Gaza Laporkan Kasus COVID-19 Pertama, Terapkan Lockdown Penuh 48 Jam

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 25 Agu 2020, 12:15 WIB
Diperbarui 25 Agu 2020, 13:35 WIB
Ilustrasi Virus Corona. (Bola.com/Pixabay)
Perbesar
Ilustrasi Virus Corona. (Bola.com/Pixabay)

Liputan6.com, Gaza- Gaza telah melaporkan kasus Virus Corona COVID-19 pertamanya pada 24 Agustus 2020. 

Pihak berwenang wilayah tersebut mengkonfirmasi adanya empat pasien di sebuah kamp pengungsian, dan otoritas keamanan telah mengumumkan lockdown sepenuhnya selama 48 jam.

Dilaporkan US News, Selasa (25/8/2020) kasus infeksi itu diketahui berasal dari satu keluarga di wilayah tengah Gaza, menurut pernyataan seorang juru bicara pemerintah. 

Selain itu, kemunculan kasus Virus Corona COVID-19 di Gaza juga membuat kekhawatiran terjadinya kemiskinan yang semakin parah, di mana kamp-kamp pengungsi memiliki penduduk yang padat serta kapasitas rumah sakit yang terbatas.

Kepala Humas Pemerintah, Salama Marouf menyatakan, "Jam malam penuh akan diberlakukan mulai malam ini dan di seluruh Jalur Gaza."

Warga pun bergegas untuk membeli kebutuhan makanan dan sehari-hari mereka ke supermarket ketika kabar lockdown menyebar. 

Kendaraan polisi juga dilaporkan tampak berkeliling di jalan-jalan dan menggunakan pengeras suara untuk mendesak warga Gaza agar mematuhi jam malam.

Kasus infeksi COVID-19 itu ditemukan setelah seorang wanita melakukan perjalanan ke Tepi Barat, di mana ia dinyatakan positif untuk virus itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Tidak hanya aturan jam malam, seorang juru bicara kementerian kesehatan juga mendesak semua warga yang mengunjungi supermarket di luar rumah sakit di pusat Gaza untuk melakukan karantina mandiri dan segera melapor ke petugas medis.

2 dari 3 halaman

Tidak Adanya Infeksi di Luar Pusat Karantina

Mesir Buka Perbatasan Jalur Gaza
Perbesar
Warga Palestina duduk di dalam mobil sebelum meninggalkan perbatasan Rafah dengan Mesir di Kota Rafah, Jalur Gaza selatan (11/8/2020). Untuk kali pertama dalam lima bulan, Mesir membuka kembali titik penyeberangan Rafah di perbatasan dengan Jalur Gaza selatan selama tiga hari. (Xinhua/Khaled Omar)

Pada 24 Agustus, jalur Gaza, yang merupakan rumah bagi 2 juta warga Palestina, telah melaporkan tidak adanya infeksi di luar pusat karantina.

Para pendatang diharuskan untuk menghabiskan 21 hari di pusat-pusat yang berada di atas perintah Hamas, kelompok bersenjata yang telah menguasai Gaza selama lebih dari satu dekade.

Daerah sepanjang 40 km itu dikuasai oleh Israel di utara dan timur serta Mesir di selatan.

Kedua negara kerap memberlakukan pembatasan pergerakan, dengan alasan masalah keamanan atas Hamas. Kendati demikian, hal itu membuat sebagian besar warga Gaza memiliki akses terbatas ke dunia luar selama bertahun-tahun karena blokade, yang banyak dibandingkan dengan kuncian permanen.

Kepala Tim Kedaruratan Kesehatan lokal WHO, Dr Ayadil Saparbekov, menyebutkan bahwa "Terjadinya hal ini di tengah tantangan sistem kesehatan yang ada menjadikan masalah yang kami perhatikan". 

"Kami telah memperkuat dukungan kami sebelum kejadian ini dengan menyediakan alat kesehatan dan alat pelindung diri serta alat uji laboratorium," katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓