AS Selidiki Kemungkinan Kematian Dokter Usai Disuntik Vaksin COVID-19 Pfizer

Oleh Hariz Barak pada 16 Jan 2021, 17:03 WIB
Diperbarui 16 Jan 2021, 17:07 WIB
FOTO: 6 Jenis Vaksin COVID-19 yang Ditetapkan Pemerintah Indonesia
Perbesar
Vaksin COVID-19 Pfizer Inc and BioNTech dipotret di Rumah Sakit Anak Rady, San Diego, California, Amerika Serikat, 15 Desember 2020. Vaksin COVID-19 buatan Pfizer telah mendapat otorisasi darurat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Singapura, dan Meksiko. (ARIANA DREHSLER/AFP)

Liputan6.com, D.C - Pfizer dan pejabat kesehatan federal Amerika Serikat sedang menyelidiki kematian seorang tenaga kesehatan, 16 hari setelah orang tersebut menerima dosis pertama vaksin COVID-19 buatan perusahaan obat-obatan asal AS tersebut.

Sejauh ini, bukti tidak menyarankan koneksi, kata Pfizer dalam sebuah pernyataan pada Selasa 12 Januari 2021.

Tenaga kesehatan yang tewas merupakan seorang dokter yang berbasis di Florida. Seusai vaksin, ia dilaporkan mengalami gangguan langka yang disebut trombositopenia parah yang mengurangi kemampuan tubuh untuk menggumpalkan darah dan menghentikan pendarahan internal.

Pfizer mengutip uji klinis dan data yang dikumpulkan sejak vaksin disahkan di AS dalam melaporkan kesimpulan awalnya; bahwa bukti tidak menyarankan asosiasi kausal antara kasus dengan vaksin yang dikembangkannya dengan perusahaan Jerman BioNTech SE.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC mengatakan pihaknya menyadari kematian itu, dan "akan mengevaluasi situasi saat informasi lebih lanjut tersedia," menurut juru bicara Tom Skinner.

"Sampai saat ini, jutaan orang telah divaksinasi dan kami memantau dengan cermat semua peristiwa buruk pada individu yang menerima vaksin kami," kata Pfizer dalam pernyataannya.

"Penting untuk dicatat bahwa peristiwa buruk yang serius, termasuk kematian yang tidak terkait dengan vaksin, sayangnya kemungkinan terjadi pada tingkat yang sama seperti pada populasi umum," lanjut produsen vaksin COVID-19 asal AS tersebut.

2 dari 3 halaman

Laporan Kematian

Margaret Keenan, 90 tahun, pasien pertama di Inggris yang menerima vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19, diberikan oleh perawat May Parsons di University Hospital, Coventry, Inggris, 8 Des 2020. (Jacob King / Pool via AP)
Perbesar
Margaret Keenan, 90 tahun, pasien pertama di Inggris yang menerima vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19, diberikan oleh perawat May Parsons di University Hospital, Coventry, Inggris, 8 Des 2020. (Jacob King / Pool via AP)

The New York Times pertama kali melaporkan berita kematian Gregory Michael, seorang dokter kandungan dan ginekologi berusia 56 tahun yang berlokasi di Miami Beach, Florida.

The Times mengutip postingan Facebook yang ditulis pada 5 Januari 2021 oleh istrinya, Heidi Neckelmann, yang mengatakan Michael telah meninggal karena pendarahan otak.

Vaksin Pfizer-BioNTech disahkan untuk penggunaan darurat di AS pada 14 Desember, dengan pekerja perawatan kesehatan dan mereka yang berada di fasilitas perawatan jangka panjang yang pertama dalam antrean untuk mendapatkan vaksin.

Sejauh ini, 9,27 juta vaksin telah diberikan.

AS juga telah mengizinkan penggunaan darurat vaksin kedua yang dikembangkan oleh Moderna Inc.

CDC, bersama dengan Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) dan lembaga federal lainnya, secara teratur meninjau data pemantauan keamanan vaksin COVID-19 dan berbagi temuan mereka dengan sekelompok ahli keamanan vaksin, yang memberikan panduan independen kepada pejabat federal, menurut CDC.

"Pikiran kami bersama keluarga selama waktu yang memilukan ini," kata Skinner.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓