Persekusi Terhadap Umat Kristen di Berbagai Negara Naik 60 Persen Selama 2020

Oleh Tommy Kurnia pada 15 Jan 2021, 12:25 WIB
Diperbarui 15 Jan 2021, 12:35 WIB
Ilustrasi salib Paskah
Perbesar
Ilustrasi salib Paskah. (Sumber Pixabay/geralt untuk ranah publik)

Liputan6.com, Jakarta - Persekusi terhadap umat Kristen di berbagai negara dilaporkan melonjak hingga 60 persen sepanjang 2020. Selain itu, persekusi gereja juga marak terjadi di Nigeria hinga China.

Data itu diterbitkan oleh Open Doors, sebuah organisasi yang memantau kekerasan terhadap umat Kristen. Pada 2020, angka kematian mencapai 4.761 orang. Dengan kata lain, ada 13 orang Kristen dibunuh tiap harinya.

Dilansir Le Figaro, Jumat (15/1/2021), mayoritas umat Kristen dipersekusi di Afrika, tepatnya di Nigeria. Totalnya, ada 3.520 orang Kristen yang dibunuh di negara itu.

"91 persen orang Kristen yang dibunuh berada di benua Afrika pada 2020," tulis Open Door.

Open Door menyebut grup radikal di Nigeria bertanggung jawab atas banyaknya kematian. Kelompok teroris Boko Haram masih kerap menebar teror di Nigeria. Ada pula radikaliasi masyarakat Muslim nomaden Fulani.

Setelah Nigeria, persekusi umat Kristen juga terjadi di Republik Demokrasi Kongo, Pakistan, Mozambik, Kamerun, Burkina Faso, dan Republik Afrika Tengah, meski jumlah persekusinya tak separah di Nigeria.

Khusus di Pakistan, Open Door menyorot UU penistaan agama yang dinilai tak adil. Kebanyakan korban dari hukum itu merupakan umat Kristen.

2 dari 4 halaman

Persekusi Gereja

Aksi Pasang Salib di Depan Kongres Nasional Brasil
Perbesar
Sekitar 1.000 salib diletakkan di depan Kongres Nasional di Brasilia, Minggu (28/6/2020). Aksi tersebut merupakan protes terhadap Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan untuk menghormati orang-orang yang meninggal karena COVID-19. (Sergio LIMA/AFP)

Gereja juga menjadi target persekusi. Serangan pada tahun ini dilaporkan menurun, namun karena tahun lalu sudah banyak gereja yang hancur.

Pada 2020, ada 4.488 gereja yang ditarget. Sementara, ada 9.488 gereja yang menjadi target persekusi pada 2019.

Ada 3.099 gereja yang dipersekusi di China, setelanya ada 270 yang hancur di Nigeria. Di Bangladesh tercatat ada 90 gereja yang dihancurkan.

Open Door mengartikan serangan ke gereja dalam bentuk permintaan untuk menurunkan salib, penutupan administratif, hingga penghancuran.

China menjadi negara yang menjadi sorotan dalam persekusi gereja.

"Hampir 18 ribu gereja telah menjadi target selama tujuh tahun terakhir di China," tulis Open Door.

3 dari 4 halaman

Penahanan Paksa

FOTO: Paus Fransiskus Lantik 13 Kardinal Baru
Perbesar
Kardinal baru Italia, Mauro Gambetti udai dia diangkat oleh Paus Fransiskus dalam upacara konsistori di mana 13 uskup diangkat ke pangkat kardinal di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu (28/11/2020). (Fabio Frustaci/POOL via AP)

Open Door juga merilis daftar penangkapan orang Kristen tanpa dasar hukum yang jelas (arbitrary arrest).

Tahun 2020, angka arbitrary arrest sedikit menurun dari 4.811 pada 2019 menjadi 4.287.

Meski angkanya turun, Open Door menyorot bahwa kekerasan anti-Kristen semakin intens.

"Kekerasan anti-Kristen telah mengalami intesifikasi sebanyak 10 persen dibanding 2019," tulis Open Door.

Open Door menyebut lebih dari 340 juta orang Kristen telah dipersekusi atau didiskrimnasi akibat kepercayaan mereka di 50 negara.

Penahanan terbanyak pada umat Kristen terjadi di Eritera (1.030 kasus), China (1.010), Pakistan (162), Iran (154), dan Bangladesh (144).

Kasus penahanan di Eritera, China, dan Pakistan hanyalah estimasi minimal.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓