Inggris Lakukan Percobaan Vaksin Virus Corona COVID-19 Pertamanya pada Manusia

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 25 Jun 2020, 08:30 WIB
Diperbarui 25 Jun 2020, 08:30 WIB
Kasus Virus Corona Bertambah, Bio Farma Kebut Penemuan Vaksin Anti Covid-19
Perbesar
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Liputan6.com, London - Para relawan di Inggris telah mulai diimunisasi dengan temuan vaksin Virus Corona COVID-19 yang baru.

Sekitar 300 orang akan menerima vaksin selama beberapa minggu mendatang, sebagai bagian dari uji coba yang dipimpin oleh Prof Robin Shattock dan rekan-rekannya, di Imperial College London. Demikian seperti dikutip dari laman BBC, Kamis (25/6/2020).

Uji coba pada hewan yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa vaksin itu aman dan memicu respons imun yang efektif.

Maka kini, para ahli di Universitas Oxford memulai uji cobanya pada manusia.

Uji coba itu dilakukan di antara banyak calon vaksin di seluruh dunia, yang kini jumlahnya ada sekitar 120 program vaksin yang sedang berjalan.

2 dari 4 halaman

Partisipasi Relawan

20160629-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Kathy, seorang wanita usia 39 tahun yang bekerja di bidang keuangan, adalah salah satu sukarelawan pertama yang ikut serta dalam uji coba ini. 

Dia berkata bahwa dirinya menjadi sukarelawan karena dia ingin berperan dalam memerangi virus.

"Saya pikir saya tidak benar-benar tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu, dan ini ternyata menjadi sesuatu yang bisa saya lakukan."

"Dan memahami bahwa tidak mungkin semuanya akan kembali normal sampai ada vaksin, jadi saya ingin menjadi bagian dari kemajuan itu juga," katanya. 

Setelah fase pertama ini, percobaan lain sedang direncanakan untuk bulan Oktober mendatang yang melibatkan 6.000 orang.

Tim Imperial berharap vaksin itu dapat didistribusikan di Inggris dan luar negeri mulai awal 2021.

3 dari 4 halaman

Vaksin Jenis Baru

20160628-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto
Perbesar
Ilustrasi Foto Vaksin (iStockphoto)

Banyak vaksin tradisional didasarkan pada bentuk virus yang dilemahkan atau dimodifikasi, atau bagian dari itu, tetapi vaksin Imperial didasarkan pada pendekatan baru yang menggunakan untaian kode genetik sintetis, yang disebut RNA dan meniru virus.

Setelah disuntikkan ke otot, RNA menguatkan diri kemudian menghasilkan salinan sendiri, dan menginstruksikan sel-sel tubuh sendiri untuk membuat salinan protein lonjakan yang ditemukan di bagian luar virus.

Proses ini harus melatih sistem kekebalan untuk mengenali dan melawan Virus Corona tanpa harus mengembangkan COVID-19.

Prof Shattock berkata: "Kami telah dapat menghasilkan vaksin dari awal dan membawanya ke percobaan manusia hanya dalam beberapa bulan."

"Jika pendekatan kami berhasil dan vaksinnya memberikan perlindungan efektif terhadap penyakit, itu dapat merevolusi cara kami merespons wabah penyakit di masa mendatang," sambungnya lagi. 

Kepala peneliti untuk penelitian ini, Dr Katrina Pollock, menambahkan: "Saya tidak akan mengerjakan uji coba ini jika saya tidak merasa optimis dengan hati-hati bahwa kita akan melihat respon imun yang besar pada relawan kami."

"Data pra-klinis tampak sangat menjanjikan. Kami mendapatkan respons antibodi penetral yang merupakan respons kekebalan yang ingin Anda lindungi dari infeksi. Tetapi masih ada jalan panjang untuk mengevaluasi vaksin ini," jelasnya lagi. 

Penelitian ini didanai sebesar £ 41 juta dari pemerintah Inggris, serta £ 5 juta dari sumbangan lainnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓