Dua Sandera AS Dibebaskan oleh Houthi, Bagian dari Pertukaran Tahanan dengan Yaman

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 15 Okt 2020, 09:30 WIB
Diperbarui 15 Okt 2020, 09:30 WIB
Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)
Perbesar
Militan Houthi menguasai Hodeidah yang menjadi pelabuhan utama di Yaman (AP Photo)

Liputan6.com, Jakarta - Dua sandera AS yang ditahan oleh pemberontak Houthi di Yaman telah dibebaskan, tampaknya sebagai bagian dari pertukaran tahanan yang besar.

Sandra Loli, seorang pekerja kemanusiaan yang ditahan selama sekitar tiga tahun, dan pengusaha Mikael Gidada, yang ditahan selama sekitar satu tahun, dibebaskan pada Rabu 14 Oktober 2020, kata para pejabat AS. Demikian seperti mengutip laman BBC, Kamis (15/10/2020).

Sementara itu jasad tawanan AS ketiga, Bilal Fateen, juga dipulangkan.

Pembebasan ini terjadi setelah Houthi melaporkan menerima lebih dari 200 orang Yaman dari Oman, di mana banyak yang terdampar setelah menerima perawatan medis.

Proses pertukaran yang sangat ditunggu-tunggu antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, didukung oleh Saudi, dan pemberontak Houthi diperkirakan akan terjadi pada hari Kamis.

Dalam sebuah pernyataan, departemen luar negeri AS menyambut baik pembebasan Loli dan Gidada, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Fateen.

2 dari 2 halaman

Konflik Yaman dan AS

Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)
Perbesar
Salah seorang anggota pasukan militan Houthi yang berperang dengan pemerintah Yaman (AFP Photo)

Penasihat keamanan nasional AS Robert O'Brien berterima kasih kepada Sultan Haitham bin Tariq dari Oman dan Raja Salman dari Arab Saudi atas bantuan mereka, dan memuji Presiden Donald Trump atas dukungannya.

Seorang juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, sebelumnya men-tweet bahwa sekitar sekitar 240 orang Yaman yang kembali ke ibu kota Yaman, Sanaa, termasuk orang-orang yang telah terdampar atau terluka dan telah melakukan perjalanan ke ibu kota Oman, Muscat untuk menerima perawatan medis.

Abdulsalam menambahkan bahwa mereka termasuk korban yang telah melakukan perjalanan ke negara Teluk tersebut selama pembicaraan damai yang ditengahi PBB antara pihak-pihak yang bertikai di Stockholm pada 2018.

"PBB tidak membawa [mereka] kembali" sejalan dengan kesepakatan yang dicapai, katanya.

Abdulsalam juga berterima kasih kepada Oman atas "upaya kemanusiaannya", tetapi tidak menyebutkan pembebasan sandera AS.

Lanjutkan Membaca ↓