Pasien COVID-19 Meninggal Karena Tabung Oksigen Terbatas, Direktur RS di Pakistan Diskors

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 08 Des 2020, 09:33 WIB
Diperbarui 08 Des 2020, 09:33 WIB
Gerbong Kereta untuk Bangsal Karantina Virus Corona
Perbesar
Para staf medis yang mengenakan pakaian pelindung berada di dalam kompartemen kereta api yang diubah menjadi bangsal karantina untuk virus Corona COVID-19 di stasiun kereta api di Rawalpindi, Provinsi Punjab, Pakistan timur, pada 30 Maret 2020. (Xinhua/Ahmad Kamal)

Liputan6.com, Jakarta- Enam pasien COVID-19 meninggal dunia karena sedikitnya persediaan tabung oksigen di sebuah rumah sakit di Pakistan

Kerabat para pasien menceritakan bagaimana mereka berjuang mencari bantuan saat rumah sakit yang dikelola pemerintah di Kota Peshawar kewalahan dalam menangani banyaknya jumlah pasien COVID-19

Dilansir BBC News, Selasa (8/12/2020) tertundanya pengantaran tabung oksigen itu membuat lebih dari 200 pasien menunggu hingga berjam-jam dengan kadar oksigen yang dikurangi.

Kasus tersebut pun membuat pejabat rumah sakit menyalahkan kekurangan pada perusahaan pemasok oksigen, dengan direktur rumah sakit dan beberapa staf lainnya yang diskors.

Saat ini, Pakistan sedang menghadapi gelombang baru kasus Virus Corona COVID-19, dengan total lebih dari 400.000 infeksi dan lebih dari 8.000 kematian sejak awal pandemi. 

Menurut media lokal Pakistan, masalah yang dihadap Khyber Teaching Hospital mulai terjadi setelah pasokan tabung oksigen hariannya tidak tiba pada Sabtu malam (5 Desember). 

Selain itu, 300 silinder cadangan juga tidak dapat memberikan kapasitas yang diperlukan untuk ventilator.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Terpaksa Cari Tabung Oksigen Tanpa Bantuan RS

Gerbong Kereta untuk Bangsal Karantina Virus Corona
Perbesar
Staf medis memeriksa peralatan di dalam kompartemen kereta api yang diubah menjadi bangsal karantina untuk virus Corona COVID-19 di stasiun kereta api di Rawalpindi, Provinsi Punjab, Pakistan timur, pada 30 Maret 2020. (Xinhua/Ahmad Kamal)

Anak dari seorang ibu yang mengalami COVID-19, yakni Mureed Ali, mengungkapkan kepada BBC Urdu bahwa "di seluruh rumah sakit, kami berlari untuk menyelamatkan pasien, memohon kepada staf medis".

Ali juga menceritakan bahwa beberapa pasien akhirnya dipindahkan ke ruang gawat darurat, di mana pasokan oksigen masih cukup.

Tapi setelah persediaan oksigen menipis, beberapa pasien meninggal, sementara banyak kondisi pasien lainnya yang memburuk hingga ada yang mengalami kritis.

Kendati demikian, staf rumah sakit meminta pihak keluarga pasien untuk mencoba membeli tabung oksigen mereka sendiri, menurut Ali, tetapi hanya beberapa dari mereka yang berhasil melakukannya.

Selain itu, seorang juru bicara rumah sakit yang dikelola pemerintah mengatakan kepada BBC bahwa lima dari orang yang meninggal adalah pasien di bangsal COVID-19 dan satu di unit perawatan intensif.

Menurut para pejabat setempat, semua pasien yang meninggal itu adalah orang dewasa.

Pada 6 Desember, pukul 04.00 waktu setempat, pasokan oksigen resmi yang tertunda akhirnya berhasil sampai di rumah sakit.

Namun pejabat rumah sakit menganggap kekurangan pasokan oksigen itu sebagai "kelalaian kriminal".

Kemudian, upaya penyelidikan oleh otoritas setempat menemukan bahwa staf rumah sakit yang dimaksudkan untuk bertugas dalam pemasokan oksigen  tidak hadir bekerja pada saat itu, dan bahwa tangki oksigen di lokasi secara rutin hanya akan terisi sebagian.

3 dari 4 halaman

Infografis Meredam Kepanikan Wabah Virus Corona

Infografis Meredam Kepanikan Wabah Virus Corona. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Meredam Kepanikan Wabah Virus Corona. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓