KRI Sultan Hasanuddin Selamat dari Ledakan Beirut Saat Sedang Patroli di Lebanon

Oleh Liputan6.com pada 07 Agu 2020, 14:56 WIB
Diperbarui 07 Agu 2020, 14:56 WIB
FOTO: Proses Pencarian Korban Ledakan Besar di Beirut Lebanon
Perbesar
Petugas penyelamat dan keamanan bekerja di lokasi ledakan besar di Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya terluka tersebut meratakan pelabuhan dan merusak bangunan di seluruh Beirut. (AP Photo/Hussein Malla)

Liputan6.com, Beirut - Dua warga negara Indonesia dilaporkan luka ringan dalam insiden ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan kawasan pelabuhan di kota Beirut, Lebanon, pada Selasa 4 Agustus.

Ledakan gudang tempat penyimpanan 2.750 ton amonium nitrat di kawasan pelabuhan itu menewaskan 137 orang. Ribuan orang lainnya luka-luka, sementara sekitar 30.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Kekuatan ledakan yang oleh banyak pihak dikatakan setara dengan gempa berkekuatan magnitudo 3,3 dan 3,5 itu, terasa hingga radius 10 kilometer.

Duta Besar Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Thohari mengatakan, meskipun kompleks KBRI terletak sekitar 8,3 kilometer dari pusat ledakan dan gedung-gedung di kawasan itu bergetar hebat, tetapi tidak ada kerusakan berarti.

"Mungkin karena KBRI, yang bertetangga dengan Istana Presiden Lebanon, berada di perbukitan dan ada hutan kota yang memisahkan daerah ini dengan pusat kota Beirut. Jadi ada goncangan hebat seperti gempa, tetapi tidak ada kerusakan berarti," jelasnya seperti dikutip dari VOA Indonesia, Jumat (7/8/2020).

Walaupun prihatin dengan kondisi pasca-ledakan itu, Hajriyanto mengaku sangat bersyukur, karena pada hari itu KRI Sultan Hasanuddin yang biasanya bersandar di pelabuhan, di mana ledakan terjadi, sedang berpatroli di Laut Lebanon.

"Biasanya kapal itu bersandar di pelabuhan itu. Dari 1.234 personel yang tergabung dalam Kontingen Garuda di UNIFIL United Nations Interim Force in Lebanon (Misi PBB Penjaga Perdamaian di Lebanon), sekitar 120 personel berada di KRI Sultan Hasanuddin. Ketika terjadi insiden itu hari Selasa 4 Agustus pas mereka sedang patroli di Laut Lebanon, menuju ke Mersin-Turki sehingga alhamdulillah mereka selamat," ujarnya. 

KRI Sultan Hasanuddin Merupakan Bagian dari UNIFIL Maritime Task Force

6 Momen Warga Lebanon Gotong Royong Bersihkan Kota Sisa Ledakan, Bikin Salut
Perbesar
Potret warga Lebaon bahu membahu bersihkan puing sisa ledakan. (Sumber: Twitter/@LebaneseProblem)

KRI Sultan Hasanuddin bersama beberapa kapal negara lain tergabung dalam UNIFIL Maritime Task Force (Satuan Tugas Maritim UNIFIL) ditempatkan di pelabuhan itu untuk mendukung Angkatan Laut Lebanon memonitor kawasan perairan, mengamankan garis pantai dan mencegah masuknya senjata dan material berbahaya lain melalui laut ke Lebanon.

Berdasarkan permintaan pemerintah Lebanon dan mandat PBB pada tahun 2006, UNIFIL MTF juga membantu membangun kapabilitas Angkatan Laut Lebanon untuk dapat berpatroli secara efektif hingga 110 mil dari pantai Lebanon hingga mampu melakukan pengamanan maritim secara mandiri.

Dari 13 misi penjaga perdamaian PBB di seluruh dunia, UNIFIL adalah misi dengan jumlah personel kelima terbesar setelah UNIMISS (di Sudan Selatan), MONUSCO (di Republik Demokratik Kongo), MINUSMA (di Mali) dan MINUSCA (di Republik Afrika Tengah). Hingga Agustus 2020 ini ada 10.124 personel pasukan penjaga perdamaian yang tergabung dalam UNIFIL, di mana 1.234 di antaranya berasal dari Indonesia, dalam Kontingen Garuda.

Seluruh Personel Kontingen Garuda Selamat

Diwawancarai secara terpisah, Kepala PIO Indobatt XXIII-N UNIFIL Kapten Laut (KH) Dony Raemana juga tak habis mengucap syukur. “Untungnya kontingen kita, Satgas MTF, sedang berlayar ke Turki hari itu. Jadi tidak ada korban dari Kontingen Garuda. Sesuai perintah dari Sector East, kita back up hampir semua patroli di Sector East,” ujarnya.

Ditambahkannya, “alhamdulillah masih diberi perlindungan Allah SWT. Kami semua yang tergabung dalam Kontingen Garuda di UNIFIL, alhamdulillah sehat semua. Dengan jumlah 1.234 personel yang terbagi dalam berbagai satuan... semua dalam keadaan aman dan sehat.”

Duta Besar Indonesia di Lebanon, Hajriyanto Tohari mengatakan tidak ada pengamanan khusus bagi warga Indonesia di negara itu pasca insiden tersebut, “karena sebagian besar kan personel UNIFIL yang bahkan memiliki aturan dan protokol lebih ketat dibanding kami. Sisanya, sekitar 213 orang merupakan WNI sipil, termasuk keluarga KBRI dan mahasiswa. Kami sudah menyampaikan imbauan melalui WhatsAppGroup dan juga simpul-simpul WNI untuk segera melapor jika berada dalam situasi tidak aman.”

Sementara itu dua warga Indonesia yang luka-luka dan sebelumnya dirawat di RS. Rafiq Hariri, Beirut, sudah diijinkan kembali ke rumah.

Hingga laporan ini disampaikan otoritas berwenang di Lebanon telah menangkap 16 orang untuk dimintai keterangan, termasuk di antaranya beberapa pejabat pelabuhan dan bea cukai.

Kapal Bangladesh Bersandar di Pelabuhan, 2 Tewas, 9 Kritis

Ledakan Besar Guncang Kota Beirut Lebanon
Perbesar
Suasana setelah ledakan besar di Beirut, Lebanon, Selasa, (4/8/2020). Dua ledakan besar mengguncang ibukota Lebanon, Beirut, melukai puluhan orang, menghancurkan bangunan dan mengirimkan asap besar mengepul ke langit. (AFP Photo/Layal Abou Rahal)

“Ketika ledakan terjadi, kapal perang Bangladesh sedang bersandar, dua orang meninggal dan sembilan lainnya luka berat, kritis dan dirawat di rumah sakit. Meski kapal tidak sampai tenggelam, mungkin karena guncangan hebat, mereka meninggal dan luka-luka,” ujar Hajriyanto lirih.

UNIFIL lewat Twitter menyampaikan belasungkawa dan sekaligus menginformasikan personel yang luka-luka dalam insiden itu.

Selain yang tergabung dalam Maritime Task Force, pangkalan-pangkalan di mana UNIFIL berada memang jauh. Bahkan kini mereka bergabung bersama tim kesehatan untuk penyelamatan dan penanganan korban ledakan ini.

Saksikan Juga Video Ini:

Lanjutkan Membaca ↓