Selain Pandemi Corona, 5 Kejadian Ini Pernah Berdampak Fatal Bagi Muslim Dunia

Oleh Benedikta Miranti Tri Verdiana pada 24 Mei 2020, 20:10 WIB
Diperbarui 24 Mei 2020, 20:10 WIB
Mengintip Perayaan Lebaran Presiden Jokowi di Istana Bogor
Perbesar
Jokowi Pilih Tidak Mudik dan Rayakan Lebaran Idul Fitri di Istana Bogor (Foto: instagram/jokowi)

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Virus Corona COVID-19 telah memaksa adanya perubahan drastis di seluruh dunia. Banyak orang menjadi pengangguran, rencana perjalanan telah dibatalkan dan tempat-tempat umum pun menjadi kosong karena banyak yang harus bekerja dari rumah, serta menjaga jarak sosial dan mengisolasi diri.

Karena sebagian besar negara memberlakukan pembatasan pergerakan untuk mengekang penyebaran virus baru ini, pada satu titik diperkirakan 3 miliar orang berada dalam aturan lockdown. 

Kelompok-kelompok agama pun telah menyesuaikan diri dengan realitas baru, termasuk umat Muslim.

Pandemi Virus Corona COVID-19 akan membuat umat Muslim di dunia menjalani bulan suci Ramadan dengan cara-cara baru. Mulai dari menahan diri dari pertemuan sosial untuk berbuka puasa, meninggalkan doa bersama dan bahkan beramal dari kejauhan.

Di sebagian besar negara mayoritas Muslim, masjid-masjid telah ditutup dan salat Jumat pun telah ditangguhkan.

Umrah, yang berlangsung sepanjang tahun di Masjid Haram atau Masjid Agung di Mekah, Arab Saudi ikut ditangguhkan tanpa batas waktu.

Rupanya, kejadian semacam ini tidak terjadi untuk pertama kalinya.

Mengutip Al Jazeera, Minggu (24/5/2020), berikut adalah kejadian-kejadian yang pernah memberikan dampak signifikan bagi umat Muslim di dunia:

2 dari 6 halaman

1. Serangan Qarmatian, 930

Saudi Terkonfirmasi Corona, Begini Suasana Kota Makkah
Perbesar
Jemaah beristirahat di sajadah selama umrah di Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi, Senin (2/3/2020). Kementerian Kesehatan Arab Saudi telah mengumukan pada Senin 2 Maret 2020 telah menemukan adanya kasus Virus Corona pertama warga negara Saudi yang kembali dari Iran melalui Bahrain. (AP Photo/Amr

Ibadah tahunan haji dibatalkan setelah pemimpinSsuku Qarmatian, yang berbasis di Arab timur (sekarang Bahrain), menyerang Makkah dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Puluhan ribu orang, sebanyak 30.000 menurut beberapa akun, terbunuh dalam kejadian itu

"Serangan Qarmatian adalah insiden penting ... itu adalah momen yang cukup besar dalam sejarah Islam",  ujar Umar al-Qadri, seorang sarjana Islam dan kepala imam di Islamic Centre of Ireland di Dublin, mengatakan kepada Al Jazeera.

"Abu Tahir al-Jannabi, yang memimpin serangan itu, tidak hanya menyerang Makkah dan salat ditunda, [dia] juga tidak menghormati simbol-simbol Islam yang sangat sakral," tambahnya.

Batu Hitam, sekelompok batu di sudut Ka'bah, dijarah dan potongan-potongan itu dicuri.

Kelompok itu juga menodai Sumur Zamzam yang suci, yang dekat dengan Ka'bah, dengan melemparkan mayat jemaah yang terbunuh.

Setelah serangan itu, ibadah haji pun terpaksa ditunda. Batu Hitam yang dicuri akhirnya dikembalikan ke Makkah sekitar 20 tahun kemudian.

3 dari 6 halaman

2. Wabah Kolera, abad ke-19

Penyakit Kolera, Kenali Ciri-Ciri
Perbesar
(Sumber: iStockphoto)

Wabah kolera yang pernah terjadi selama beberapa kali sepanjang abad ke-19 menghasilkan penangguhan haji, termasuk haji pada tahun 1837 dan 1846.

Setelah penyakit itu kembali pada 1865 di Hejaz, sebuah wilayah di Arab Saudi yang mencakup Mekah, sebuah konferensi internasional diadakan di Konstantinopel, Istanbul modern.

Pada oertemuan tersebut, diputuskan bahwa port karantina akan didirikan di tempat-tempat seperti Sinai dan Hijaz untuk membantu membatasi penyebaran penyakit.

Dalam kurun waktu antara tahun 1830 hingga 1930, setidaknya ada 27 wabah kolera di antara jamaah haji di Mekah.

4 dari 6 halaman

3. Perebutan Masjid Agung, 1979

Menikmati Keindahan Masjid Agung Sheikh Zayed Saat Matahari Terbenam
Perbesar
Matahari terbenam di belakang Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (8/11/2019). Masjid ini adalah masjid terbesar ketiga di dunia setelah masjid di Mekkah dan Madinnah. (AFP Photo/Kamran Jebreili)

Sebuah kelompok bersenjata Saudi yang terdiri dari 400 hingga 500 orang merebut Masjidil Haram pada bulan November dan Desember 1979. Kejadian ini pun kemudian memaksa penutupan masjid setidaknya selama dua minggu.

Pengambilalihan tersebut dipimpin oleh seorang mantan tentara Saudi, Juhaiman bin Muhammad ibn Sayf al-Otaybi, yang mengkritik keluarga kerajaan yang berkuasa, dan menyerukan agar kembali ke apa yang dianggapnya Islam asli.

Pengepungan akhirnya berakhir setelah pasukan Saudi merebut kembali masjid, dan dibantu oleh unit polisi taktis Prancis.

5 dari 6 halaman

4. Wabah Ebola, 2014

Petugas kesehatan membantu menyiapkan peralatan penanganan Ebola di Republik Demokratik Kongo (AFP/Mark Naftalin)
Perbesar
Petugas kesehatan membantu menyiapkan peralatan penanganan Ebola di Republik Demokratik Kongo (AFP/Mark Naftalin)

Ketika wabah Ebola memuncak pada awal 2010-an, negara-negara di seluruh dunia mengambil langkah-langkah untuk menangguhkan penerbitan visa untuk beberapa negara Afrika barat, sebagai pusat virus.

Pada 2014, Arab Saudi untuk sementara berhenti mengeluarkan visa umrah dan haji untuk warga Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Wabah tersebut telah menewaskan lebih dari 11.000 orang.

6 dari 6 halaman

5. Perang Suriah, 2016

FOTO: Suasana Hari Raya Idul Fitri di Berbagai Negara
Perbesar
Anak-anak berfoto dengan senapan mainan dekat reruntuhan rumah yang hancur saat mereka merayakan Hari Raya Idul Fitri di Desa Kafr Nuran, Aleppo, Suriah, Minggu (24/5/2020). Anak-anak Suriah melewati Idul Fitri tahun ini masih dalam kondisi perang saudara. (AAREF WATAD/AFP)

Pada 29 April, ibadah salat Jumat dibatalkan  di kota Aleppo, Suriah, setelah serangkaian serangan udara yang dipimpin pemerintah yang menyebabkan masjid-masjid hancur.

Dewan agama meminta warga Aleppo untuk menjauh dari masjid. Hal itu menjadi pertama kalinya ketika langkah seperti itu diambil.

"Untuk pertama kalinya di kota tertua di dunia, kota Islam Aleppo, dewan agama telah memutuskan untuk membatalkan salat Jumat karena perang brutal terhadap kehidupan manusia," menurut sebuah pernyataan bersama.

"Ini untuk menyelamatkan orang-orang yang telah menjadi target rezim [pemerintah] dan menyelamatkan orang lain dalam pembantaian ini."

Lanjutkan Membaca ↓