Pakar Penyakit Menular AS Yakin Vaksin Corona COVID-19 Tersedia Akhir 2020

Oleh Liputan6.com pada 24 Jun 2020, 14:34 WIB
Diperbarui 24 Jun 2020, 14:34 WIB
Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS,  pergi setelah berbicara selama pengarahan harian Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih di Ruang Sidang James Brady di Gedung Putih 13 April 2020 di Washington, DC.
Perbesar
Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, pergi setelah berbicara selama pengarahan harian Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih di Ruang Sidang James Brady di Gedung Putih 13 April 2020 di Washington, DC. (Alex Wong/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pakar penyakit menular terkemuka Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci mengaku masih optimistis, "meski tetap berhati-hati" akan ada vaksin Virus Corona COVID-19 pada akhir 2020 atau awal 2021. Fauci mengatakan dirinya yakin "ini soal kapan dan bukan apakah" vaksin COVID-19 akan ada atau tidak.

Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional (NIAID) AS ini membuat pernyataan tersebut saat memberikan kesaksian di komisi Dewan Perwakilan Rakyat AS, bersama beberapa pejabat kesehatan senior lainnya.

Fauci menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya penyebaran Virus Corona baru di lingkungan masyarakat pada beberapa negara bagian. "Beberapa pekan ke depan akan menjadi masa kritis dalam kemampuan kita mengatasi lonjakan itu," kata Fauci, seperti dilansir Xinhua, Rabu (24/7/2020).

"AS akan melakukan lebih banyak pengujian," imbuhnya.

 

2 dari 3 halaman

Pengujian Jadi Kontroversi

Presiden AS Donald Trump dan Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular  Anthony Fauci selama pengarahan harian Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih di Ruang Sidang James Brady di Gedung Putih, 13 April 2020 di Washington, DC.
Perbesar
Presiden AS Donald Trump dan Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Anthony Fauci selama pengarahan harian Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih di Ruang Sidang James Brady di Gedung Putih, 13 April 2020 di Washington, DC. (Alec Wong/AFP)

Masalah pengujian menjadi kontroversial setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para pengunjuk rasa pada akhir pekan bahwa dia meminta staf untuk memperlambat pengujian Virus Corona baru karena mengungkap terlalu banyak kasus infeksi.

Lebih dari 2.325.000 kasus COVID-19 telah dilaporkan di AS dengan jumlah kematian melebihi 120.700 hingga Selasa sore waktu setempat, menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins.

Banyak negara bagian, termasuk Alabama, Arizona, Florida, Carolina Selatan, dan Texas, melaporkan entah kasus baru harian tertinggi atau mencetak rekor untuk rata-rata kasus baru tujuh harian.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓