Jalan Panjang Hari Dunia untuk Memerangi Desertifikasi dan Kekeringan

Oleh Liputan6.com pada 17 Jun 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 17 Jun 2020, 18:00 WIB
ilustrasi kemarau dan kekeringan
Perbesar
(Foto: Tama66/Pixabay) Ilustrasi kemarau dna kekeringan.

Liputan6.com, Jakarta - Dunia saat ini telah dilanda kekeringan yang parah, yang juga terjadi akibat perubahan iklim yang cepat. Di antaranya, manusia juga turut bertanggung jawab atas kekeringan ini, dari dampak penambangan, dan degradasi pada tanah (desertifikasi).

Desertifikasi adalah tipe degradasi lahan di mana lahan yang relatif kering menjadi semakin gersang, kehilangan badan air, vegetasi, dan juga hewan liar. Umumnya disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Pertanian yang kurang terawat pun juga membawa dampak pada kekeringan

Erosi angin dan air memperparah kerusakan, membawa lapisan tanah atas dan meninggalkan campuran debu dan pasir yang sangat tidak subur. Kombinasi dari faktor-faktor inilah yang mengubah lahan terdegradasi menjadi padang pasir.

Kekeringan pertama kali menjadi perhatian PBB pada tahun 1992, seperti dikutip dari United Nation, Rabu, (17/6/2020). Saat itu mereka melakukan pembahasan perubahan iklim di ajang Rio Earth Summit. 

Dan dua tahun setelahnya, PBB menetapkan 17 Juni sebagai World Day to Combat Desertification and Drought atau Hari Dunia untuk Memerangi Desertifikasi dan Kekeringan. Kemudian, pada tahun 2007, Majelis Umum PBB mendeklarasikan 2010-2020 Dekade untuk Deserts PBB dan perjuangan melawan Desertifikasi untuk memobilisasi aksi global untuk memerangi degradasi tanah, dipimpin lagi oleh Sekretariat UNCCD.

2 dari 2 halaman

Efek Kekeringan Pada Masyarakat

Bendungan di Tunisia yang Kering
Perbesar
Tanah di dasar bendungan El-Haouareb mengalami retak-retak akibat kekeringan di dekat Kairouan, sekitar 160 km selatan Tunis, Tunisia, 13 Juli 2017. Wilayah ini mengalami kekeringan parah yang disebabkan oleh kemarau berkepanjangan. (FETHI BELAID/AFP)

Kekeringan ini sangat berdampak bagi manusia, karena diperkirakan bahwa 50 juta orang harus mengungsi dalam jangka 10 tahun kedepan akibat kekeringan yang melanda tempat mereka. Degradasi tanah sendiri telah tercatat dalam sejarah berabad-abad lalu, namun hari ini degradasi tanah 30-35 persen jauh lebih cepat. 

Sekitar dua miliar orang bergantung pada ekosistem di wilayah lahan kering, 90% di antaranya tinggal di negara berkembang. Orang-orang yang tinggal di negara yang kurang maju menyebabkan tekanan untuk  mengeksploitasi lahan kering untuk pertanian. Daerah-daerah yang sedikit produktif ini digembalakan secara berlebihan, tanahnya habis dan air tanahnya berlebih.

Cara-cara untuk memerangi kekeringan ini adalah:

  • Reboisasi dan regenerasi pohon.
  • Pengelolaan air - penghematan, penggunaan kembali air yang diolah, panen air hujan, desalinasi, atau penggunaan langsung air laut untuk tanaman yang menyukai garam.
  • Menopang tanah melalui penggunaan pagar pasir, sabuk pelindung, balok kayu dan penahan angin.Pengayaan dan pemupukan tanah yang berlebihan melalui penanaman.
  • Farmer Managed Natural Regeneration (FMNR), memungkinkan pertumbuhan pohon asli tumbuh melalui pemangkasan tunas semak belukar secara selektif.
  • Residu dari pohon yang dipangkas dapat digunakan untuk menyediakan mulsa untuk ladang sehingga meningkatkan retensi air tanah dan mengurangi penguapan.

Reporter: Yohana Belinda

Lanjutkan Membaca ↓