Arab Saudi Kirim 120 Ton Bantuan untuk Korban Ledakan di Beirut Lebanon

Oleh Tommy Kurnia pada 07 Agu 2020, 20:25 WIB
Diperbarui 07 Agu 2020, 20:25 WIB
Pandangan Udara dari Pelabuhan Beirut Usai Ledakan
Perbesar
Gambar drone memperlihatkan tempat ledakan yang mengguncang pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan dahsyat yang terjadi pada Selasa, 4 Agustus 2020, tersebut sejauh ini menewaskan 78 orang dan dan lebih dari 4.000 lainnya terluka. (AP Photo/Hussein Malla)

Liputan6.com, Beirut - Pesawat bantuan pertama dari Arab Saudi telah tiba di Beirut, Lebanon, pada Jumat (7/8/2020). Bantuan dari Arab Saudi berupa obat, tenda, dan bahan lain yang dibutuhkan korban ledakan Beirut.

Arab Saudi mengirimkan dua pesawat dari Bandara Internasional King Khalid. Tim khusus untuk mengurus operasi distribusi bantuan juga ikut terbang, demikian laporan Arab News.

Pengiriman bantuan untuk Lebanon itu dikoordinasikan oleh King Salman Humanitarian Aid and Relief Centre (KSrelief).

Abdullah Al-Rabeeah, Penasihat Istana Kerajaan Arab Saudi dan Supervisor General KSrelief, berharap bantuan itu bisa membantu korban yang terkena efek ledakan pada Selasa petang kemarin. Hingga kini, korban luka sudah mencapai 5.000 orang.

Pengiriman bantuan ini juga sebagai simbol nilai-nilai kemanusiaan dari Arab Saudi. Al Rabeeah menekankan peran Arab Saudi dalam mengirim bantuan ke seluruh dunia tanpa pandang bulu.

Berbagai negara lain yang mengirim bantuan ke Lebanon di antaranya Yordania, Ceko, Rusia, dan Prancis. Israel juga menawarkan bantuan.

Ledakan yang terjadi pada Selasa lalu menambah kesulitan di Lebanon yang sudah menanggung beban krisis ekonomi, politik, dan pandemi COVID-19. Korban meninggal telah menembus 100 orang.

Lebanon Krisis, Rakyat Minta Revolusi ke Presiden Prancis

Ledakan Besar Guncang Kota Beirut Lebanon
Perbesar
Petugas memadamkan api setelah ledakan besar di Beirut, Lebanon, Selasa, (4/8/2020). Dua ledakan besar mengguncang ibukota Lebanon, Beirut, melukai puluhan orang, menghancurkan gedung-gedung dan mengirimkan asap besar mengepul ke langit. (AFP/STR)

Rakyat Lebanon yang mulai frustrasi pun meminta bantuan negara asing untuk revolusi. Permintaan revolusi digemakan rakyat kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron yang sedang berkunjung ke Lebanon. 

Presiden Macron tiba di Beirut hari ini untuk memberikan pertolongan. Ia pun sempat bertemu dengan kerumunan masyarakat yang menuntut adanya perubahan. 

"Tolong kami! Revolusi" teriak rakyat Lebanon, seperti dilansir AFP.  

Pada beberapa video yang beredar, rakyat Lebanon terdengar emosional ketika meminta Presiden Macron untuk menolong mereka.  

Rakyat Lebanon yang mengerubungi Presiden Macron datang dengan memakai masker.

Presiden Macron berkata mengerti kemarahan warga Lebanon. Ia berjanji akan bertemu para pemimpin politik di Lebanon untuk membahas inisiatif politik.  

"Saya akan berbicara dengan tokoh-tokoh politik untuk meminta mereka membuat pakta baru. Saya di sini hari ini untuk memberi proposal pakta politik kepada mereka," ujar Macron seperti dilansir France24. 

Presiden Prancis berkata Lebanon akan terus tenggelam apabila tidak menerapkan perubahan-perubahan yang dibutuhkan. 

Usai Perang Dunia I, Lebanon pernah menjadi daerah koloni Prancis, warga di sana juga bisa berkomunikasi dengan Bahasa Prancis. Setelah Lebanon resmi merdeka dari Prancis pada 1943, relasi antara kedua negara terus berlanjut di berbagai bidang.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓