Negara-Negara Afrika Minta Dewan HAM PBB Adakan Sidang soal Rasisme

Oleh Liputan6.com pada 15 Jun 2020, 08:04 WIB
Diperbarui 15 Jun 2020, 09:44 WIB
Demo Kematian George FLoyd Masih Berlanjut di AS
Perbesar
Seorang pria memegang skateboard bertuliskan nama George Floyd ketika berunjuk rasa dalam mendukung Floyd dan Regis Korchinski-Paquet dan protes terhadap rasisme, ketidakadilan dan kebrutalan polisi, di Vancouver (31/5/2020). (Darryl Dyck/The Canadian Press via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah negara Afrika pada Jumat (13/6) menyerukan Dewan HAM PBB untuk mengadakan sidang penting tentang rasisme dan kekerasan yang dilakukan polisi, menyusul kematian George Floyd dalam tahanan polisi di Amerika.

Permintaan itu diajukan dalam surat yang dikirim ke PBB atas nama 54 negara Afrika, oleh Duta Besar Burkina Faso untuk PBB, Dieudonne Desire Soungouri, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Senin (15/6/2020).

Ia mendesak PBB untuk segera mengadakan perdebatan penting tentang pelanggaran HAM berdasarkan ras, rasisme yang sistemik dan kebrutalan polisi dalam menghadapi penduduk keturunan Afrika serta aksi-aksi unjuk rasa yang berlangsung damai.

"Peristiwa tragis tanggal 25 Mei di Amerika yang mengakibatkan kematian George Floyd telah memicu aksi protes di seluruh dunia karena ketidak-adilan dan kesewenangan yang dihadapi penduduk keturunan Afrika di banyak bagian dunia," kata surat Duta Besar Soungouri itu.

Kelompok negara Afrika itu minta supaya sidang khusus Dewan HAM PBB itu diadakan minggu depan.

2 dari 3 halaman

Ribuan Unjuk Rasa Tuntut Keadilan di AS

Demo Kematian George FLoyd Masih Berlanjut di AS
Perbesar
Ribuan orang berkumpul untuk demonstrasi damai dalam mendukung George Floyd dan Regis Korchinski-Paquet dan protes terhadap rasisme, ketidakadilan dan kebrutalan polisi, di Vancouver (31/5/2020). (Darryl Dyck / The Canadian Press via AP)

Ribuan orang berunjuk rasa di Washington, di kota-kota lain di AS dan di seluruh dunia, Sabtu (6/6), menentang rasisme dan kebrutalan polisi. Serangkaian demonstrasi itu digelar setelah kematian seorang laki-laki Afrika Amerika dalam tahanan polisi hampir dua pekan lalu.

Demonstrasi menuntut keadilan rasial dan reformasi penegakan hukum sistemik pecah di kota-kota di seluruh Amerika dan terus terjadi setiap hari setelah kematian George Floyd pada 25 Mei di Minneapolis, negara bagian Minnesota. Pria Afrika-Amerika itu meninggal setelah polisi bernama Derek Chauvin menekan lututnya ke leher Floyd selama hampir 9 menit, sementara dia mengerang karena tidak bisa bernapas.

Kematian Floyd adalah yang terbaru dari banyak kematian di kalangan warga Amerika berkulit hitam dalam tahanan polisi.

Tak lama kemudian, dalam protes-protes di berbagai kota di seluruh dunia, orang-orang dari segala usia dan ras meneriakkan seruan "Saya tidak bisa bernapas," yang merupakan salah satu kalimat terakhir Floyd.

Di ibu kota AS, para demonstran yang damai berpawai di siang hari yang panas dan lembab di banyak tempat, serta di luar gedung Capitol dan sepanjang kawasan National Mall.

Wali Kota Washington D.C. Muriel Bowser berbicara sore hari di hadapan massa yang berkumpul di Plaza Black Lives Matter, di sebelah utara Taman Lafayette dan Gedung Putih. Sehari sebelumnya, Bowser meminta sejumlah seniman lokal untuk membuat tulisan "Black Lives Matter" dengan cat warna kuning sepanjang dua blok di 16th Street.

"Senang sekali melihat semua orang melakukan unjuk rasa damai, mengenakan masker," kata Wali Kota Bowser kepada massa, menurut The Hill. Dia juga menyerukan massa untuk lebih keras menuntut "lebih banyak keadilan dan lebih banyak perdamaian," kata laporan The Hill.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait