Cerita Remaja AS Jalani Puasa Ramadan Saat Pandemi Corona COVID-19

Oleh Natasha Khairunisa Amani pada 16 Mei 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 16 Mei 2020, 13:00 WIB
AS Setop Perjalanan dari Eropa

Liputan6.com, Jakarta - Dalam sesi diskusi virtual bertemakan "Virtual Ramadan Talk" yang digelar oleh Kedutaan Besar AS di Jakarta pada Jumat 15 Mei 2020, dua remaja muslim di AS membagikan pengalaman mereka selama menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan dan halangan apa saja yang mereka alami saat pandemi Virus Corona COVID-19 masih berlangsung di negeri Paman Sam.  

Kedua remaja asal AS tersebut adalah Yuhaniz Aly, dari Seattle, negara bagian Washington, dan Muhammad Muhanna dari Dallas, negara bagian Texas. 

Sama seperti di Indonesia, dengan adanya aturan social distancing (atau yang kini disebut sebagai physical distancing), sebagian besar komunitas muslim di lingkungan tempat tinggal Yuhaniz dan Muhammad tidak menggelar atau mengikuti kegiatan berkumpul bersama demi mencegah penyebaran virus.

Dengan masjid yang ditutup di wilayah tempat tinggalnya, Yuhaniz mengatakan bahwa tetap adanya layanan kegiatan yang diberikan secara virtual bersama imam masjid. 

Muhammad menceritakan mengenai perayaan Idul Fitri yang akan segera datang dalam beberapa hari lagi, tentang semua masjid di kotanya yang sedang ditutup karena Virus Corona COVID-19. Maka dari itu, ia mengatakan tidak adanya rencana untuk melakukan ibadah sholat ied di masjid pada lebaran tahun ini. 

Meskipun begitu, Muhammad mengatakan ia dan keluarga akan tetap merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan makan bersama. 

Selama 16 jam berpuasa, Yuhaniz mengatakan bahwa saat ini ia tidak begitu kesulitan untuk menjalaninya, dengan cuaca di Seattle yang tidak terlalu panas.

Tentang musim terbaik di AS untuk berpuasa, Yuhaniz mengatakan bahwa ia lebih menyukai puasa di musim semi, karena cuaca saat musim itu tidak terlalu panas.

2 dari 4 halaman

Pengalaman Bekerja di Rumah Sakit Saat Berpuasa

FOTO: Kasus Corona di Amerika Serikat Tembus 1 Juta
Layar menunjukkan ucapan terima kasih terhadap petugas kesehatan terlihat di Times Square, New York, AS, Senin (27/4/2020). Menurut Center for Systems Science and Engineering di Universitas Johns Hopkins hingga 29 April 2020 WIB, jumlah kasus COVID-19 di AS melampaui 1 juta. (Xinhua/Michael Nagle)

"Ramadan ini, saya bekerja di rumah sakit dan saya melihat banyak pasien dengan Virus Corona. Jam kerja saya setiap hari berbeda, mungkin sekitar 9 jam untuk per hari, " kata Muhammad Muhanna. 

Muhammad lalu melanjutkan, bahwa biasanya ia harus makan saat berbuka di saat masih bekerja, dan itu dikatakan sangat sulit karena tidak ada waktu spesifik untuk menyempatkannya.

Muhammad juga menceritakan bahwa ia pernah hanya makan sedikit dan kembali bekerja setelahnya.  

Saat memberikan tips untuk pelajar Indonesia yang berpuasa di AS, juga mereka yang baru saja menjalankannya pertama kali di negeri Paman Sam tersebut, Muhammad menyampaikan pentingnya untuk bersemangat, karena akan adanya lingkungan dengan teman - teman atau di pekerjaan, dimana mereka mungkin tidak sedang berpuasa. 

3 dari 4 halaman

Alumni Program Belajar di Indonesia

Ilustrasi mahasiswa
Ilustrasi belajar berkelompok (iStockphoto)

Yuhaniz Aly dan Muhammad Muhanna, adalah alumni program dari Pemerintah AS yang bernama "National Security Language Initiative for Youth."

Pogram tersebut adalah pengalaman yang diberikan oleh Pemerintah AS untuk berkunjung ke suatu negara untuk mempelajari tradisi dan budaya dari negara yang dikunjungi para peserta program itu, kata Kedubes AS Jakarta. 

Saat sesi diskusi hingga tanya jawab, Muhammad pun dengan lancar berbicara bahasa Indonesia dengan pembawa acara dari Kedubes AS Jakarta.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓