Kisah Sukses Pabrik Sepeda di Portugal, Banjir Pesanan di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 06 Okt 2020, 20:20 WIB
Diperbarui 06 Okt 2020, 20:20 WIB
bersepeda
Perbesar
Ilustrasi Sepeda Credit: pexels.com/pixabay

Liputan6.com, Jakarta- Saat awal pandemi Virus Corona COVID-19 pada Maret 2020, pabrik pembuat sepeda di Portugal khawatir akan masa depan mereka karena pabrik yang harus tutup selama dua bulan.

Namun, tampaknya tahun 2020 bakal menjadi tahun yang luar biasa, karena orang-orang memilih cara yang lebih sehat untuk bepergian dan menghindari transportasi umum.

Dilansir US News, Selasa (6/10/2020), untuk membantu mengekang penyebaran COVID-19 di Portugal, yang merupakan negara produsen sepeda terbesar di Eropa, negara tersebut harus menutup hampir 40 pabriknya dan membuat 8.000 pekerja mereka cuti.

Tetapi, sekarang negara tersebut sedang berjuang untuk memenuhi permintaan global yang meningkat pesat.

Bruno Salgado, anggota dewan eksekutif RTE Bikes, yang merupakan pabrik sepeda terbesar di Eropa, di kota Gaia, Portugal Utara, mengatakan bahwa "Ketika kami tutup pada 13 Maret, kami pikir itu akan menjadi bencana, kami sempat takut". 

Bruno kemudian menambahkan, "Tapi ternyata itu menjadi berkah tersembunyi bagi kami".

Seorang pegawai negeri di Lisbon, bernama Cristina Latoeira (42 tahun), mengungkapkan bahwa pandemi membuatnya mengeluarkan uang hingga sebesar 800 euro untuk membeli sepeda listrik yang telah lama diimpikannya.

"(Hal) ini adalah ketakutan berada di angkutan umum yang sangat sibuk, di musim dingin, ketakutan akan penularan yang membuat saya memilih moda transportasi yang saya anggap jauh lebih aman," terang Latoeira. 

Setelah jeda musim panas, seperti kebanyakan negara Eropa lainnya, peningkatan jumlah infeksi COVID-19 kembali terjadi di Portugal baru-baru ini.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

Saksikan Video Berikut Ini:


Produksi 5 Ribu Sepeda Sehari

Ilustrasi Sepeda
Perbesar
Ilustrasi sepeda (dok. Pixabay.com/Pexels)

Diketahui bahwa terdapat sekitar 90% produksi sepeda yang diekspor oleh Portugal, dengan pasar utama di negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Italia.

Setelah lockdown untuk meredam penyebaran COVID-19 mulai mereda di seluruh Eropa pada bulan-bulan musim panas, Portugal didorong untuk meningkatkan produksi dan kapasitas sepeda akibat distributor di seluruh benua yang kehabisan stok.

Salgado mengatakan bahwa saat ini RTE Bikes bekerja dengan kecepatan penuh dan memproduksi hingga sekitar 5.000 sepeda sehari. Jumlah ini, bahkan naik dari rata-rata 3.000-4.000 kali dari jumlah pada tahun 2019. 

Manajer umum di In Cycles, João Maia, mengungkapkan bahwa perusahaan saingannya tersebut mampu memproduksi 87.000 sepeda pada 2019 dan mengalami permintaan berlipat ganda.

"Saat ini kami mengekspor sepeda ke semua negara di dunia, termasuk negara-negara yang seharusnya menjadi produsen utama sepeda seperti Italia, Bulgaria dan Romania", kata Maia. 

Selain itu, Maia juga mengatakan bahwa In Cycles berencana untuk menggandakan lini produksinya menjadi empat kali sejak Oktober 2020 dan sudah memiliki pesanan sekitar 185.000 sepeda untuk tahun 2021.

Menurut data Eurostat, sebelum pandemi melanda, produksi sepeda di Portugal telah melonjak 42% pada 2019 ke rekor 2,7 juta sepeda yang merupakan hampir seperempat dari semua yang dibangun di Uni Eropa. Hal ini terjadi dikarenakan meningkatnya kekhawatiran atas perubahan iklim dan perpindahan ke gaya hidup yang lebih sehat.

Sementara itu, Gil Nadais, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Sepeda di Portugis, Abimota, mengatakan kepada Reuters bahwa dirinya mengharapkan bahwa negara itu akan mengalahkan rekor tahun 2019, terlepas dari penutupan pabrik selama dua bulan di tahun ini. 

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya