How Democracies Die Viral, Ini Ringkasan Buku yang Dibaca Anies Baswedan

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 23 Nov 2020, 07:55 WIB
Diperbarui 23 Nov 2020, 09:35 WIB
How Democracies Die merupakan buku karangan dari Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (Instagram/Anies Baswedan)
Perbesar
How Democracies Die merupakan buku karangan dari Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (Instagram/Anies Baswedan)

Liputan6.com, Jakarta- How Democracies Die. Judul buku yang dibaca Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada Minggu, 22 November 2020 pagi jadi sorotan. Hal itu tampak dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.

"Selamat pagi semua. Selamat menikmati Minggu pagi," tulis @aniesbaswedan.

Tak hanya penampilan santai Anies yang mengenakan setelah kemeja putih plus sarung yang jadi sorotan. Namun, apa yang dibaca oleh Gubernur DKI Jakarta tersebut begitu mencolok dan menarik perhatian warganet.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram

Sebuah kiriman dibagikan oleh Anies Baswedan (@aniesbaswedan)

"Judul Bukunyaaa Kode Kerass! Segar selalu pak! salam dari Jabar," tulis @ozonnmariana.

"Bukunya kode banget," lanjut @okiez_99.

Lalu, apa sebenarnya isi buku dengan cover hitam dan fon tulisan putih tersebut?

Berdasarkan keterangan dari situs lifeclub.org, How Democracies Die merupakan karangan dari Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Buku ini menjelaskan seputar kematian sistem demokrasi dunia, mengingat sejumlah permasalahan politik, terutama di kawasan Amerika.

Dalam bukunya, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menjelaskan jika demokrasi ingin tetap sehat dan berfungsi, diperlukan sejumlah kepatuhan pada aturan tertentu serta kode etik pro-demokrasi.

"Dengan melihat studi kasus dari demokrasi yang jatuh di Venezuela dan Peru, penulis mengklaim bahwa sikap yang dipromosikan oleh pemerintahan Trump telah menyebabkan munculnya kediktatoran," tulis lifeclub.org.

Levitsky dan Ziblatt menjelaskan bagaimana demokrasi di AS telah lama bermasalah. Terutama dalam hal hak pemilih. Penulis juga memberikan harapan kepada pembaca agar AS dapat mengatasi badai tersebut.

"Dalam ringkasan How Democracies Die oleh Steven Levitsky, Daniel Ziblatt, Anda juga akan menemukan bagaimana sistem dua partai di AS berfungsi sebagai penjaga gerbang yang kuat di masa lalu. Mengapa para pemimpin Republik perlu melangkah dan membersihkan rumah seperti yang dilakukan Swedia pada tahun 1930-an; dan bagaimana Partai Republik berubah dari partai Lincoln menjadi partai Trump," tulis Lifeclub.

 

2 dari 3 halaman

Tanda Kematian Demokrasi?

FOTO: Anies Baswedan Penuhi Undangan Klarifikasi Polda Metro Jaya
Perbesar
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan usai memenuhi undangan klarifikasi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (17/11/2020). Anies memenuhi panggilan Polda Metro Jaya untuk dimintai klarifikasi terkait kerumunan massa di rumah Rizieq Shihab pada masa PSBB transisi. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Kematian demokrasi suatu negara yang digambarkan oleh Levitsky dan Ziblatt dicirikan dalam sejumlah tanda-tanda.

"Tanda bahaya itu adalah ketika seorang politisi mencoba untuk mendiskreditkan lawannya secara palsu. Apakah seseorang membuat klaim yang tidak berdasar bahwa lawan harus dipenjara, atau merupakan musuh negara?"

"Tanda peringatan selanjutnya adalah toleransi, atau sikap mendorong terhadap penggunaan kekerasan. Apakah dia berbisnis dengan tokoh-tokoh mafia atau mendukung aksi orang militan?"

"Tanda terakhir adalah ungkapan keinginan untuk mereduksi hak-hak sipil seseorang atau lembaga, seperti tuntutan bahwa negara akan lebih baik tanpa kebebasan pers."

How Democracies Die diterbitkan pada tahun 2018 dengan total 320 halaman. Berdasarkan keterangan dari situs amazon.com, buku ini dijual dengan harga US$ 33,90 atau setara Rp 479 ribu (kurs 1 USD = Rp 14.147).

How Democracies Die juga memaparkan contoh kasus pergejolakan politik di sejumlah negara yang menunjukkan bagaimana cikal bakal kematian sebuah demokrasi sebagai sistem negara.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓