Indonesia Sejuta Kasus COVID-19, Pertama di Asia Tenggara dan Timur

Oleh Tommy Kurnia pada 26 Jan 2021, 16:41 WIB
Diperbarui 26 Jan 2021, 16:50 WIB
Soal Reshuffle Kabinet Ini Kata Presiden Jokowi
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan merombak (reshuffle) kembali jajaran kabinet kerjanya. Lalu siapakah yang diganti dan masih bertahan? (Foto: Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara dan Asia Timur yang mencatat sejuta kasus COVID-19. Totalnya, Indonesia memiliki 1.012.350 kasus. 

Per Selasa (26/1/2021), Indonesia memiliki tambahan 13.094 orang positif COVID-19, sehingga kasus menjadi genap sejuta. 

Negara Asia Tenggara lain belum mencapai jumlah kasus sebanyak Indonesia. Malaysia mencatat 186 ribu kasus dan kini sedang lockdown lagi. 

Bila melihat situs Kementerian Kesehatan Malaysia, kasus harian di Malaysia jauh lebih rendah dari Indonesia, yaitu hanya 3.048 kasus.

Berdasarkan data Johns Hopkins University, kasus di China juga belum tembus sejuta, melainkan masih 99 ribu. Kasus di Korea Selatan juga baru 75 ribu kasus. 

Negara Asia Tenggara dengan kasus tertinggi kedua setelah Indonesia adalah Filipina dengan 516 ribu kasus. Kasus tertinggi di Asia berada di India dengan 10,6 juta kasus.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Jokowi Bersyukur Indonesia Bisa Kendalikan Krisis

Presiden Jokowi meresmikan Jalan Tol Kayu Agung - Palembang - Betung Ruas Kayuagung - Palembang (Kramasan), di Kota Palembang, Selasa (26/1/2021).
Perbesar
Presiden Jokowi meresmikan Jalan Tol Kayu Agung - Palembang - Betung Ruas Kayuagung - Palembang (Kramasan), di Kota Palembang, Selasa (26/1/2021).

Sehari sebelum Indonesia sejuta kasus, Jokowi sempat memanjatkan rasa syukur karena berhasil mengendalikan pandem COVID-19. 

"Kita bersyukur, Indonesia termasuk negara yang bisa mengendalikan dua krisis tersebut dengan baik," ujar Jokowi saat memberikan sambutan secara virtual dalam Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Senin (25/1/2021). 

Kendati begitu, dia menekankan bahwa permasalahan belum sepenuhnya selesai sebab pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia. Pemerintah sendiri telah memulai program vaksinasi Covid-19 sebagai salah satu upaya menangani krisis kesehatan akibat pandemi.

Jokowi menyampaikan, pemerintah sudah memesan 426 juta dosis vaksin Covid-19 dari 4 perusahaan dan negara yang berbeda. Selain itu, 30.000 vaksinator, 10.000 puskesmas, dan 3.000 rumah sakit juga disiapkan agar vaksinasi kepada 181 juta masyarakat bisa rampung tahun ini.

"Program vaksinasi Covid-19 telah dimulai, dan saya perintahkan agar vaksinasi ini selesai sebelum 2021," ucap Jokowi.

3 dari 5 halaman

Sejumlah RS di Jakarta dan Jabar Kolaps karena COVID-19

FOTO: Kesibukan Tim Medis Bawa Pasien COVID-19 ke Wisma Atlet
Perbesar
Petugas jaga mengecek data pasien COVID-19 yang dibawa petugas medis di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2020). Pemerintah menyiapkan 2.700 tempat tidur di RSD Wisma Atlet untuk merawat pasien COVID-19 dengan kondisi sedang dan ringan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sekretaris Jenderal Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi), Lia Gardenia Partakusuma, mengungkap keterpakaian rumah sakit di 10 provinsi di Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan di tengah pandemi Covid-19. Dia menyebut, keterisian tempat tidur di RS itu lebih dari 60 persen akibat menampung pasien Corona.

Sepuluh provinsi tersebut, yakni DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Kalimantan Timur, Lampung dan Jawa Tengah. Data keterpakaian tempat tidur rumah sakit di 10 provinsi ini tercatat pukul 16.40 WIB, 24 Januari 2021. 

"Kalau sekarang ini DKI Jakarta (keterpakaian rumah sakit) 85,7 persen, DI Yogyakarta 83,04 persen, Banten 77,3 persen, Jawa Barat 75,08 persen, Sulawesi Tengah 71,79 persen, Jawa Timur 70,02 persen," ungkap Lia saat dihubungi Merdeka soal dampak Covid-19 itu, Selasa (26/1/2021).

Lia menerangkan, bila keterpakaian tempat tidur rumah sakit melebihi 60 persen, maka pertukaran pasien Covid-19 masuk dan keluar akan sulit. Kondisi ini bisa menyebabkan rumah sakit mengalami stagnasi atau kolaps.

Kolaps yang dimaksud, kata Lia, terjadi saat rumah sakit tak bisa lagi menerima pasien Covid-19 baru karena tempat tidur terisi penuh. Pada kondisi ini, rumah sakit hanya bisa merawat pasien Covid-19 lama.

"Kita mengurusi pasien lama yang ada di rumah sakit itu sampai nanti dia sembuh atau nanti dia meninggal dunia baru kita bisa terima pasien baru. Kalau mau nambah tempat tidur enggak bisa juga," ujarnya.

4 dari 5 halaman

Infografis COVID-19:

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya
Perbesar
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓