Pemerintah Austria Akui Kegagalan Sistem Keamanan Usai Insiden Terorisme di Wina

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 05 Nov 2020, 14:56 WIB
Diperbarui 05 Nov 2020, 14:56 WIB
Bendera nasional Austria berkibar setengah tiang di sebuah gedung di pusat kota di Wina, Austria, Rabu, 4 November 2020. (AP Photo / Matthias Schrader)
Perbesar
Bendera nasional Austria berkibar setengah tiang di sebuah gedung di pusat kota di Wina, Austria, Rabu, 4 November 2020. (AP Photo / Matthias Schrader)

Liputan6.com, Wina - Austria mengakui bahwa telah terjadi kegagalan keamanan yang mengarah pada amukan senjata mematikan di Wina oleh seorang simpatisan ISIS.

Menteri Dalam Negeri Karl Nehammer mengatakan, badan intelijen telah menerima peringatan dari tetangganya Slowakia bahwa penyerang telah mencoba membeli amunisi, tetapi "kegagalan komunikasi" telah menyusul. Demikian seperti mengutip laman Channel News Asia, Kamis (5/11/2020). 

Pria bersenjata itu, yang diidentifikasi sebagai Kujtim Fejzulai merupakan warga negara Austria-Makedonia berusia 20 tahun. Ia dibunuh oleh polisi setelah melakukan penembakan di Wina pada Senin malam hingga menewaskan empat orang.

Penyelidik masih mencoba mengumpulkan informasi tentang Fejzulai dan kemungkinan kaki tangannya, setelah polisi menahan 14 orang setelah penembakan itu.

Insiden tersebut merupakan serangan besar pertama di Austria selama beberapa dekade dan yang pertama disalahkan pada seorang militan.

Para pelaku "berusia 18 hingga 28 tahun, dari komunitas minoritas dan beberapa bukan warga negara Austria", kata Nehammer.

Polisi mengatakan kemungkinan mereka turut mendukung aksi pria bersenjata itu, tetapi peran pasti mereka masih belum jelas.

2 dari 3 halaman

Dijatuhi Hukuman

FOTO: 1 Orang Tewas dalam Insiden Penembakan di Wina
Perbesar
Polisi berjaga di sebuah jalan di Wina, Austria, 2 November 2020. Satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka parah dalam sejumlah insiden penembakan yang terjadi pada Senin (2/11) malam waktu setempat di pusat Kota Wina. (Xinhua/Georges Schneider)

Fejzulai telah divonis dan dijatuhi hukuman 22 bulan penjara pada April tahun lalu karena mencoba melakukan perjalanan ke Suriah dan bergabung dengan kelompok ISIS.

Tapi dia dibebaskan dalam masa percobaan pada bulan Desember dan telah dirujuk ke organisasi yang mengkhususkan diri dalam program deradikalisasi.

Kelompok terorisme ISIS, yang telah mengklaim banyak serangan di Eropa telah mengakui bahwa seorang tentaranya bertanggung jawab atas penembakan itu.

Pria bersenjata itu melepaskan tembakan tanpa pandang bulu di pusat kota bersejarah, hanya beberapa jam sebelum Austria memberlakukan lockdown Virus Corona COVID-19, ketika orang-orang berada di bar dan restoran menikmati malam terakhir kebebasan relatif.

Keamanan pun kemudian diperketat di kota itu, di mana kehidupan kembali normal meskipun di bawah aturan pembatasan baru demi membendung Virus Corona COVID-19. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓