Empat Roket Menghantam Zona Hijau Irak Dekat Kedubes AS, Siapa Dalangnya?

Oleh Liputan6.com pada 18 Nov 2020, 11:09 WIB
Diperbarui 18 Nov 2020, 11:09 WIB
Kondisi Pangkalan Militer AS Usai Dihujani Rudal Iran
Perbesar
Tentara AS memeriksa lokasi pemboman Iran di pangkalan udara Ain al-Asad, Anbar, Irak, Senin (13/1/2020). Iran menghujani pangkalan militer AS tersebut dengan rudal sebagai balasan atas kematian Jenderal Qasem Soleimani. (AP Photo/Ali Abdul Hassan)

Liputan6.com, Baghdad - Empat roket Katyusha menghantam Zona Hijau yang dijaga sangat ketat di Baghdad. Demikian menurut informasi dari militer Irak

Mengutip VOA Indonesia, Rabu (18/11/2020), serangan roket itu melukai sedikitnya dua orang dan mengisyaratkan berakhirnya gencatan senjata informal yang diumumkan oleh milisi yang didukung Iran pada Oktober lalu.

Pernyataan militer itu mengatakan roket-roket tersebut menghantam Zona Hijau, yang merupakan kawasan di mana terdapat pemerintah Irak dan sejumlah kantor kedutaan besar asing, termasuk Kedutaan Besar Amerika.

Menurut pernyataan itu, keempat roket tersebut diluncurkan dari permukiman Al Amin Al Thaniyah di Baghdad.

Sejauh ini belum ada satu orang pun yang mengaku bertanggung jawab terhadap serangan itu.

Pejabat keamanan Irak mengatakan roket-roket itu jatuh hanya 600 meter dari Kedutaan Besar Amerika dan dicegat oleh sistem pertahanan udara C-RAM yang dipasang oleh Amerika pada awal tahun ini.

Dua petugas keamanan Irak luka-luka, tambah pejabat itu. Mereka berbicara secara anonim sesuai peraturan yang berlaku.

2 dari 2 halaman

AS Berencana Tutup Misi Diplomatik di Irak

Kondisi Pangkalan Militer AS Usai Dihujani Rudal Iran
Perbesar
Tentara AS membersihkan puing-puing dari bekas pemboman Iran di pangkalan udara Ain al-Asad, Anbar, Irak, Senin (13/1/2020). Iran menghujani pangkalan militer AS tersebut dengan rudal sebagai balasan atas kematian Jenderal Qasem Soleimani. (AP Photo/Ali Abdul Hassan)

Serangan yang sering menarget kantor-kantor kedutaan itu membuat Amerika mengancam akan menutup misi diplomatiknya di Baghdad. Hal ini sempat memicu krisis diplomatik sebelum pemilihan presiden Amerika.

Pertengahan Oktober lalu kelompok milisi yang didukung Iran mengumumkan untuk sementara waktu akan menghentikan serangan yang menarget kehadiran Amerika di Irak, termasuk kantor-kantor kedutaan. Namun, mereka memberi sayarat pasukan koalisi pimpinan Amerika mundur dari negara itu.

Serangan ini terjadi setelah pengumuman Pentagon baru-baru ini untuk mengurangi jumlah pasukan di Irak dari 3.000 personel menjadi 2.500 personel saja. Penarikan pasukan dari Irak telah direncanakan selama beberapa bulan, di mana pasukan koalisi juga menarik personelnya dari beberapa pangkalan di Irak. 

Lanjutkan Membaca ↓