21 Juta Ton Potongan Sampah Plastik Ditemukan Mengapung di Samudra Atlantik

Oleh Liputan6.com pada 19 Agu 2020, 15:02 WIB
Diperbarui 19 Agu 2020, 16:43 WIB
Sampah Plastik
Perbesar
Seorang pria memancing di pantai Laut Tengah di Beirut, Lebanon di antara berbagai sampah plastik. (AP)

Liputan6.com, Samudra Atlantik - Sebuah penelitian, yang dipimpin Pusat Oseanografi Nasional Inggris saat ini sedang meneliti lapisan atas 200 m (650 kaki) laut selama ekspedisi penelitian melalui tengah Atlantik. Mereka menemukan ada 12-21 juta ton sampah plastik kecil yang mengapung di Samudra Atlantik.

Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini menuliskan bahwa jumlah plastik sebanyak itu diketahui mampu memenuhi hampir 1.000 kapal kontainer.

Melansir BBC, Rabu (19/8/2020), Dr Katsia Pabortsava, dari National Oceanography Center, yang memimpin penelitian tersebut, mengatakan dengan mengukur massa dari partikel plastik yang sangat kecil di 5% lapisan atas lautan, dia dan rekan-rekannya memperkirakan jumlah plastik di seluruh Atlantik jauh lebih besar dari sebelumnya.

"Sebelumnya, kami belum bisa menyeimbangkan jumlah plastik yang kami temukan di lautan dengan jumlah yang kami pikir telah benar," katanya. "Itu karena kami tidak mengukur partikel terkecil."

2 dari 4 halaman

Bisa Bantu Upaya Cegah Kerusakan Ekologi

[Fimela] Ilustrasi Sampah Plasti di Laut
Perbesar
Ilustrasi Sampah Plastik di Laut | unsplash.com/@brian_yuri

Dalam ekspedisi mereka, dari Inggris ke Kepulauan Falkland, dia dan rekannya mendeteksi hingga 7.000 partikel per meter³ air laut. Mereka menganalisis tiga sampel polimer yang paling umum digunakan dan paling sering dibuang, seperti polietilen, polipropilen, dan polistiren.

Harapa tim, dari penemuan ini akan membantu upaya di masa depan untuk mencegah kerusakan ekologi dan lingkungan yang mungkin disebabkan oleh pecahan plastik ini, dengan memberikan "perhitungan yang lebih akurat" dari akumulasinya di bagian laut yang terpencil.

Jamie Woodward, seorang ahli pencemaran plastik, dari Universitas Manchester, mengatakan bahwa temuan tersebut mengkonfirmasi penelitian sebelumnya bahwa “Beban mikroplastik di lautan jauh lebih tinggi dari yang kami perkirakan. Skala geografi dari penelitian ini sangat mengesankan.”

Penulis juga akan memperkirakan pemakaian plastik selama 65 tahun. Hal itu penting karena mikroplastik telah membanjiri lautan selama beberapa dekade. "Kami sekarang perlu memahami dampak ekologi dari pencemaran di semua bagian lautan, karena sampah-sampah tersebut telah berada di lautan untuk waktu yang lama."

 

3 dari 4 halaman

Sampah Maker Menjadi Sampah yang Paling Banyak Ditemui

ilustrasi penggunaan masker/pexels
Perbesar
ilustrasi penggunaan masker/pexels

Di tengah pandemi virus Corona saat ini, beberapa kelompok lingkungan telah melaporkan bahwa masker wajah sekali pakai menjadi salah satu sampah plastik yang paling sering ditemukan.

Susannah Bleakley, dari organisasi amal Morecambe Bay Partnership yang berbasis di Cumbria, yang mengoordinasikan pembersihan pantai, mengatakan "Kami sekarang menemukan lebih banyak masker sekali pakai daripada kantong plastik.”

"Apa yang sebenarnya kami tanyakan adalah, dapatkah orang mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sebanyak mungkin dan jika bisakah membuangnya ke tempat yang benar."

 

Reporter: Vitaloca Cindrauli Sitompul

4 dari 4 halaman

Saksikan Vidio Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓