Amerika Siap Jual Senjata Pertahanan ke Taiwan Meski China Mengancam

Oleh Liputan6.com pada 28 Okt 2020, 09:31 WIB
Diperbarui 28 Okt 2020, 09:31 WIB
Tsai Ing-wen, presiden wanita pertama Taiwan yang disumpah pada Mei 2016
Perbesar
Tsai Ing-wen, presiden wanita pertama Taiwan yang disumpah pada Mei 2016 (AP Photo/Chiang Ying-ying)

Liputan6.com, Taipei - Amerika Serikat (AS) siap menjual senjata ke Taiwan meski China memberi sinyal tidak setuju. Kementerian Pertahanan AS menyatakan, Kementerian Luar Negeri mereka sudah memberikan lampu hijau penjualan senjata. 

Dikutip dari VOA Indonesia, Rabu (28/10/2020), AS akan menjual sistem pertahanan Harpoon Coastal Defense System buatan Boeing ke Taiwan. Kesepakatan itu ditaksir bernilai hingga US$ 2,37 miliar. 

Langkah itu dilakukan beberapa hari setelah Kementerian Luar Negeri menyetujui potensi penjualan tiga sistem senjata lainnya ke Taiwan, termasuk sensor, rudal, dan artileri yang dapat mencapai nilai total US$ 1,8 miliar yang segera mengundang ancaman sanksi dari China.

Sebelumnya pada Senin 26 Oktober di Beijing, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan kepada para wartawan bahwa China akan menjatuhkan sanksi pada Lockheed Martin, Boeing Defense, Raytheon, dan perusahaan-perusahaan Amerika lainnya yang menurutnya terlibat dalam penjualan senjata ke Taiwan.

Langkah Amerika itu dilakukan selagi pemerintahan Trump meningkatkan tekanan pada China menjelang pemilihan presiden 3 November dan adanya kekhawatiran yang semakin meningkat terkait niat Beijing terhadap Taiwan.

Beijing menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri. Beijing bertekad akan menyatukannya kembali dengan China daratan, bahkan jika perlu dengan kekuatan.

2 dari 4 halaman

China Tuding AS Ganggu Stabilitas di Selat Taiwan

Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)
Perbesar
Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

China mengatakan pada Kamis 15 Oktober 2020 bahwa Amerika Serikat secara serius merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan setelah kapal perusak Angkatan Laut AS berlayar melalui perairan di tengah meningkatnya ketegangan antara Beijing dan Taipei.

Mengutip laman Channel News Asia,  Zhang Chunhui, juru bicara komando teater timur China, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa militer China mengikuti dan memantau USS Barry ketika kapal perusak tersebut melakukan apa yang oleh Angkatan Laut AS disebut sebagai "transit rutin Selat Taiwan" pada hari Rabu kemarin.  

China menganggap Taiwan sebagai provinsi "nakal" yang perlu dipersatukan kembali dengan daratan, bahkan dengan kekerasan jika diperlukan. 

Pemerintah Amerika Serikat, di sisi lain, telah meningkatkan dukungan untuk Taiwan baru-baru ini untuk mendukung apa yang dianggapnya sebagai pos terdepan demokrasi yang penting.

Beijing menuduh Washington dan Taipei melakukan "kolusi" terhadap pulau yang mendeklarasikan kemerdekaan resmi dan baru-baru ini meningkatkan aktivitas angkatan udara di dekat Taiwan untuk unjuk kekuatan.

Gedung Putih mendorong untuk menjual peralatan militer canggih termasuk drone MQ-9 dan sistem rudal pertahanan pesisir kepada Taiwan. Hal ini pun memicu ketegangan lebih lanjut dari ketegangan kedua negara yang sudah panas. 

3 dari 4 halaman

China Minta AS Setop Campur Tangan

Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)
Perbesar
Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)

Zhang mengatakan Amerika Serikat harus menghentikan kata-kata dan tindakan provokatifnya di Selat Taiwan.

Ia juga menambahkan militer China akan dengan tegas mempertahankan integritas wilayah negara dan menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Kementerian pertahanan Taiwan mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa USS Barry berlayar ke arah utara melalui selat dan pasukannya juga memantau kapal perang tersebut, menambahkan bahwa situasinya seperti biasa.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by