Sebut Pemerintah Lalai atas Ledakan di Beirut, Dubes Lebanon untuk Yordania Mundur

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 07 Agu 2020, 12:01 WIB
Diperbarui 07 Agu 2020, 12:01 WIB
Pandangan Udara dari Pelabuhan Beirut Usai Ledakan
Perbesar
Gambar drone memperlihatkan tempat ledakan yang mengguncang pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu (5/8/2020). Ledakan dahsyat yang terjadi pada Selasa, 4 Agustus 2020, tersebut sejauh ini menewaskan 78 orang dan dan lebih dari 4.000 lainnya terluka. (AP Photo/Hussein Malla)

Liputan6.com, Jakarta- Menyusul ledakan dahsyat yang melanda Beirut, Duta Besar Lebanon untuk Yordania, Tracy Chamoun mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis 6 Agustus. Ia menyebutkan, 'kelalaian total' oleh otoritas negara itu mengisyaratkan perlunya perubahan kepemimpinan.

Dikutip dari AFP, Jumat (7/8/2020), pengunduran ini merupakan yang kedua oleh seorang pejabat Lebanon sejak insiden ledakan yang terjadi pada hari Selasa menewaskan hampir 150 orang, dan melukai lebih dari 5.000 orang, dan menghancurkan seluruh distrik Beirut.

Sebelumnya, pengunduran diri juga dilakukan anggota parlemen Marwan Hamadeh karena ledakan itu.

Ledakan tersebut dipicu api yang menyulut 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan secara lalai di sebuah gudang di pelabuhan Beirut, menurut pihak berwenang.

Tracy Chamoun mengatakan dalam pernyataan yang disiarkan di stasiun televisi Lebanon MTV, bahwa ia "tidak bisa lagi mentolerir" ketidakmampuan pemerintah. 

"Saya mengumumkan pengunduran diri saya sebagai duta besar ... sebagai protes terhadap kelalaian negara, pencurian, dan kebohongan," ujar Chamoun, yang diangkat untuk jabatannya pada 2017 dengan dukungan dari Presiden Michel Aoun.

Selain itu, ia juga menambahkan,  "Bencana ini mengingatkan: kita seharusnya tidak menunjukkan belas kasihan kepada mereka dan mereka semua harus pergi."

"Ini adalah kelalaian total," tuturnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Gerakan Protes

Ledakan Besar Guncang Kota Beirut Lebanon
Perbesar
Sebuah foto yang diambil dari Teluk Zaytouna menunjukkan gumpalan api merah di belakang sebuah bangunan tinggi di pusat kota Beirut tepat setelah ledakan besar mengguncang ibukota Lebanon (4/8/2020). (AFP Photo/Bassem El Hage)

Para penmimpin di negara tersebut, telah menjadi sasaran gerakan protes yang dimulai pada Oktober tahun lalu untuk menuntut perubahan sistemik.

Mereka dilaporkan telah lama dituduh tidak cakap dan korupsi.

Sejak perang 1975-1990, negara kecil Mediterania itu dicengkeram oleh krisis ekonomi terburuk, yang semakin memicu sentimen anti-pemerintah.

Bnyak warga Lebanon yang mengungkapkan amarah mereka atas ledakan besar yang terjadi pada 4 Agustus di Beirut, yang mereka anggap sebagai ekspresi yang paling mengejutkan dari ketidakmampuan kepemimpinan mereka.

Selain itu, banyak yang mempertanyakan bagaimana kargo amonium nitrat yang sangat eksplosif bisa dibiarkan tanpa jaminan keamanan di ibu kota selama bertahun-tahun.

Pada 6 Agustus, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengunjungi Lebanon, menyerukan penyelidikan internasional.

Presiden Macron juga meramaikan tuntutan yang didukung secara luas di Lebanon dan luar negeri untuk penyelidikan independen.

Pengunduran diri Chamoun terjadi tidak lama setelah seorang jaksa Lebanon mengatakan dia telah menahan 16 staf pelabuhan karena ledakan itu.

Para pejabat itu di antaranya termasuk mantan dan pejabat pelabuhan dan bea cukai serta pekerja pemeliharaan dan manajer mereka.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓