Presiden Lebanon: Ada Kemungkinan Ledakan di Beirut karena Roket Asing

Oleh Tommy Kurnia pada 07 Agu 2020, 19:40 WIB
Diperbarui 07 Agu 2020, 19:40 WIB
FOTO: Proses Pencarian Korban Ledakan Besar di Beirut Lebanon
Perbesar
Petugas penyelamat dan keamanan bekerja di lokasi ledakan besar di Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya terluka tersebut meratakan pelabuhan dan merusak bangunan di seluruh Beirut. (AP Photo/Hussein Malla)

Liputan6.com, Beirut - Ledakan di Beirut, Lebanon, diketahui berasal dari gudang tempat penyimpanan 2.750 ton amonium nitrat. Akibatnya, lebih dari 100 orang meninggal dan 5.000 terluka. 

Amonium nitrat itu merupakan barang sitaan pemerintah dari kapal milik pria Rusia. Bahan kimia itu sudah berada di gudang dekat pelabuhan selama enam tahun. 

Belum jelas bagaimana amonium nitrat itu mengakibatkan ledakan di Beirut, Lebanon.

Kini, Presiden Lebanon Michel Aoun membuka skenario bahwa ada campur tangan asing. 

"Penyebabnya belum dipastikan. Ada kemungkinan campur tangan asing melalui roket, atau bom, atau tindakan lainnya," ujar Presiden Aoun seperti dilansir Al Jazeera, Jumat (7/8/2020). 

Ia menjelaskan akan ada tiga tahap. Pertama, mencari tahu bagaimana amonium nitrat itu disimpan di gudang, kedua, apakah ledakan terjadi akibat kelalaian atau kecelakaan, lalu ketiga, memeriksa apakah ada keterlibatan asing. 

Presiden Michel Aoun kini sedang menghadapi protes dari rakyat Lebanon. Ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron berkunjung ke Beirut pada Kamis kemarin, sekelompok orang berteriak menuntut revolusi. 

Presiden Macron berjanji akan berbicara dengan para pemimpin politik Lebanon. 

Ledakan di Beirut, Lebanon, merupakan salah satu peristiwa ledakan amonium nitrat yang terparah di dunia. Jumlah amonium nitrat yang meledak lebih banyak dari tragedi di Tianjin yang melibatkan 800 ton amonium nitrat. 

Kasus di Tianjin pada 2015 menewaskan 173 orang.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kondisi WNI Korban Ledakan di Beirut Lebanon Stabil

Menlu Retno Marsudi saat sedang memimpin Sidang DK PBB secara virtual sebagai presiden.
Perbesar
Menlu Retno Marsudi saat sedang memimpin Sidang DK PBB secara virtual sebagai presiden. (Dok: Kemlu RI)

Ledakan besar yang melanda Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020 telah menewaskan ratusan jiwa dan melukai lebih dari 5.000 orang.

Satu orang WNI diketahui merupakan salah satu di antara ribuan orang yang mengalami luka akibat ledakan itu. 

Dalam press briefing yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri RI, Jumat (7/8/2020), Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, memberikan update terkait kondisi WNI tersebut. 

"Satu WNI kita inisial NNE mengalami luka ringan akibat ledakan tersebut...yang bersangkutan telah mendapat pengobatan dan saat ini kondisinya dinyatakan stabil," jelas Menlu Retno Marsudi.

Menlu Retno Marsudi menerangkan bahwa staf KBRI Beirut telah mengunjungi kediaman WNI tersebut, dan akan terus melakukan pendampingan selama proses pemulihan.

Selain itu, Menlu Retno marsudi juga mengatakan bahwa "Untuk membantu meringankan beban WNI di Beirut pasca ledakan dan juga dalam menghadapi pandemi COVID-19, KBRI akan terus melanjutkan pemberian bantuan logistik."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓