Tingkat Kemiskinan Kian Parah, Masyarakat di Jalur Gaza Cari Makanan dari Sampah

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 13 Okt 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 13 Okt 2020, 09:00 WIB
Otoritas Gaza Umumkan Lockdown
Perbesar
Polisi Hamas Palestina mengenakan masker berjaga di sebuah jalan saat pemberlakukan lockdown total selama 48 jam di Jalur Gaza, Selasa (25/8/2020). Lockdown dan jam malam diberlakukan menyusul terkonfirmasinya kasus Covid-19 pertama kalinya di sebuah kamp pengungsian. (AP Photo/Khalil Hamra)

Liputan6.com, Jakarta - Tingkat kemiskinan di Gaza semakin parah. Orang-orang di sana mulai mencari makanan melalui sampah ketika orang-orang Palestina berjuang melawan tingkat kemiskinan yang belum pernah terjadi sebelumnya, kata kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina.

Di Lebanon, Suriah, Yordania, Gaza dan di tempat lain, pengungsi Palestina merasa semakin menderita akibat pandemi, menurut kepala Relief and Works Agency PBB, Philippe Lazzarini. Demikian seperti mengutip laman The Guardian, Senin (12/10/2020). 

"Ada keputusasaan," katanya dalam sebuah wawancara.

"Di Gaza, orang-orang bertahan dari sampah," kata Lazzarini, mengacu pada laporan dari staf UNRWA di daerah kantong tersebut. 

"Semakin banyak orang yang berjuang untuk menyediakan satu atau dua makanan sehari untuk keluarga mereka."

Lazzarini, seorang ahli kemanusiaan yang berpengalaman, diangkat sebagai komisaris jenderal UNRWA pada bulan April, dan memimpin pada saat badan tersebut mengalami krisis yang parah.

2 dari 3 halaman

Makin Parah Sejak Pandemi COVID-19

FOTO: Krisis Listrik Melanda Jalur Gaza
Perbesar
Warga mengisi jeriken mereka dengan air minum dari pabrik desalinasi air di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza, Palestina, 24 Agustus 2020. Warga Palestina mengeluhkan pemutusan aliran air akibat krisis pemadaman listrik di Jalur Gaza yang diblokade.(Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Tingkat kemiskinan di Gaza memang sudah ada sejak lama, namun tampak semakin parah sejak pandemi COVID-19 melanda. 

Ancaman Virus Corona baru memberi dampak signifikan terhadap kamp-kamp pengungsi di Timur Tengah, rumah bagi sebagian besar dari 5,6 juta warga Palestina yang didukung oleh UNRWA.

Sementara itu, kemungkinan aneksasi Israel atas Tepi Barat yang diduduki semakin mengancam, mengancam untuk melumpuhkan pekerjaan UNRWA di sana.

Masalah juga kian diperparah oleh kerusakan dalam hubungan dengan mantan donor terbesarnya, AS, yang mengklaim - sejalan dengan serangan lama Israel terhadap badan tersebut - bahwa mereka "cacat dan tidak dapat diperbaiki".

Krisis keuangan meledak pada 2018 ketika Donald Trump memotong bantuan dana hingga $ 300 juta sumbangan tahunan, berbulan-bulan setelah dia dengan marah mengeluh bahwa AS "tidak menerima penghargaan atau penghormatan" dari Palestina atas bantuan tersebut.

"Itu ancaman, itu ancaman nyata," kata Lazzarini tentang pemotongan AS. 

"Kita harus mempertimbangkan ancaman ini."

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓