23 Mei, Hari Internasional untuk Mengakhiri Fistula pada Ibu Melahirkan

Oleh Liputan6.com pada 23 Mei 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 23 Mei 2020, 18:00 WIB
[Fimela] Ibu Hamil

Liputan6.com, Jakarta - Fistula kebidanan merupakan salah satu cedera yang paling berbahaya yang dialami ibu hamil saat melahirkan di seluruh dunia. Oleh karenanya, PBB --sejak 2013-- menjadikan tanggal 23 Mei sebagai hari internasional untuk memperingati, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menghentikan fistula kebidanan ini.

Bebearapa efek fistula adalah, ibu hamil akan memiliki kesulitan saat membuang air seninya. Tak hanya itu, setelah ibu melahirkan, dirinya akan berpotensi mengalami infeksi dan gangguan kesehatan lainnya. Di beberapa negara yang masih berkembang, wanita dengan kondisi ini akan dijauhi oleh masyarakat, seperti yang dikutip dari UNFPA pada Sabtu (23/05/2020). 

Masalah ini dianggap serius oleh PBB. Seperti dikutip dari UN.org, setidaknya 50,000 hingga 100,000 perempuan di seluruh dunia mengalami fistula kebidanan. Sekitar 800 perempuan dilaporkan meninggal setiap harinya pasca-melahirkan dan 20 perempuan mengalami morbiditas ibu.

Apa itu Fistula Kebidanan?

Fistula kebidanan ini adalah lubang abnormal yang terdapat di antara saluran genital perempuan dan saluran kermihnya, atau rektum yang disebabkan oleh persalinan yang lama dan terhambat tanpa adanya pengobatan. 

Biasanya gejala fistula kebidanan ini terjadi pasca melahirkan, tak hanya itu, perempuan dengan fistula kebidanan ini dapat mengalami masalah psikologi. Masalah psikologi ini biasanya terjadi akibat stigmatisasi sosial oleh keluarga dan orang sekitar. 

Namun fistula kebidanan ini dapat diobati dengan biaya US$ 600, termasuk perawatan pasca operasi dan dukungan rehabilitasi.

2 dari 3 halaman

Tema Kampanye 2020

Ibu hamil
Ilustrasi (iStock)

Peringatan tahun ini menyampaikan pesan yang jelas: "Akhiri ketidaksetaraan gender! Akhiri ketidakadilan kesehatan! Akhiri Fistula sekarang!". Wanita dan anak perempuan yang berisiko hidup dengan fistula menghadapi hambatan struktural dan sistemik untuk perawatan sebelum pandemi.

Ketika sistem kesehatan di seluruh dunia berjuang untuk mengatasi tanggapan COVID-19, risiko layanan kesehatan seksual dan reproduksi dikesampingkan. Penolakan atau kurangnya akses ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi sangat menghancurkan bagi perempuan dan anak perempuan yang sudah berhadapan dengan hambatan ekonomi, sosial, budaya dan logistik.

Pandemi ini memperdalam ketidaksetaraan yang sudah ada sebelumnya (termasuk ketidaksetaraan gender), mengungkap kerentanan dalam sistem sosial dan ekonomi yang pada gilirannya memperkuat dampak pandemi.

Ketika pertempuran melawan pandemi COVID-19 terus berlanjut, upaya untuk mengakhiri fistula harus dilanjutkan. Penyediaan layanan kesehatan kandungan berkualitas universal, termasuk jumlah bidan yang kompeten dan ahli bedah fistula yang memadai untuk menghadiri wanita yang sudah terkena, harus menjadi prioritas. Layanan pencegahan, perawatan, dan tindak lanjut fistula harus diberi perhatian tinggi selama pandemi.

Menanggapi dampak COVID 19 pada layanan kesehatan ibu (ketika sumber daya kesehatan dialihkan dan unit bersalin ditutup), UNFPA, badan kesehatan reproduksi dan seksual PBB, tetap dan akan tetap berkomitmen dengan program-programnya dalam melindungi tenaga kesehatan kandungan, menyediakan perawatan kehamilan yang aman dan efektif untuk wanita dan bayi mereka dan menjaga dan melindungi sistem kesehatan kandungan.

 

Reporter: Yohana Belinda

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓