Alasan Rasisme dan Diskriminasi Masih Terjadi di Amerika Serikat

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 02 Jun 2020, 20:40 WIB
Diperbarui 01 Des 2020, 12:19 WIB
Demo Kematian George FLoyd Masih Berlanjut di AS
Perbesar
Seorang pria memegang skateboard bertuliskan nama George Floyd ketika berunjuk rasa dalam mendukung Floyd dan Regis Korchinski-Paquet dan protes terhadap rasisme, ketidakadilan dan kebrutalan polisi, di Vancouver (31/5/2020). (Darryl Dyck/The Canadian Press via AP)

Liputan6.com, New York - Ratusan orang melakukan protes di London dan Berlin pada Minggu 31 Mei 2020, dalam solidaritas dengan demonstrasi di Amerika Serikat atas kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd. Kematian Floyd karena tak bisa bernafas akibat lehernya ditekan lutut seorang polisi terekam dalam video yang kemudian viral.

Para pengunjuk rasa berlutut di Lapangan Trafalgar London pusat, meneriakkan "Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian", dan kemudian berbaris melewati Gedung Parlemen dan berakhir di luar Kedutaan Besar AS. Demikian seperti mengutip laman Channel News Asia.

Ratusan demonstran juga menggelar unjuk rasa di luar Kedutaan Besar AS di Berlin, memegang poster yang bertuliskan "Keadilan untuk George Floyd", "Berhentilah membunuh kami" dan "Siapa di belakang".

Kematian George Floyd telah memicu gelombang protes di Amerika Serikat, melepaskan kemarahan lama yang membara atas bias rasial dalam sistem peradilan pidana AS.

Lalu, apa yang menyebabkan masih banyak kasus rasisme di dunia terutama Amerika Serikat?

Menurut Robin DiAngelo dalam bukunya yang berjudul "White Fragility" menyebutkan bahwa orang kulit putih yang progresif sering mendefinisikan rasisme sebagai sesuatu yang jelas dan sikap keras, demikian dikutip dari laman splcenter.org, Selasa (2/6/2020).

Seperti ketika polisi memukuli demonstran hak sipil di Selma pada 1965. Faktanya, itu adalah tindakan yang sangat berbahaya.

"Dalam pengalaman saya, hari demi hari, sebagian besar orang kulit putih sama sekali tidak menerima alasan dalam buku itu dan tak mengetahui dampaknya pada orang lain," kata DiAngelo.

"Mereka bersikeras, 'ini bukan aku', atau mengatakan 'Aku melakukan yang terbaik, apa yang kamu inginkan dariku?'."

"Buku ini berpusat pada konteks kolonial barat kulit putih, dan dalam konteks itu orang kulit putih memegang kekuasaan institusional."

 

2 dari 3 halaman

Kerapuhan Orang Kulit Putih

FOTO: Kematian Pria Kulit Hitam Picu Kerusuhan di Minneapolis
Perbesar
Sejumlah wanita memegang spanduk saat unjuk rasa atas kematian George Floyd oleh polisi di dekat TKP di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, Rabu (27/5/2020). Mayoritas demonstran hadir sambil membawa spanduk bertuliskan "I Can't Breathe" dan "Justice 4 Floyd". (Kerem Yucel/AFP)

Tetapi selama 20 tahun melakukan pelatihan seputar ras dan keanekaragaman, DiAngelo telah menemukan bahwa orang kulit putih progresif yang mengatakan mereka ingin menjadi sekutu bagi orang kulit berwarna sering tidak nyaman karena dampak dari perilaku mereka sendiri.

DiAngelo mendefinisikan ini sebagai kerapuhan orang kulit putih yang rasis itu. Atau ketidakmampuan orang kulit putih untuk mentolerir tekanan ras.

"Saya ingin membangun stamina untuk mengatasi ketidaknyamanan sehingga kami tidak mundur menghadapinya, karena mundur menahan status quo, dan status quo adalah reproduksi rasisme," DiAngelo menjelaskan.

"Jika tidak ada yang rasis, mengapa rasisme masih menjadi masalah terbesar Amerika?"

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓