Pejabat WHO: Situasi Infeksi COVID-19 di Lebanon Berbahaya

Oleh Liputan6.com pada 20 Agu 2020, 13:33 WIB
Diperbarui 20 Agu 2020, 13:33 WIB
Gambar ilustrasi ini dengan izin dari National Institutes of Health pada 27 Februari 2020. Menunjukkan mikroskopis elektron transmisi SARS-CoV-2 juga dikenal sebagai 2019-nCoV, virus yang menyebabkan Corona COVID-19. (AFP/National Institutes of Health).
Perbesar
Gambar ilustrasi ini dengan izin dari National Institutes of Health pada 27 Februari 2020. Menunjukkan mikroskopis elektron transmisi SARS-CoV-2 juga dikenal sebagai 2019-nCoV, virus yang menyebabkan Corona COVID-19. (AFP/National Institutes of Health).

Liputan6.com, Beirut - Kondisi pandemi Virus Corona COVID-19 di Lebanon pasca-ledakan Beirut digambarkan dalam status bahaya.

Iman al-Shankiti, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Lebanon, pada Rabu 19 Agustus 2020 memperingatkan bahwa situasi COVID-19 di Lebanon sangat "berbahaya."

"Satu-satunya solusi adalah masyarakat mengambil tindakan yang bertanggung jawab dan serius seperti yang direkomendasikan oleh WHO," kata al-Shankiti seperti dilansir situs berita Elnashra yang dikutip dari Xinhua, Kamis (20/8/2020).

Al-Shankiti menjelaskan bahwa WHO telah berdiskusi dengan menteri kesehatan negara tersebut, perihal rencana untuk mengubah beberapa rumah sakit menjadi rumah sakit yang diperuntukkan bagi perawatan pasien COVID-19.

Selain itu, juga perihal tarif khusus untuk pengobatan virus itu.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Meningkatkan Kapasitas Rawat Inap

Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)
Perbesar
Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)

Tak hanya itu, rumah sakit lapangan dan tim medis yang tiba di Lebanon untuk merawat para korban luka akibat ledakan yang mengguncang Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus lalu, juga akan bekerja sama dengan rumah sakit pemerintah untuk meningkatkan kapasitas rawat inap.

Pejabat WHO itu menyebut bahwa kelalaian masyarakat dengan tidak melakukan langkah pencegahan yang tepat serta pembukaan bandara berkontribusi dalam menambah jumlah kasus penularan.

"Kita semua harus bekerja sama untuk bisa mencapai hasil yang memuaskan," ujarnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Juga Video Ini:

Lanjutkan Membaca ↓