Sukses

Pesan Para Penyintas COVID-19 Asal Wuhan: Hargai Hidup dan Kebersamaan

Salah satu penyintas COVID-19 yang berasal di Wuhan menyampaikan pesan penting usai berhasil sembuh dari penyakit tersebut, yakni pentingnya menghargai waktu saat hidup dan kebersamaan.

Jakarta - Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi semua orang di dunia, tanpa peduli dimana ia berada. Hal ini tentu disebabkan oleh menyebarnya Virus Corona atau yang kini kita juga kenal dengan COVID-19.

Virus yang menyebar secara luas, cepat dan ganas ini telah menjadi tantangan baru sekaligus berat bagi setiap orang.

Banyak rencana yang kandas, banyak orang yang kehilangan pekerjaan, banyak mimpi yang tak mampu tergapai bahkan banyak kerabat yang harus berpulang. 

Tahun 2020 sudah tiba di penghujungnya, namun nampaknya bayang-bayang pandemi Virus Corona masih menghantui. 

Rasa takut dan cemas masih membayangi, seluruh sistem kehidupan belum betul-betul pulih. 

Tahun 2021 sudah di depan mata, namun masa depan masih terlihat abu-abu. Walau vaksinasi sudah mulai dilakukan, banyak yang masih terlalu takut untuk berencana. 

Saat ini, kita yang masih berada di sini hanya punya satu tugas yaitu bertahan. Mempertahankan diri dari segala kemungkinan, terutama dari penyakit COVID-19 dengan cara menerapkan segala protokol kesehatan yang bisa dilakukan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Pesan dari Penyintas COVID-19

Beberapa orang mungkin masih menganggap ini sepele, sampai akhirnya dirinya harus mengalami dampak dari Virus Corona. 

Salah satu penyintas COVID-19 pun membagikan ceritanya ketika ia terinfeksi Virus Corona. 

Mengutip DW, Minggu (20/12/2020), di akhir tahun 2019, pengusaha perempuan asal Wuhan, Cina, yang bernama Duan Ling dan suaminya, ahli bedah Fang Yushun, mulai mendengar cuplikan di grup obrolan rumah sakit tentang munculnya penyakit baru di bangsal perawatan penyakit pernapasan di kota itu. 

Pada awalnya Duan tidak terlalu mengambil pusing. Lagi pula, tahun itu Fang juga baru kembali dari tugas belajarnya di Amerika Serikat. Pasangan yang sama-sama berusia 36 tahun ini sedang berencana membangun sebuah keluarga, mereka pun memulai perawatan kesuburan yang mahal harganya.

"Namun dengan semakin banyaknya berita yang masuk, kami mulai menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang berbeda dengan penyakit infeksi sebelumnya," ujar Duan.

Hanya dalam waktu sebulan, Fang menjadi salah satu orang pertama di dunia yang tertular penyakit yang kemudian dikenal sebagai COVID-19 dan telah menginfeksi lebih dari 74 juta di seluruh dunia serta menewaskan lebih dari 1,5 juta orang.

3 dari 5 halaman

Awal Wabah di Wuhan

Selama hari-hari awal wabah, rumah sakit kota Wuhan penuh pasien, fasilitas pengujian adalah hal yang langka, dan banyak dokter bekerja tanpa alat pelindung.

"Saat itu di Wuhan sudah banyak pasien yang belum terdiagnosis. Karena itu kami masih belum tahu bagaimana dia bisa sampai tertular," kata Duan.

Fang mungkin saja tertular penyakit itu di rumah sakit tempatnya bekerja, tetapi pasangan itu juga tinggal sangat dekat dengan Pasar Makanan Laut Grosir Huanan Wuhan, tempat ditemukannya beberapa kasus awal yang mengarah pada penemuan penyakit tersebut.

Pada tanggal 3 Februari, yaitu hari ketika kasus infeksi Fang dikonfirmasi, lebih dari 420 orang telah meninggal karena COVID-19 dan Wuhan telah mulai mengumumkan beberapa ribu kasus baru setiap hari. Saat itu, kota Wuhan juga telah dua minggu memasuki masa penguncian panjang dan melelahkan yang berlangsung selama 76 hari, memisahkan kota itu dari keseluruhan wilayah Cina. 

"Saya akhirnya merasa angka-angka itu bukan sekedar fakta yang dingin, karena di antara 2.388 orang itu, salah satunya adalah pelindung keluarga kecil saya," kata Duan.

4 dari 5 halaman

Berhasil Sembuh

Fang termasuk salah satu yang beruntung. Sementara 3.869 orang meninggal karena virus corona di Wuhan, dia hanya mengalami gejala sedang dan masih harus bekerja, bahkan setelah dia mulai menunjukkan gejala, Duan memaparkan ingatannya.

Duan percaya ada kemungkinan dirinya juga telah tertular virus SARS-CoV-2, karena dia menunjukkan beberapa gejala sekitar waktu yang sama. Namun ia tidak pernah tahu pasti karena langkanya fasilitas pengujian di Wuhan pada bulan-bulan pertama tahun 2020, dan terbatasnya pekerja medis di garis depan berupaya merawat pasien yang sakit parah.

Ketika Fang masuk rumah sakit, dia mengalami demam tinggi, debaran jantungnya pada saat istirahat mencapai lebih dari 100 detak per menit, dan hasil rontgen dadanya menyerupai serbuk kaca. Duan saat-saat itu sebagai hal yang di luar kenyataan.

“Saat sedang sendirian, saya menonton video dia bermain gitar di asrama ketika ia belajar di luar negeri” pada tahun 2019, katanya sambil tersedak ketika menceritakan masa-masa sulit selama dua bulan itu.

“Tapi epidemi ini tidak pernah membuat saya menangis, dan saya selalu percaya bahwa kami dapat melewati ini,” katanya. 

Cuplikan video yang dibagikan oleh pasangan itu menunjukkan Fang yang berpiyama biru putih dan memakai masker bergerak perlahan di sekitar bangsalnya. Statusnya sebagai penyintas COVID-19 telah menempatkannya bergabung di klub beranggotakan lebih dari 70 juta orang di seluruh dunia, banyak di antara mereka masih terus menghadapi masalah kesehatan yang kompleks.

Sekitar sembilan dari sepuluh penyintas COVID-19 mengalami efek samping yang bertahan lama, dampak jangka panjang penyakit tersebut juga masih belum diketahui. Duan mengatakan kerabat dan teman mereka masih takut penyakit Fang bisa aktif kembali.

“Mereka mungkin juga mengungkapkan kekhawatiran ini saat kami pergi ke pesta bersama mereka, jadi kami tidak pergi dulu. Jadi, masih ada beberapa hal yang mengganjal di hati saya.”

5 dari 5 halaman

Antara Trauma dan Harapan

Hari ini, sebagian besar Wuhan telah kembali normal. Kota tersebut belum melaporkan kasus COVID-19 baru sejak Mei. Jalan-jalan, bar, pasar basah, dan restoran semuanya penuh sesak. Namun bagi beberapa keluarga yang kurang beruntung dibandingkan Fang dan Duan, peristiwa traumatis pada masa awal wabah masih sulit untuk dilupakan.

“Tidak ada lagi yang bisa saya katakan,” kata seorang perempuan asal Wuhan yang mengaku bermarga Chen. Januari lalu, ia bersama ibu, ayah, dan saudara perempuannya tertular penyakit itu. Ayahnya meninggal pada awal Februari.

“Meskipun Wuhan telah kembali normal,... Anda tidak bisa lepas dari ingatan ini ketika seluruh dunia kini mengalaminya,” ujar Chen. Ia menolak diidentifikasi dengan nama lengkap karena pada awal pandemi polisi lokal telah memperingatkannya untuk tidak menyebarkan kisahnya. 

Sementara Duan dan Fang, mereka kini fokus menghadapi masa depan. Pasangan ini pindah ke apartemen baru, yang ditawarkan oleh pengembang properti lokal dengan diskon 15 persen untuk pekerja medis garis depan. Kardus barang-barang sewaktu pindahan masih banyak yang belum dibuka, tapi mereka telah kembali mendiskusikan rencana untuk memulai kembali perawatan kesuburan.

“Hidup ini sebenarnya cukup singkat, dan hidup merupakan proses yang penuh kejutan,” kata Duan.

"Setiap hari yang damai dan tenang sebenarnya sangat berharga. Jadi, kami akan lebih menghargai waktu kebersamaan kami di masa depan.”

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.