Kelompok Misterius Culik Kurator Seni Jerman Bekas Pekerja Goethe Institut di Irak

pada 23 Jul 2020, 10:28 WIB
Diperbarui 23 Jul 2020, 10:28 WIB
Hella Mewis, kurator seni Jerman bekas pekerja Goethe Institut yang diculik di Baghdad, Irak. (DW)
Perbesar
Hella Mewis, kurator seni Jerman bekas pekerja Goethe Institut yang diculik di Baghdad, Irak. (DW)

Baghdad - Warga Jerman Hella Mewis yang sedang melaksanakan program seni dengan kelompok seni Irak diculik di luar kantornya di pusat kota Baghdad, kata Ali al-Bayati, anggota Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Irak, Selasa 21 Juli 2020.

Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri Irak mengkonfirmasi penculikan Mewis kepada kantor berita Jerman, DPA.

Hella Mewis meninggalkan kantornya dan sedang mengendarai sepeda "ketika dua mobil, salah satunya truk pikap putih yang sering digunakan oleh beberapa pasukan keamanan, terlihat menculiknya," kata sebuah sumber kepada kantor berita Prancis, AFP.

Seperti dilansir dari DW Indonesia, Kamis (21/7/2020), aktivis lain yang tidak mau disebut namanya mengatakan, ponsel Hella Mewis tidak dapat dijangkau lagi dan aparat keamanan Irak sekarang mulai mencarinya.

Dhikra Sarsam, seorang teman Hella Mewis, menulis di media sosial bahwa polisi menyaksikan aksi penculikan itu tetapi tidak melakukan intervensi. "Hella kemungkinan besar diculik, karena kita semua bisa mengalami nasib yang sama," tulisnya.

Makin Banyak Aktivis Diculik di Baghdad

Hella Mewis, adalah kurator seni kelahiran Berlin. Dia pernah bekerja dengan Goethe Institut di Baghdad, dan telah tinggal di Irak selama beberapa tahun. Dia bekerja untuk membangun sebuah grup seni yang bertujuan mempromosikan karya-karya seniman muda Irak.

Dhika Sarsam mengatakan bahwa Mewis memang khawatir setelah pembunuhan Hisyam al-Hashemi, seorang ilmuwan dan penasihat pemerintah Irak yang telah menyuarakan dukungan kepada protes anti-pemerintah.

"Saya berbicara dengannya (Hella Mewis) minggu lalu dan dia memang solider dengan protes itu, jadi dia khawatir setelah terjadi pembunuhan itu," kata Dhika Sarsam kepada AFP.

Aksi protes tahun lalu meluas menentang kebijakan pemerintah Irak, yang oleh beberapa kritikus dituduh korup dan terlalu dekat dengan Iran. Sejak itu, ratusan orang tewas dalam kekerasan terkait aklsi protes itu. Puluhan aktivis ditembak mati oleh orang tak dikenal, dan puluhan lainnya diculik.

2 dari 3 halaman

Kekerasan Politik Meningkat

Kurdi Desak Pemerintah Irak Gelar Referendum
Perbesar
Warga Kurdi Irak berkumpul sambil mengibarkan bendera Kurdi saat melakukan aksi untuk meminta referendum kemerdekaan di Arbil, Irak utara (13/9). (AFP Photo/SAfim Hamed)

Pekan lalu, Hisham al-Hashemi, seorang pakar terorisme, ditembak mati di luar rumahnya di Baghdad oleh dua pria tak dikenal dengan sepeda motor. Dukungannya untuk aksi protes membuat marah kelompik-kelompok pro-Iran di jaringan militer Irak.

"Pasukan bersenjata dari berbagai afiliasi telah membunuh para pengunjuk rasa dan aktivis lain yang secara terbuka mengkritik pemerintah dan angkatan bersenjata," kata Belkis Wille, peneliti senior di organisasi Human Rights Watch (HRW).

"Beberapa kelompok (pro-pemerintah) telah menjadi begitu berani karena impunitas total.., sehingga mereka dapat membunuh siapa pun yang mereka inginkan tanpa khawatir terkena sanksi," katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan juga Video Ini:

Lanjutkan Membaca ↓