Donald Trump Tak Terdengar Bakal Jadi Tuan Rumah KTT G7, Sibuk Gugat Hasil Pemilu?

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 19 Nov 2020, 13:11 WIB
Diperbarui 19 Nov 2020, 13:28 WIB
FOTO: Donald Trump Sampaikan Pidato di Konvensi Nasional Partai Republik
Perbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato pada hari keempat Konvensi Nasional Partai Republik di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (27/8/2020). (AP Photo/Evan Vucci)

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak berencana menjadi tuan rumah KTT negara maju Kelompok Tujuh (G7) setelah membatalkan pertemuan pada Juni karena pandemi COVID-19, kata tiga sumber diplomatik pada Rabu 18 November 2020.

Presiden Republik, yang menolak untuk menerima kemenangan dari Demokrat Joe Biden dalam pemilihan 3 November, belum membuat keputusan akhir, tetapi waktu hampir habis untuk merencanakan pertemuan puncak sebelum dia menyerahkan kekuasaan pada 20 Januari tahun depan. Demikian seperti mengutip Channel News Asia, Kamis (19/11/2020). 

Tiga sumber diplomatik mengatakan tidak ada penjangkauan oleh pemerintahan Trump pada tanggal atau agenda untuk kemungkinan KTT G7.

Meskipun pertemuan online masih dimungkinkan, belum ada pekerjaan tentang pernyataan bersama apa pun - proses yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan, kata salah satu sumber.

Terkait hal ini, Gedung Putih menolak berkomentar.

Inggris, yang menjadi presiden bergilir KTT G7 dari Amerika Serikat pada Januari, pekan lalu mengucapkan selamat kepada Biden atas kemenangannya dan mengundangnya ke Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Skotlandia tahun depan, serta KTT G7.

2 dari 3 halaman

Tuan Rumah KTT G7

Donald Trump tanggapi hasil Pilpres AS
Perbesar
Presiden Donald Trump berbicara tentang hasil pemilihan presiden AS 2020 di Gedung Putih, Kamis (5/11/2020). Hingga saat ini proses penghitungan suara pemilihan presiden Amerika masih berlangsung, namun perolehan suara Donald Trump maupun Joe Biden masih bersaing ketat. (AP Photo/Evan Vucci)

Trump pertama kali membatalkan rencana untuk pertemuan puncak pada 10 Juni secara langsung pada bulan Maret karena pandemi COVID-19, tetapi kemudian berusaha menghidupkannya kembali, hanya untuk membatalkan rencana pada Mei setelah pemimpin Jerman Angela Merkel mengatakan dia tidak akan hadir.

Pada Agustus, dia mengatakan cenderung menjadi tuan rumah pertemuan dalam "suasana yang lebih tenang" setelah pemilihan presiden, tetapi tidak ada tindakan lebih lanjut yang diambil, kata salah satu sumber.

Trump juga mengatakan dia akan memperluas daftar undangan untuk memasukkan Australia, Rusia, Korea Selatan dan India, menolak G7 sebagai "kelompok negara yang sangat ketinggalan zaman".

Dorongan Trump untuk memasukkan Rusia bertemu dengan sambutan dingin dari Jerman dan sekutu lainnya.

Rusia diusir dari G8 pada tahun 2014 ketika pendahulu Trump, Barack Obama menjadi presiden AS, setelah Moskow mencaplok wilayah Krimea dari Ukraina.

Rusia masih menguasai wilayah itu, dan berbagai pemerintah anngota G7 telah menolak seruan sebelumnya dari Trump untuk menerima kembali Moskow.

Kelompok G7 adalah Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang, dan Uni Eropa juga hadir. Kelompok ini mulai bertemu pada tahun 1975, awalnya tanpa Kanada.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓