WHO: Malaria Berpotensi Meningkat di Masa Pandemi Corona COVID-19

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 01 Des 2020, 07:02 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 07:02 WIB
Menghilangkan bekas gigitan nyamuk
Perbesar
Ilustrasi Menghilangkan bekas gigitan nyamuk (sumber: Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Kurangnya dana dalam upaya pengobatan masyarakat di sub-Sahara Afrika di tengah pandemi Virus Corona COVID-19, bisa berisiko menyebabkan puluhan ribu nyawa hilang. Terlebih penyakit yang menyerang adalah malaria, menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dikutip dari laman Al Jazeera, Selasa (1/12/2020) Badan Kesehatan PBB prihatin bahwa gangguan "ringan" semacam itu, terutama akses perawatan dapat menyebabkan "hilangnya nyawa yang cukup besar".

Gangguan akses untuk memperoleh obat anti-malaria di sub-Sahara Afrika dapat menyebabkan 19.000 kematian tambahan, tulis laporan tersebut.

"COVID-19 semakin mengancam upaya kita untuk menanggulangi malaria, khususnya mengobati penderita penyakit tersebut," kata Dr Matshidiso Moeti, Direktur Regional WHO untuk Afrika.

Terlepas dari dampak buruk COVID-19 terhadap ekonomi Afrika, mitra internasional dan banyak negara dinilai perlu berbuat lebih banyak untuk memastikan bahwa malaria tak menjadi permasalahan lain yang muncul ke permukaan.

Laporan dunia terbaru WHO tentang malaria dapat dicegah dan diobati, terutama yang menyerang negara-negara di Afrika.

Namun, data menunjukkan kemajuan untuk melawan malariatelah melambat ketika pandemi COVID-19 muncul awal tahun 2020.

Pada 2019, ada 229 juta kasus malaria di seluruh dunia, angka tahunan yang hampir tidak berubah selama empat tahun terakhir.

Sekitar 409.000 orang meninggal akibat penyakit itu pada 2019 dibandingkan dengan 411.000 pada 2018. Badan kesehatan PBB mengatakan pendanaan adalah bagian dari masalah.

 

2 dari 3 halaman

Kekurangan Dana

FOTO: [CERITA] Pemusalaran Korban COVID-19 di Soweto
Perbesar
Para pengurus memindahkan jenazah pasien virus corona COVID-19 ke dalam peti mati di rumah duka AVBOB, Soweto, Afrika Selatan, 24 Juli 2020. (MARCO LONGARI/AFP)

Pada tahun 2000, para pemimpin Afrika menandatangani Deklarasi Abuja yang berjanji untuk mengurangi kematian akibat malaria di benua itu hingga 50 persen selama periode 10 tahun.

Komitmen politik dibarengi dengan peningkatan tajam dalam pendanaan domestik dan internasional yang membantu mengurangi jumlah kematian akibat malaria di benua itu sebesar 44 persen.

Tetapi kekurangan dana telah menyebabkan kesenjangan dalam akses ke langkah-langkah pengendalian malaria, kata WHO, dan kekurangan pada 2019 adalah senilai $ 3 miliar dibandingkan dengan target $ 5,6 miliar.

"Penargetan intervensi yang lebih baik, perangkat baru, dan peningkatan pendanaan diperlukan untuk mengubah lintasan global penyakit dan mencapai target yang disepakati secara internasional," kata WHO.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓