Ilmuwan Belanda Temukan Organ Baru Bernama Kelenjar Ludah Tubarial

Oleh Liputan6.com pada 22 Okt 2020, 11:56 WIB
Diperbarui 22 Okt 2020, 11:56 WIB
Ilustrasi Kelenjar Tubarial
Perbesar
Ilustrasi kelenjar tubarial (@amarsrivastava/Twitter).

Liputan6.com, Amsterdam - Para ilmuwan telah menemukan organ baru di dalam kepala manusia, yakni satu set kelenjar ludah yang terletak jauh di bagian atas tenggorokan. Kelenjar tersebut berada di daerah nasofaring.

Nasofaring sendiri terletak di belakang hidung dan diketahui tidak menampung apa pun kecuali kelenjar ludah mikroskopis. Namun, kelenjar baru yang ditemukan di area tersebut memiliki panjang rata-rata 1,5 inci (3,9 cm).

Organ baru ini memiliki topat tepat di atas sepotong tulang rawan yang bernama torus tubarius. 

Dikutip dari Livescience, Kamis (22/10/2020), karena letaknya tersebut, maka penemu organ baru ini menamainya sebagai kelenjar ludah tubarial. Menurut peneliti dalam jurnal Radiotherapy and Oncology, kelenjar ini mungkin bekerja untuk melumasi dan melembabkan tenggorokan bagian atas yang berada di belakang hidung dan mulut. 

 

2 dari 4 halaman

Kelenjar Ludah Tubarial Ditemukan Secara Tidak Sengaja

Kelenjar Ludah Tubarial
Perbesar
Ilustrasi kelenjar ludah tubarial (@VivekSubbiah/Twitter).

Penemuan kelenjar ludah tubarial tidak disengaja. Penemuan ini dimulai saat para peneliti di Institut Kanker Belanda menggunakan kombinasi CT scan dan positron emission tomography (PET) scan yang disebut PSMA PET-CT untuk mempelajari kanker prostat.

Dalam pemindaian PSMA PET-CT, dokter menyuntikkan "pelacak" radioaktif ke dalam pasien. Pelacak ini mengikat dengan baik pada protein PSMA, yang meningkat dalam sel kanker prostat. Uji klinis telah menemukan bahwa pemindaian PSMA PET-CT lebih baik daripada pencitraan konvensional dalam mendeteksi kanker prostat yang bermetastasis.

Pemindaian PSMA PET-CT juga sangat baik dalam mendeteksi jaringan kelenjar ludah, yang juga memiliki PSMA yang tinggi. Sampai saat ini, terdapat tiga kelenjar ludah yang besar pada manusia, yakni; satu di bawah lidah, satu di bawah rahang dan satu di belakang rahang, di belakang pipi.

"Di luar itu, mungkin seribu kelenjar ludah mikroskopis tersebar di seluruh jaringan mukosa tenggorokan dan mulut. Tetapi, betapa terkejutnya kami saat menemukan yang lain," imbuh Wouter Vogel, penulis studi dan ahli onkologi radiasi Institut Kanker Belanda.

Untuk mengkonfirmasi penemuan tersebut, Vogel dan rekan-rekannya menganalisis 100 pasien (99 di antaranya laki-laki karena fokus pada kanker prostat) dan menemukan bahwa semuanya memiliki kelenjar yang baru tersebut.

Mereka juga membedah daerah nasofaring dari dua mayat dari program donasi tubuh manusia dan menemukan bahwa daerah yang baru ditemukan terdiri dari jaringan kelenjar mukosa dan saluran yang mengalir ke nasofaring.

 

 

3 dari 4 halaman

Penemuan Ini Penting untuk Tata Cara Penanganan Kanker

Ilustrasi Kelenjar Ludah Tubarial
Perbesar
Ilustrasi kelenjar ludah tubarial

Penemuan itu bisa jadi penting bagi dokter untuk lebih hati-hati dalam melakukan penanganan kanker. Dokter yang menggunakan radiasi di kepala dan leher untuk mengobati kanker serta berusaha menghindari penyinaran pada kelenjar ludah, karena jika kelenjar ini rusak maka kualitas hidup akan ikut terpengaruh.

“Dampaknya pasien mungkin mengalami kesulitan makan, menelan atau berbicara, yang bisa menjadi beban nyata,” imbuh Vogel.

Tetapi karena tidak ada yang tahu tentang kelenjar ludah tubarial, maka dokter tidak menghindari penyinaran pada wilayah itu.

Para peneliti memeriksa catatan dari 700 pasien kanker yang dirawat di University Medical Center Groningen dan menemukan bahwa semakin banyak radiasi yang diterima pasien di area kelenjar ludah tubarial, maka semakin banyak efek samping yang akan mereka keluhkan.

"Langkah kami selanjutnya adalah mencari cara terbaik untuk menyelamatkan kelenjar baru ini. Jika kita bisa melakukan ini, pasien mungkin mengalami lebih sedikit efek samping dan akan menguntungkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan setelah pengobatan," imbuh Vogel.

 

Reporter: Ruben Irwandi

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓