akan mengarah pada peningkatan relasi China-AS.

Lebih lanjut, Xi Jinping berharap AS dan China bisa berkolaborasi dengan spirit tanpa konflik, tanpa konfrontasi, dan kerja sama yang bersifat win-win. Ia berkata kedua negara perlu kompak agar dapat melawan COVID-19, meningkatkan pemulihan ekonomi dunia, serta menjaga stabilitas dan perdamaian regional.

2 dari 4 halaman

Beri Sinyal Positif ke Dunia

Dalam lawatannya ke Indonesia pada 2-3 Oktober 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 atau 21st Century Maritime Silk Road
Perbesar
Dalam lawatannya ke Indonesia pada 2-3 Oktober 2013, Presiden Xi Jinping mengusulkan konsep Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 atau 21st Century Maritime Silk Road

Presiden Xi berkata bahwa perbincangannya di telepon bersama Joe Biden bisa mengirim sinyal positif ke dunia. Ia berjanji komunikasi bersama AS akan terus terjalin. 

Poin lain yang disepakati Xi dan Biden adalah isu iklim. Xi Jinping berkata AS dan China bisa menghindari konflik, dan bekerja sama dalam isu lingkungan. 

Ajakan lainnya dari Presiden Xi adalah supaya AS dan China bisa kompak sebagai anggota permanen Dewan Keamanan PBB. China berkata siap menjaga stabilitas di Asia Pasifik, dan memberikan kontribusi positif bagi keamanan dunia. 

Xi Jinping berkata saat China dan AS bekerja sama, mereka bisa meraih hal besar yang bagus untuk kedua negara dan dunia; konfrontasi antara dua negara ini tentunya akan menjadi bencana bagi kedua negara dan dunia.

3 dari 4 halaman

Pernyataan Gedung Putih

FOTO: Joe Biden Batalkan Larangan Transgender Masuk Militer AS Era Donald Trump
Perbesar
Presiden Amerika Serikat Joe Biden setelah menandatangani Perintah Eksekutif yang membatalkan larangan bagi transgender untuk masuk militer AS pada era Donald Trump di Kantor Oval Gedung Putih, Washington, Senin (25/1/2021). (AP Photo/Evan Vucci)

Gedung Putih memberikan rilis yang lebih singkat terkait komunikasi Presiden Joe Biden dan Presiden Xi Jinping.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berbincang dengan Presiden Xi Jinping melalui telepon. Biden turut mengucapkan selamat hari Imlek kepada China. 

Keduanya berbincang pada Rabu sore (10/2) waktu Washington D.C. Isu-isu yang dibahas adalah Xinjiang, Taiwan, dan COVID-19.

Menurut rilis Gedung Putih, Kamis (11/2/2021), Joe Biden menggarisbawahi praktik ekonomi China yang koersif dan tidak adil, masalah Hong Kong, pelanggaran HAM di Xinjiang, serta aksi terhadap Taiwan.

Gedung Putih tak menjelaskan secara detail apa saja yang dibahas dari topik-topik tersebut. Rilis Gedung Putih juga tak menyebut Muslim Uighur.

Biden juga mendukung wilayah Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Ucapan itu mirip gagasan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga terkait Indo-Pasifik yang damai dan terbuka.

Lebih lanjut, pemimpin kedua negara membahas pandemi COVID-19, tantangan keamanan kesehatan global, perubahan iklim, dan mencegah proliferasi (pengembangan jumlah besar) senjata. 

"Presiden Biden berkomitmen untuk mengejak diskusi-diskusi yang praktis, serta berorientasi pada hasil saat memajukan kepentingan rakyat Amerika dan sekutu-sekutunya," pungkas Gedung Putih.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓