China Kirim 10 Juta Vaksin COVID-19 Melalui COVAX WHO

Oleh Tommy Kurnia pada 04 Feb 2021, 09:30 WIB
Diperbarui 04 Feb 2021, 11:06 WIB
Presiden China Tiba di Hong Kong
Perbesar
Presiden Cina Xi Jinping seusai berbicara kepada awak media di Bandara Internasional Hong Kong, Kamis (29/6). Selama sepekan terakhir, Kepolisian Hong Kong sudah melakukan berbagai antisipasi terkait kunjungan Presiden Xi Jinping. (AP Photo/Kin Cheung)

Liputan6.com, Beijing - China mengirim 10 juta vaksin COVID-19 untuk negara-negara berkembang melalui fasilitas COVAX dari WHO. Ini merupakan bagian dari diplomasi vaksin dan bisnis dari China. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, berkata negaranya merespons permintaan dari WHO mengingat negara-negara berkembang berupaya mengisi kembali stok mereka yang diprediksi bakal habis pada Maret mendatang.  

AP News melaporkan, Kamis (4/2/2021), Wang Wenbin tidak menjelaskan vaksin jenis apa yang diberikan ke COVAX, atau apakah vaksin itu bersifat donasi. 

Di China, baru vaksin Sinopharm yang mendapat izin pemakaian umum. Meski begitu, Sinovac dan Sinopharm sudah mendapat penggunaan darurat di banyak negara.

Indonesia juga memakai Sinovac dan 11 juta dosis vaksin tambahan baru tiba pada 2 Februari 2021. Sementara, Turki sepakat untuk mendapatkan 50 juta dosis vaksin Sinovac.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Memperbaiki Reputasi

Kenakan APD Lengkap, Tim WHO Datangi Pusat Pengendalian Penyakit Provinsi Hubei
Perbesar
Anggota tim WHO mengenakan APD selama kunjungan lapangan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei di Wuhan di provinsi Hubei, China (2/2/2021). Sebelumnya, tim WHO yang beranggotakan 10 pakar telah berkunjung ke pasar, rumah sakit, dan pameran. (AP Photo/ Ng Han Guan)

AP News menyebut China dinilai sedang berusaha memperbaiki reputasi globalnya ketika kasus pertama COVID-19 muncul di kota Wuhan. Ketika awal pandemi, China juga mengirimkan banyak masker dan alat perlindungan ke berbagai negara.

Namun, China terus membantah bahwa COVID-19 berasal dari China.

Saat ini tim WHO sedang melakukan investigasi ke Wuhan. Investigasi ini baru terjadi meski pandemi merebak pada awal 2020.

WHO juga baru memeriksa ke Wuhan ketika kota itu sudah selesai lockdown dan situasi telah kembali normal. 

Berdasarkan data Johns Hopkins University, kasus COVID-19 di China baru menembus 100 ribu.

3 dari 5 halaman

WHO Tantang Balik Kritikus

4
Perbesar
Staf medis China bereaksi ketika tim WHO pergi usai kunjungan mereka ke Rumah Sakit Provinsi Hubei di Wuhan, provinsi Hubei, China tengah untuk mulai mencari petunjuk tentang asal-usul pandemi virus corona COVID-19 pada Jumat, 29 Januari 2021 (AP / Ng Han Guan).

WHO menolak dikritik oleh pihak-pihak tertentu. 

Direktur Eksekutif Program Kesehatan Darurat WHO, dr Michael Ryan, juga menantang orang-orang yang mengklaim memiliki informasi tentang bagaimana pandemi meluas dan memberikan penjelasan.

Ryan menyebut, banyak kritikus yang mengatakan mereka "tidak akan menerima laporan hasil penelitian WHO ketika keluar", atau ada "intelijen lain yang tersedia yang mungkin menunjukkan temuan berbeda" tentang bagaimana virus itu menyebar.

"Jika Anda memiliki jawabannya, tolong beri tahu kami," ujar Ryan dalam konferensi pers dari markas besar WHO di Jenewa, dikutip laman Channel News Asia, Senin (01/02).

Ryan juga mempertanyakan seberapa bertanggungjawabnya para pengkritik, sehingga mampu menolak laporan yang bahkan belum ditulis hasilnya. Penelitian tersebut, dikatakan Ryan, seharusnya mendapatkan dukungan internasional.

Misi penelitian oleh WHO ini, diketahui datang dengan beban politik yang berat, karena China sempat menolak masuknya tim peneliti tersebut ke negaranya hingga pertengahan Januari.

China juga sempat memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan "campur tangan politik" terkait kunjungan para peneliti WHO itu, setelah Gedung Putih menuntut penyelidikan yang transparan.

"China harus meningkatkan dan memastikan bahwa itu transparan, menyediakan informasi dan berbagi informasi, memberikan akses kepada para ahli dan pengawas internasional," ujar Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.

Sementara itu, WHO mengatakan, kunjungannya ke China adalah misi ilmiah untuk menyelidiki asal-usul virus, bukan upaya untuk menyalahkan salah satu pihak.

4 dari 5 halaman

Infografis COVID-19:

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya
Perbesar
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓