Bahas Perjanjian Abraham, Donald Trump Telepon Raja Salman

Oleh Tommy Kurnia pada 07 Sep 2020, 10:48 WIB
Diperbarui 07 Sep 2020, 11:07 WIB
Raja Salman dan Donald Trump di Arab Saudi. (AP)
Perbesar
Raja Salman dan Donald Trump di Arab Saudi. (AP)

Liputan6.com, Washington, D.C. - Raja Salman dari Arab Saudi berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Perjanjian Abraham antara Uni Emirat Arab dan Israel. Perjanjian itu melingkupi normalisasi hubungan diplomasi dan bisnis. 

UEA adalah negara Jazirah Arab pertama yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel meski ditentang Palestina. Pekan lalu, Arab Saudi mengizinkan pesawat rute UEA-Israel untuk melewati wilayah udara kerajaan. 

"Hari ini Presiden Donald Trump berbincang dengan Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi. Presiden Trump memuji Presidensi G20 Arab Saudi dan menyambut pembukaan ruang udara Saudi untuk penerbangan antara Israel dan Uni Emirat Arab," ujar Deputi Asisten Presiden AS, Judd Deere via Twitter, seperti dikutip Senin (7/9/2020).

Presiden Trump juga menjelaskan pentingnya Perjanjian Abraham, serta membahas isu regional Raja Salman. Selain itu, Trump meminta agar Raja Salman membantu dalam hal negosiasi. 

"Presiden Trump menyorot hal signifikan dari Perjanjian Abraham dan mendiskusikan cara-cara menunjang keamanan dan kesejahteraan regional. Presiden Trump juga mendorong Arab Saudi untuk menegosiasi dengan negara-negara Teluk lain untuk menyelesaikan pertikaian," ujar Judd Deere.

Sebelumnya, penasehat senior presiden AS, Jared Kushner, berkata sedang berusaha agar lebih banyak negara-negara Timur Tengah menjalin diplomasi dengan Israel. Jared Kushner merupakan salah satu tokoh sentral yang mendukung Perjanjian Abraham.

Ada dua negara yang dikabarkan tertarik menjalin relasi dengan Israel, yakni Bahrain dan Oman. Pekan lalu, Bahrain juga mengizinkan pesawat Israel-UAE untuk melewati wilayah udara negara mereka.

2 dari 3 halaman

Setelah Arab Saudi, Giliran Bahrain Izinkan Israel Gunakan Wilayah Udaranya

Bendera Israel dan Uni Emirat Arab berjejer di jalan di kota pesisir Israel, Netanya, pada 16 Agustus 2020. (AFP/Jack Guez)
Perbesar
Bendera Israel dan Uni Emirat Arab berjejer di jalan di kota pesisir Israel, Netanya, pada 16 Agustus 2020. (AFP/Jack Guez)

Bahrain menyusul Arab Saudi untuk mengizinkan Israel memasuki wilayah udara mereka. Mirip seperti aturan Saudi, aturan ini hanya berlaku untuk rute perjalanan ke Israel. 

Kebijakan diumumkan oleh Kementerian Transportasi dan Telekomunikasi Bahrain. Bahrain tak secara eksplisit menyebut nama Israel. 

Negara jazirah tersebut hanya menyebut bahwa semua negara yang ingin ke Uni Emirat Arab boleh menggunakan wilayah udara mereka. 

"Bahrain akan mengizinkan semua penerbangan yang datang dan berangkan dari Uni Emirat Arab (UEA) ke semua negara untuk melewati wilayah udaranya," tulis Bahrain News Agency seperti dikutip Jumat lalu.

Pengumuman itu di-retweet oleh Avi Berkowitz, seorang pejabat Gedung Putih yang aktif dalam negosiasi dengan Israel. Avi Berkowitz juga merupakan orang dekat Jared Kushner, penasihat dan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendukung normalisasi diplomatik Israel.

Jared Kushner dan Avi Berkowitz sama-sama ikut di penerbangan perdana yang mengunjungi UEA dari Israel. 

Pemerintah Bahrain berkata mendapat permintaan itu dari otoritas penerbangan UEA. Tak diketahui apakah Amerika Serikat terlibat dalam lobi-lobi. 

Bulan lalu, media Israel melaporkan bahwa Bahrain siap mengikuti UEA untuk melakukan normalisasi diplomatik denagan Israel, meski belum ada kabar mengenai jadwalnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓